Melirik Pendidikan Anak Difabel di China

Muhammad Sahuddin, S.Sos.I, S.Pd, M.Ed (Ist)

Oleh Muhammad Sahuddin, M.Ed*)

Ketika orang menyebutkan negara China maka orang-orang lantang mengingatnya Tembok Raksasa (Great Wall). Kenapa tidak, Tembok Raksasa itu dibangun sekitar tahun 220 Sebelum Masehi oleh Dinasti Qin, dengan tujuan menahan serangan musuh dari utara China. Tembok Raksasa China salah satu keajaiban dunia yang menjadi tempat tujuan para penghobi traveling. Tidak heran bila sosok Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa bulan yang lalu dalam kunjungan kerjanya menyempatkan diri mengunjungi tembok tersebut.

Namun siapa tahu di balik itu China memiliki sistem pendidikan yang bagus bagi rakyatnya. Tidak hanya kepada anak normal, namun juga bagi anak berkebutuhan khusus (children with disabilities) . Di negara China memiliki sistem pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus yang sangat baik, setelah diterbitkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional China Tahun 1986 yang menyatakan semua anak memiliki hak yang sama dalam pendidikan.

Dalam mewujudkan cita-cita pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, Pemerintah China memperbaiki sistem pendidikan untuk memberikan hak bagi anak berkebutuhan khusus agar dapat bersekolah di sekolah normal, tidak hanya di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Model pembelajaran yang digunakan adalah Lerning in Reguler Classroom (LRC) dalam bahasa China disebut Suiban Jiudu (随伴就读). Melalui model pembelajaran ini, setiap anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama dengan anak normal lainnya di sekolah reguler. Jadi setiap anak berhak sekolah di sekolah yang terdekat dengan tempat tinggalnya.

Melalui model pemebelajaran Learning in Reguler Classroom partisipasi anak berkebutuhan khusus dalam belajar di sekolah normal pada tahun 2004 telah mencapai 64%  dari jumlah keseluruhan anak berkebutuhan khusus di China. Saat ini angka partisipasi anak berkebutuhan khusus terus bergerak semakin baik dalam kesempatan belajar secara bersama-sama di sekolah reguler (Iim Imandala, 2017).

Upaya meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler terus dilakukan dengan bermacam layanan inovasi, berupa disediakannya kelas khusus bagi anak berkebutuhan khusus yang memiliki hambatan berat di sekolah reguler. Juga membuat kerjasama dengan Sekolah Luar Biasa  dan tenaga ahli di bidang anak berkebutuhan khusus.

Tidak hanya itu saja upaya yang dilakukan, peningkatan kompetensi bagi guru juga terus dilakukan. Guru dikirim ke universitas pendidikan untuk menambakan pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus.

Proses perbaikan kelemahan terus berlanjut di Negeri Tirai Bambu. Semua pemangku kepentingan pendidikan saban hari bekerja keras, sehingga kualitas pendidikan anak berkebutuhan khusus bisa terwujud lebih baik lagi.

Melihat China melakukan revolusi pendidikannya, sepercik harapan dari saya timbul di hati saya. Di Aceh selama ini saya lihat rata-rata di setiap kabupaten hanya memiliki satu Sekolah Luar Biasa. Bahkan masih ada kabupaten yang belum memiliki SLB seperti Kabupaten Aceh Selatan dan Kota Subussalam. Semoga dengan adanya semangat Aceh Carong mampu mengakomodir semua anak berkebutuhan khusus di Aceh untuk dapat bersekolah.

*)Penulis Merupakan Guru SMPLB N Susoh, PhD (Cand) Nanjing Normal University, China.

KOMENTAR FACEBOOK