Tanpa KTP, Kejujuran Tak Berlaku

Ilustrasi KTP elekstronik. Dikutip dari Elevania blog.

Kartu Tanda Penduduk (KTP) Adalah sesuatu yang “sakral” di Aceh. Sejujur apapun Anda, tanpa KTP, Anda adalah orang yang tidak jujur. Semenjak lama, hal itu sudah berlaku di Aceh. Sejak perang hingga 13 tahun perdamaian.

KTP adalah nyawa kedua, tanpa membawa kartu tersebut, bukan hanya kehilangan peluang, tapi Anda berpotensi kehilangan nyawa. Di Aceh, betapa banyak orang menjemput ajal, hanya gara-gara KTP. Itu dulu, ketika negeri ini berkonflik dengan Pemerintah Pusat. Perilaku aparat pemerintah dan kombatan sama saja, KTP adalah alat ukur keabsahan seseorang. Tidak jarang pula yang ber-KTP saja bisa mati, konon lagi yang tidak punya.

Tanpa KTP Anda adalah pembohong, penipu, mata-mata, agen pemerintah, cuak, separatis. Anda layak dicurigai bahkan layak untuk dihilangkan tanpa harus melalui pemeriksaan pengadilan. Keadilan adalah miliknya mereka yang berkartu.

Ketika damai sudah terajut, Di sebuah daerah tempat wisata di Aceh, saya pernah mengalami pengalaman buruk. Dari beberapa hotel yang sempat kami datangi, semua menolak kami dengan wajah penuh curiga. KTP saya dan istri alamatnya berbeda. Ini ada kaitannya dengan korupsi E KTP di masa Pak SBY jadi Presiden R. Ketika usai menikah saya mengurus KTP baru, petugas menolak dengan dalih blangko KTP tidak tersedia.

“Buku nikah?” tanya resepsionis.

Kami tak membawanya. Saya mencoba menunjukkan foto pernikahan kami, foto peresmian perkawinan kami. Mereka menolak, tetap dengan tatapan tidak suka. Kepada kami mereka mengatakan, bila Polisi Syariat datang, mereka hanya butuh dokumen, bukan persaksian, konon lagi sumpah.

Pada hotel ketiga, istri saya sudah merah mukanya, nyaris ia menangis. Hotel keempat menerima kami, setelah saya yakinkan bahwa kami suami dan istri. Tapi melalui hubungan telepon antara resepsionis dan owner penginapan, mereka tetap menaruh curiga. KTP saya ditahan. Di dalam kamar istri saya menangis. Setelah mandi, kami check out. Wajah-wajah beberapa pemuda yang duduk di loby semakin curiga.

“Ketimbang digerebek ketika sudah bermalam, lebih baik check out, kata saya di dalam hati.”

Akhirnya saya menelpon kenalan yang ada di wilayah itu. Dia mengundang kami menginap di rumahnya. Suasana hati istri saya sudah tidak enak. Liburan kami kali itu rusak sudah. Walau tetap kami menginap di rumah kenalan, keceriaan di wajah istri hanya tersisa 50 persen.

***
Ada pelajaran menarik di sini, pertama, bila ingin selingkuh, maka selingkuhlah dengan tetangga satu kampung, lebih pas lagi satu lorong. Karena ukuran benar atau tidak adalah — bila tanpa buku nikah– adalah KTP.

Kedua, mengapa pula selalu saja ada pasangan yang bisa lolos ngamar padahal bukan suami istri, alamat KTP berbeda, tanpa buku nikah, serta tidak memiliki foto pernikahan? Lewat cara apa mereka bisa “lulus ujian” tersebut? Bahkan yang sudah ditangkap sekalipun karena berteman terlalu akrab di dalam kamar hotel, hingga sempat bercanda ke area terlarang, walau sudah tertangkap, tidak dicambuk? Saya tidak tahu.

***
Kini saya bebas kemana-mana bersama istri. KTP kami sudah satu alamat. Blangko kosong di masa SBY sudah tertangani di masa Pak Jokowi.

Bagi Anda yang ingin berlibur ke Aceh dengan pasangan yang sah, maka lengkapi dokumen pribadi, pastikan alamat Anda sama dengan pasangan. Bila tidak, segera urus. Bilapun tidak sempat urus, kalaupun bukan menunda ke Aceh, ya minimal carilah informasi bagaimana pasangan ilegal bisa menembus masuk ke kamar hotel. Jangan minta ke saya, karena saya tidak mengenal mereka.

KOMENTAR FACEBOOK