Jika Tgk Agam Tidak Pulang, Apa Pilihan Terbaik? Begini Jawaban Akmal Ibrahim

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Aceh perlu gagasan dan figur baru, dua hal yang dinilai ada pada Tgk Agam.

Hal itu dilontarkan intelektual kampus, Saiful Mahdi melalui beranda facebooknya, 16 Desember 2018.

Tgk Agam adalah nama tenar Irwandi Yusuf, Gubernur Aceh non aktif yang terkenal dengan slogan pembangunan Aceh Hebat.

Pilot pesawat pribadi jenis Shark Aero yang diberinama Hanakaru Hokagata itu juga dikenal sebagai pemegang “mazhab hana fee” dalam hal urusan proyek pembangunan alias tidak boleh memungut fee apapun.

Kini, status Irwandi Yusuf sebagai gubernur adalah non aktif. KPK melakukan OTT pada Selasa (3/7). Irwandi diduga terlibat dalam kasus korupsi dana otonomi khusus Aceh tahun anggaran 2018.

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah bersama Bupati Abdya Akmal Ibarahim saat meninjau rakit Krueng Teukueh malam hari

Gaya kepemimpinan Irwandi Yusuf yang keras dan bahkan “siap meupake” masih dirindui, khususnya oleh para pendukung.

Tidak sedikit pula yang percaya bahwa Aceh Hebat hanya bisa dicapai jika ada Irwandi Yusuf atau ada sosok dengan gagasan dan figur baru, seperti yang ada pada Irwandi Yusuf.

Status Saiful Mahdi itu memantik komentar, salah satunya datang dari Akmal Ibarahim, wartawan senior yang kini menjadi Bupati Aceh Barat Daya.

“Mencari figur, pasti ada yg pro dan kontra. Tapi pertanyaan besar yang logis dan mendesak, apa pilihan-pilihan bagi Aceh setelah peristiwa Tgk Agam,” tanya Akmal memulai komentarnya.

Menurut Akmal, pertanyaan itu menarik direnunhkan di tengah Aceh yang larut dalam tiga trauma besar, yaitu trauma konflik, trauma tsunami, dan terakhir trauma hukum, yang membuat Pemerintah Aceh kadang serba salah, bahkan terkadang terkesan lumpuh, atau bahkan mati suri.

Bupati Abdya Akmal Ibrahim sedang menjelaskan keadaan Jembatan Krueng Teukueh kepada Plt Gubernur Aceh agar dapat kembali dilanjutkan pembangunannya.

“Selama ini kita cenderung saling menyalahkan, menimbulkan gesekan, bahkan permusuhan dalam lalulintas kepentingan, yang saling membenturkan,” tambahnya.

Energi benturan itu, menurut sosok bupati petani itu, terus dirawat justru diisaat fakta menyedihkan, seperti Aceh termiskin di Sumatera, fokus anggaran yang tak mendukung sektor riil, silpa dengan angka yang mencengangkan, dan pemerintah yang terkesan lumpuh.

“Akhirnya, rakyat kehilangan kepercayaan. Kalau sudah begini, siapa lagi harus dipercaya, harus diikuti, atau siapa sosok yang dapat mencerahkan situasi untuk membawa Aceh, keluar dari berbagai trauma dan problem,” tanya Akmal lagi.

Akmal yakin, tidak akan menemukan satu kata, apalagi satu sikap untuk menyiapkan sebuah exit strategi bagi Aceh Baru yang sejahtera. Menurutnya, hampir bisa dipastikan, bila topik ini dibahas secara rasionalpun, semua akan terjebak dalam konflik dan benturan baru.

“Kita doakan Tgk Agam selamat, dan bisa kembali ke Aceh. Tapi, bila itu tak terjadi, apa pilihan terbaik kita……..,” tanyanya lagi.

Akmal Ibrahim menyarankan untuk mendukung pemerintah yang sah, dan itu artinya pilihan yang ada adalah mendukung Nova Iriansyah, Plt Gubernur Aceh saat ini.

Pilihan ini, menurur Akmal bukan tanpa sebab. Menurutnya, gonjang-ganjing politik, bahkan benturan politik, tak akan menjatuhkah pemeruntahan yang sah.

“Yang menjatuhkan cuma persoalan hukum. Artinya, gonjang ganjing dan benturan itu, cuma menghahiskan energi dan waktu saja; sementara rakyat menunggu, apa pikiran2 cerdas pemimpin Aceh atas status memalukan itu–aceh termiskin di Sumatera,” katanya memantik renungan.

Terakhir Akmal mengutip ungkapan satir rakyat, yang berkata: “Kalian berkonflik malah kaya terus. Kami yang menonton kalian justru bertambah miskin.”

KOMENTAR FACEBOOK