Di Jepang, Mitigasi Bencana Masuk dalam Kurikulum Sekolah

@aceHTrend/Taufan Mustafa

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Pusat Studi Tsunami dan Mitigasi Bencana (Tsunami and Disaster Mitigation Research Center/TDMRC) Unsyiah menggelar seminar kebencanaan bertema Belajar dari Bencana Palu dan Bagaimana Kesiapsiagaan Aceh di Gedung TDMRC Unsyiah di Ulee Lheue Banda Aceh, Kamis (27/12/2018).

Dalam acara itu turut dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama TDMRC Unsyiah dengan University of Hyogo Japang dalam bidang kebencanaan.

Prof. Yusheteru Murosaki dari University of Hyogo mengatakan, sebagai langkah pertama, pada Februari 2019 nanti pihaknya akan mengundang dosen Unsyiah ke universitas mereka untuk menghadiri simposium terkait kebencanaan.

Menurutnya, Aceh dan Kobe Jepang sama-sama pernah terjadi gempa tsunami besar, sehingga kedua pihak ini akan menjalin kerja sama dan bertukar pengalaman serta melakukan penelitian terkait bencana.

“Yang pertama kami akan bertukar pengalaman bagaimana pembangunan kembali setelah itu, yang kedua melakukan riset bersama untuk penguatan dan persiapan ke depan seputar bencana alam, jadi tidak hanya tsunami dan gempa, tapi juga terkait bencana yang lainnya,” katanya.

Mengenai tsunami Jepang beberapa tahun lalu, yang menerpa pemukiman padat penduduk, tapi korbannya tidak terlalu besar, Yoshiteru mengatakan karena Jepang selalu belajar dari bencana terdahulu, kemudian selalu diulang dalam kurikulum pendidikan sekolah, termasuk pembelajaran bagi orang tua.

“Jepang dari dulu mengalami banyak sekali bencana alam, jadi terus belajar dan belajar dan mempersiapkan diri, mulai dari anak-anak sampai orang tua ada pendidikan tentang bencana, ada kurikulum khusus tentang bencana,” katanya.

Selain pengetahuan masyarakat, sambung Yoshiteru, kondisi alam juga sangat berbeda antara Jepang dengan Aceh. Karenanya tidak bisa membandingkan begitu saja, misalnya Aceh gempanya lebih besar, daerahnya luas, penduduknya lebih banyak bila dibanding dengan di tempat mereka. Faktor itu kata dia turut mempengaruhi dampak sebuah bencana.

“Di Jepang masyarakat selalu disadarkan akan bencana, melalui pendidikan dan selalu diulang-ulang di sekolah sehingga masyarakat sadar, Jepang ingin belajar dari Aceh, bagaimana Aceh bisa bangkit kembali setelah tsunami,” jelasnya.

Sementara itu, peneliti TDMRC Unsyiah Ibnu Rusydi mengatakan, Aceh memiliki beberapa sumber gempa, apakah di laut atau dari patahan lempeng bumi. Untuk patahan ada dua, yaitu segmen Aceh yang berada di kawasan kars Gle Raja sampai ke Pulo Aceh, kemudian segmen Seulimum meliputi wilaya dari Tangse (Pidie), Seulimum dan Krueng Raya (Aceh Besar) hingga Sabang.

“Segmen Aceh tidak memiliki sejarah gempa sejak 170 tahun lalu, sementara segmen Seulimum memiliki sejarah gempa pada tahun 1964, kemungkinan gempa masih ada potensi di segmen Seulimum, karena terjadi lock (kunci) pada patahan lempengnya. Untuk perkiraan jumlah korban di Banda Aceh juga bisa dibuat skenario, dan kedua segmen itu masih berpotensi gempa di Aceh,” katanya saat memaparkan materi.

Sementara terkait potensi likuifaksi di pesisir Banda Aceh dan Aceh Besar yang merujuk pada kajian LIPI, berdasarkan peta yang dibuat oleh Andrin Tohari, Ibnu Rusydi mengatakan hanya satu kawasan di Banda Aceh yang aman dari potensi bencana tersebut.

“Saya tidak ingat betul hasil dari peta tersebut, tapi kawasan yang paling aman dari potensi likuifaksi itu ada di Lueng Bata,” katanya menjawab aceHTrend usai seminar.

Menurutnya, likuifaksi terjadi ketika dalam lapisan tanahnya ada pasir, kemudian ada air tanah, ketika gempa terjadi lapisan pasir ini bisa melebur bersama air, sehingga kalau di atasnya ada bangunan bisa miring.

“Di Aceh, likuifaksi itu tidak akan terjadi seperti di Palu, karena kawasan kita lumayan datar, kalau di Palu kawasannya miring. Kalau kita temui kawasan yang tanahnya agak empuk dan bergelombang, itu bukan likuifaksi, tapi itu tanah yang lunak. Dan kalau terjadi gempa, kawasan itu terasa lebih kuat, semakin lunak tanahnya, maka semakin kuat goncangan gempa. Kota Banda Aceh berada di kondisi tanah lunak, sehinga masyarakat harus selalu siaga bencana, karena bencana datang secara tidak disangka,” katanya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK