Perantau Ilmu di Rusia: Antara Cinta, Cita-Cita, dan Nuklir

Imam Arif @rbth.com

Belum lewat satu purnama sejak ia menyarangkan cincin di jari manis sang kekasih. Cita-cita memaksanya menelan pil pahit perpisahan dan menjalani hari jauh dari yang dicinta di negeri salju yang sama sekali asing baginya. Tak hanya asing secara bahasa dan budaya, tapi juga cuaca yang tak pernah dirasa seumur hidupnya.

Imam Arif Pribadi (24), adalah satu dari 154 penerima Beasiswa Pemerintah Federasi Rusia angkatan tahun 2018 yang baru saja menginjakan kakinya di Moskow, Rusia, November lalu. Putra daerah Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, tersebut adalah mahasiswa S-2 jurusan Teknik Nuklir dan Fisika Termal di Universitas Riset Nuklir Nasional MIFI (Institut Teknik Fisika Moskow).

Sulung dari dua bersaudara tersebut kini menjalani kelas persiapan bahasa Rusia selama sembilan bulan ke depan sebelum terjun menekuni bidang studi yang akan mengantarkannya meraih cita-cita sebagai praktisi sekaligus akademisi nuklir yang ia idam-idamkan.

Takdirlah yang membawa lulusan Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir-Badan Tenaga Nuklir Nasional tersebut ke ibu kota Rusia. Sebelumnya, Prancis dan Jepanglah yang ia tuju untuk melanjutkan pendidikan karena kedua negara itulah yang ia ketahui memiliki teknologi nuklir yang canggih.

Namun, “hasutan” teman kuliahnya mencekoki pikirannya dengan kisah-kisah kemajuan teknologi nuklir di Rusia. Ia pun menggali lebih dalam dan menemukan kebenaran dari hasutan Tino Umbar, temannya yang sudah lebih dulu berkuliah di Moskow sejak 2017 dengan bidang studi yang sama.

Hasil berselancar di internet, ia mengenal Badan Energi Atom Negara Rosatom yang merupakan badan pengawas nuklir Rusia. Bermodalkan perkenalan itu, ia memutuskan memutar haluan dan melamar beasiswa Pemerintah Federasi Rusia mengikuti jejak temannya dan kini bersama-sama berkuliah di kampus yang sama.

Menurut Imam, masa depan nuklir di Indonesia seharusnya cerah, tapi diperlukan ketegasan pemerintah untuk memberdayakanya. “Masa depan nuklir di Indonesia seharusnya cerah karena menipisnya cadangan bahan bakar tidak terbarukan seperti minyak, gas dan batu bara. Sementara, potensi nuklir kita belum pernah digunakan, hanya tinggal menunggu keputusan pemerintah,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia masih takut akan bahaya nuklir karena terus berkaca pada tragedi di Rusia dan Jepang. Padahal, Rusia tetap memanfaatkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) meski memiliki pengalaman kelam di Chernobyl. Sementara Jepang, Hiroshima dan Nagasaki pernah menjadi korban langsung keganasan bom atom, tapi kini tetap memberdayakan PLTN.

Belum optimalnya pemanfaatan energi nuklir di Indonesia membulatkan tekadnya untuk kembali ke tanah air dan membawa pulang ilmu yang ia timba agar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan bangsa Indonesia. Tidak hanya itu, ia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak tergoda bisikan surga tawaran bekerja selain di Indonesia, baik di Rusia ataupun di negara lain setelah lulus nanti.

Berdamai dengan Rindu

Meski samudera membentang luas memisahkan insan yang selangkah lagi akan mencatatkan lembaran baru kisah hidupnya dalam ikatan pernikahan, Imam dan Maya Rentina, mencoba berdamai dengan rindu yang kian hari kian menebal.

Delapan ribuan kilometer jarak antara Lubuk Linggau dan Moksow tak terasa jauh ketika keduanya sesekali berbincang atau bertatap muka melalui aplikasi percakapan WhatsApp. Meski terpisah secara fisik, tapi keduanya merasa dekat di hati dengan komunikasi yang berjalan baik.

“Dengan teknologi sekarang ini, jarak tidak jadi halangan. Kami selalu berkomunikasi, baik hanya pesan teks atau panggilan video ketika waktu luang, atau saat harus ada yang dibicarakan,” jelas Imam.

Di sela berkonsentrasi mempelajari bahasa Rusia yang diakuinya cukup menguras pikiran, ia menyempatkan diri membantu persiapan keperluan-keperluan pernikahan yang dapat ia kerjakan dari Moskow.

Tahun depan, ketika salju telah sirna dan udara dingin telah menjelma menjadi kehangatan yang menyelimuti bulan Juli, Imam akan kembali sejenak ke tanah air guna mempersunting sang kekasih pujaan hati.

Lapangan Merah, Salju dan Saos Sambal

Memperdalam ilmu nuklir bukanlah satu-satunya harapan yang ia miliki saat memutuskan hijrah ke Rusia. Bayangan salju dan Lapangan Merah selalu menari-nari di benaknya sejak proses pengajuan beasiswa. Itulah mengapa saat pertama kali roda pesawat yang membawanya berdercit mencium landasan Bandara Domodedovo pada 11 Oktober lalu, ia tak sabar merangsek keluar dan ingin segera meluncur ke Lapangan Merah.

Urusan imigrasi, bagasi dan durasi perjalanan ke asrama ia lewati tanpa hambatan berarti. Empat setengah jam setelah menginjakan kaki pertama kali di tanah Rusia, ia pun diantar Tino ke daya tarik utama ibu kota Rusia sekitar pukul 20.30 menggunakan kereta bawah tanah (metro). Tangannya sigap mengabadikan setiap keindahan yang tersaji dan yang pasti berswafoto dan mengunggahnya di media sosial.

Meski bersyukur semua proses keberangkatan dari tanah air hingga ke Moskow berjalan lancar, tersisa sekeping kekecewaan karena dua botol sambal terasi kemasan botol yang ia bawa di dalam tas disita di Imigrasi saat di Jakarta. Sementara, untuk memindahkanya ke bagasi sudah tak memungkinkan. Pupus sudah rencana makan enak ditemani cita rasa Indonesia yang ia rencanakan sebelumnya.

Saat salju pertama menghujani Moskow ia tengah berada di asramanya yang terletak di Moskvorechye ulitsa 2. Saat itu, ia sontak menghambur keluar asrama untuk pertama kalinya melihat dan menyentuh langsung salju yang selama ini menari-nari di benaknya. Namun, kini salju tak lagi semenarik pertama kali ketika ia melihatnya.

“Saat pertama kali saya sangat bersemangat sekali, tapi kini biasa saja karena salju bertebaran di mana-mana, dan setiap hari saya melihat salju di perjalanan menuju kampus.”[]

Sumber : RBTH

KOMENTAR FACEBOOK