Tetap Tenang, Puisi Mata Hitam untuk Anak Krakatau Ini Menarik Perhatian Netizen

“Kami tahu kau merindukan ibumu. Tapi tolong hentikan tangisanmu, jika kau terus menangis maka ribuan manusia akan ikut menangis. Tetaplah tenang.”

Twit dalam nuansa puisi itu menarik perhatian netizen. Akibatnya, twit dari akun @triyulianaaa terus di retwet. Sampai saat ini sudah di retwet oleh 3 ribu lebih pemilik akun di twitter.

Sebagaimana banyak diwartakan, sebelum terjadinya tsunami di Selat Sunda, terjadi letusan gunung anak krakatau yang menimbulkan erupsi pada 22 Desember 2018 sekitar pukul 21.27 Wib.

“Secara visual, teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300-1.500 meter di atas puncak kawah. Secara kegempaan, terekam gempa tremor menerus dengan amplitudo overscale (58 mm),” demikian keterangan tertulis dari Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Rudy Suhendar, yang diterima Minggu (23/12).

Namun, apakah tsunami Selat Sunda dipicu oleh letusan atau erupsi, masih menjadi kajian pihak-pihak terkait.

Seorang saksi mata tsunami Selat Sunda, Federal Hendi Alfatih mengatakanGunung Anak Krakatau meletus berulang kali sebelum tsunami menerjang kawasan Anyer, Banten pada Sabtu malam, 22 Desember 2018. Pegiat komunitas sepeda Bike Camp Ceria itu mengatakan gunung meletus berkali-kali terjadi sejak Sabtu siang.

“Suaranya keras kayak gledek, letusannya kelihatan sampai ke Anyer,” kata dia Ahad, 23 Desember 2018.

Letusan gunung anak krakatau itu mengingatkan banyak orang pada letusan dahsyat krakatau 1883 yang disebut ibunya bagi anak krakatau.

Menurut Wikipedia, Letusan Krakatau 1883 terjadi di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), yang bermula pada tanggal 26 Agustus 1883 (dengan gejala pada awal Mei) dan berpuncak dengan letusan hebat yang meruntuhkan kaldera.

Pada tanggal 27 Agustus 1883, dua pertiga bagian Krakatau runtuh dalam sebuah letusan berantai, melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya. Aktivitas seismik tetap berlangsung hingga Februari 1884.

Letusan ini adalah salah satu letusan gunung api paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkannya. Dampak letusan ini juga bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia.

Energi yang dilepaskan dari ledakan diperkirakan setara dengan 200 megaton TNT, kira-kira hampir empat kali lipat lebih kuat dari Tsar Bomba (senjata termonuklir paling kuat yang pernah diledakkan).

“Kami tahu kau merindukan ibumu. Tapi tolong hentikan tangisanmu, jika kau terus menangis maka ribuan manusia akan ikut menangis. Tetaplah tenang.” Sumber: https://t.co/EUXWLAcC2c

KOMENTAR FACEBOOK