China dan Aceh Telah Berdagang Sejak Abad XVII

ACEHTREND.COM- Kehadiran kapal-kapal China di pelabuhan-pelabuhan di Sumatera bagian utara sekurang-kurangnya sudah dicatat pada awal abad XV. Seperti yang disaksikan oleh laporan-laporan yang dibuat sesudah ekspedisi Cheng Ho ke lautan selatan.

Kerajaan Aceh masih sampai lama menyimpan kenangan akan kunjungan Cheng Ho yang termasyur itu yaitu sebuah genta besar yang ada tulisan berhuruf Arab dan tulisan lain berhuruf China dengan sebutan tahun 1409; boleh jadi genta tersebut orang Aceh waktu berhasil mengalahkan Samudra Pasai dan digantung sebagai tanda kemenangan di kediaman sultan.

Vieltman mengatakan telah melihat genta itu pada tahun 1919. Dalam bukunya Land en Volk van Atjrh, Hollandia druk, 1939, J. Jongejens berkata bahwa bahwa genta itu digantungkan di bawah tempat perlindungan “gaya Aceh” di pintu Museum di Kutaraja.

Denys Lombard, dalam buku: Kerajaan Aceh Pada Masa Iskandar Muda (1607-1636), yang terbit pertama kali di Perancis pada 1967, menuliskan bahwa dalam sebuah peta laut Cina yang agaknya tidak mungkin dari abad XVII, ada pemerian yang bagus mengenai jalan dari Banten ke Aceh melalui barat Sumatera. Juga mengenai jalur lintasan dari Aceh ke Malaka dan India.

Ini merupakan suatu bukti yang bagus bahwa sedini mungkin para pedagang China datang berdagang di persimpangan besar Sumatera. Tong -hsi-yang-kao yang ditulis pada 1618 mengetahui kejadian-kejadian di Aceh dari beberaa dasawarsa sebelumnya dan mencatat betapa pelabuhan tersebut menarik para pedagang:”Oleh sebab karena negeri itu jauh letaknya, mereka yang mendatanginya berganda keuntungannya”. Hal itu didukung pula oleh Kronik Kerajaan Ming.

Dalam catatan bangsa Eropa juga menyebutkan kehadiran para pedagang China di Aceh. Di Aceh, kata Davis yang kemudian dikutip oleh Beaulieu, bahwa pedagang China banyak sekali (di Aceh-red). Mereka mempunyai kampung sendiri seperti bangsa Portugis, Gujarat dan Arab. Pemandu Inggris itupun berteman akrab dengan seorang pedagang China yang pandai bicara dengan bahasa Spanyol.

Beaulieu juga mencatat adanya orang China dan kebiasaan mereka untuk menggunting pinggiran mata uang mas. Dalam P. Mundy, jilid II, hlm. 338.

P. Mundy juga mencatat melimpahnya barang-barang China yang beberapa di antaranya dimaksud untuk diekspor kembali ke India. Khusus yang disebut dalam Adat Aceh hanyalah tembakau yang berasal dari China (Bakong China sekerancing) atau tembakau Cina dalam keranjang.

Tetapi boleh diperkirakan bahwa orang China baru memegang peranan besar dalam paruh kedua abad XVII. Demikianlah agaknya yang dibayangkan oleh Dampier yang indah sekali pada tahun 1688. “Orang China itu dari semua pedagang yang berdagang di sini merupakan yang paling hebat; ada beberapa yang tinggal di sini sepanjang tahun; tetapi yang lain hanya datang sekali setahun. Yang belakangan ini kadang-kadang datang pada bulan Juni pada 10 atau 12 kapal layar yang mengangkut beras banyak sekali dan beberapa bahan lain.

Terkait beras yang banyak didatangkan dari China, jadi Aceh yang selalu harus memikirkan keperluannya akan beras, mengimpornya dari Tiongkok pada waktu itu.

Pedagang China itu, mereka semuanya mengambil rumah yang berdekatan satu sama lainnya, di salah satu ujung kota, di dekat laut, dan daerah mereka itu dinamakan Kampung China. Karena di sanalah mereka selalu tinggal dan mereka turunkan barang mereka untuk dijual. Ada beberapa pengrajin yang datang dengan kapal-kapal tersebut seperti umpamanya tukang kayu, tulang meubel, tukang cat, dan begitu sampai, mulailah bekerja dan membuat koper, peti uang, lemari dan segala macam karya kecil dari China; serta selesai, mereka pamerkan di toko atau di depan pintu rumah untuk dijual.

Maka selama dua bulan atau dua bulan setengah berlangsunglah “pasar China” itu. Toko-toko penuh sesak dengan barang dan semua orang datang membeli atau main judi. Makin banyak barang terjual, makin sedikit tempat yang mereka tempati dan makin sedikit rumah yang mereka sewa…; makin sedikit penjualan mereka, main gencar permainan judi mereka.” Pada akhirnya, kira-kira penghujung September, mereka kebanyakan kembali ke kapal dan meninggalkan “kampung” mereka lengang. Dalam catatannya, Dampier menyebutkan bahwa waktu ia singgah, Kepala Kampung China telah masuk agama Islam “untuk melancarkan usaha”.

Dikutip dari buku: Kerajaan Aceh yang ditulis oleh Denis Lombard dan diterjemahkan Winarsih Arifin dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, 1986.

KOMENTAR FACEBOOK