Menyelamatkan Inong Aceh dari Kristenisasi

Para ibu di Aceh, dan calon ibu di Aceh dalam kondisi terancam. Khususnya mereka yang berada di kelas sosial akar rumput: miskin; bodoh; terlupakan; diabaikan; lapar; tak berdaya. Mereka adalah lahan kosong bagi para misionaris Kristen untuk diconvert ke dalam iman mereka. Bukan dengan pemaksaan, tapi dengan bujuk rayu dan fasilitas, yang tidak pernah dirasakan oleh mereka yang miskin: uang banyak, tidur di hotel, dibawa jalan-jalan dan dijanjikan masa depan.

Kita pantas terkejut–dan seharusnya malu– bahwa seorang remaja putri Aceh, berinisial AS, masih duduk di bangku SMP, telah menjadi penginjil yang sangat alim. Ia mampu menguasai dialektika kekristenan dengan sangat luar biasa. Bahkan saking sudah sangat profesional, orangtuanya sendiri tidak tahu bila ia telah berpindah agama yang difasilitasi oleh N Sihombing, seorang wanita asal Sumatera Utara, juga sudah cukup lama menetap di Aceh dan mengelola yayasan serta bisnis travel.

Andaikan guru di sekolah tempat AS menuntut tidak peka, saya yakin pemurtadan yang sudah berjalan lama itu tidak akan terbongkar. Kita patut bersyukur dan berterima kasih, Pak J, seorang kepala sekolah SMP di Banda Aceh, all out berjuang membongkar kasus tersebut. Andaikan dia dan guru di sana tidak ambil peduli, sungguh kelak AS akan mampu mempengaruhi lebih banyak orang untuk berpindah keyakinan, tanpa kita sadari.

AS adalah contoh terbaru bahwa ada ruang kosong yang terbiarkan tidak terurus di Aceh. Mereka yang hidup dalam kondisi miskin secara ekonomi, secara otomatis juga akan miskin ilmu, khususnya ilmu agama. Mereka yang miskin ilmu tentu bodoh, dan kebodohan adalah pintu gerbang bagi para misionaris untuk “bercocok tanam”.

Pemurtadan bila diibaratkan dengan hukum dagang, tentu akibat ada suply and demand. Ada kebutuhan yang harus diisi, ada kekosongan yang bisa dimasukkan sesuatu.

Tujuh orang warga Aceh yang disyadatkan kembali oleh Tim Arimatea Aceh beberapa waktu lalu–enam orang wanita, bila dilihat dari sisi statistik tentu hanya sebuah angka biasa, angka kecil, dibanding lima juta rakyat Aceh. Tapi bila dilihat dari sisi aqidah, ini sebuah bahaya laten. Sesuatu yang sangat berbahaya.

Ibu-ibu miskin yang hidup tanpa perhatian, yang dibiarkan berjuang sendiri, merupakan lahan paling mujarab untuk dipengaruhi. Rasa putus asa atas kemiskinan dan ketidakpedulian sosial, serta kekecewaan mereka yang terus menerus adalah jalan mudah bagi para pelaksana misi zending untuk dibujuk dan kemudian diarahkan berganti iman. Misi ini tentu sangat halus. Seakan-akan tanpa paksaan, serta dengan rasa penuh “kasih sayang”.

Momen peringatan Hari Ibu pada 22 Desember 2018, di Aceh harus dicatat dengan tinta merah. Ibu yang merupakan madrasah pertama bagi kekuatan sebuah peradaban, telah berhasil diporak-porandakan oleh pihak luar dengan memanfaatkan kelemahan kita sendiri.

Apa yang ditemukan oleh Pak J–sila baca laporan aceHTrend tentang itu– adalah sebuah fenomena gunung es. Yang tidak terbongkar justru lebih banyak ketimbang yang terkuak. Pemurtadan yang tidak berhasil dibongkar lebih besar ketimbang yang sukses untuk dibuka ke publik. Jikalau boleh dikata, terbongkarnya pemurtadan oleh N Sihombing, hanyalah karena human error yang dilakukan oleh AS, karena ia telah terlalu sering menolak membaca Quran dengan alasan haid dan juga menolak secara permanen kelas diniyah sore hari dengan dalih les bahasa Inggris di luar sekolah.

Mengakhiri catatan ini, saya ingin mengatakan bahwa kekuatan saling melindungi, saling membantu serta saling peduli yang ratusan tahun dilakukan oleh orang Aceh, telah rubuh. Kehancuran pondasi kepedulian sosial ini telah sangat akut, sehingga tidak mampu lagi mendeteksi sesuatu yang krusial. Perilaku nafsi-nafsi, kah-kah ke-ke yang kini menjadi trend, sudah pun merusak diri sendiri.

Program Aceh Troe, Aceh Carong uang dicanangkan oleh Pemerintah Aceh, ke depan haruslah dilaksanakan secara serius dan terukur. Aceh Troe harus mampu mengenyangkan perut rakyat miskin, Aceh Carong harus mampu mengeluarkan rakyat Aceh dari kebodohan. Karena dengan kenyang dan pintar, seseorang akan terhindar dari klo priep (keras kepala tanpa ukuran, bandel tanpa batas). Kelak akan menjadi imun sosial untuk terhindar dari pemurtadan.

Satu lagi, N Sihombing harus ditangkap dan dihukum. Melakukan kristenisasi di wilayah umat yang sudah beragama bertentang dengan Undang-undang. Aparat negara harus pro aktif, sebelum kondisi semakin memburuk.

KOMENTAR FACEBOOK