Kisah Saifullah, Warga Kajhu yang Bangkit Usai Tsunami

Saifullah dan istrinya Rini serta anak bungsunya @aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

ACEHTREND.COM, Jantho – Rumah itu tergolong kecil, maklum bantuan tsunami. Sejumlah tanaman dan aneka bunga-bungaan tumbuh asri di pekarangan rumah. Suasanya nyaman dan teduh. Dua bocah terlihat bermain mobil-mobilan di teras depan, keduanya terlihat ceria.

Kicauan burung dan suara jangkrik terdengar saling sahut menyahut di balik pohon dan hijau persawahan. Seorang pria paruh baya terlihat semringah tatkala saya memasuki pekarangan rumahnya.

Neupiyoh keunoe, meu’ah agak bacut kuto ban lon woe dari lampoh jak koh naleung keu eumpeun leumoe (Silahkan mampir, maaf agak sedikit kotor karena baru selesai pulang memotong rumput untuk pakan ternak sapi di kebun),” ujar pria paruh baya saat menyambut saya dengan ramah, Rabu sore (27/12/2018).

Pria itu bernama lengkap Saifullah, warga Dusun Lambateung, Desa Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. Di rumah bantuan salah satu NGO asing ini, Saifullah beserta istrinya, Rini, dan kedua anaknya mulai menata kehidupannya kembali. Betapa tidak, musibah gempa berkekuatan 9,3 SR dan disusul gelombang tsunami pada 26 Desember 2004 lalu telah mematahkan asa lelaki kelahiran Aceh Besar tersebut.

“Ini istri kedua saya, Rini, yang asli dari Medan,” kata Saifullah.

Pria yang sudah memasuki usai setengah abad ini menceritakan, saat musibah tsunami menerjang desanya, istri pertamanya, Irhamna, dan satu putrinya, Desi Andriani, ikut tersapu gelombang tsunami. Selain itu, hampir separuh sanak familinya juga ikut menjadi korban keganasan gelombang tsunami. Pasalnya, sebagian besar keluarganya tinggal dan hidup berdampingan dengannya di Desa Kajhu, Aceh Besar. Rumahnya hanya terpaut sekitar 4 kilometer dari bibir pantai.

Saifullah mengaku, saat tsunami meluluhlantakkan bumi Serambi Mekkah, ia sedang berada di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) lama Lampulo, Banda Aceh. Di sana, pria berusia 51 tahun ini bekerja sebagai buruh angkut ikan.

“Saat itu, istri saya beserta dua anak saya, Muhammad Rizki dan Desi Andriani masih berada di rumah di Kajhu. Pascagempa dan air laut naik, istri saya beserta putri bungsu saya jadi korban, sedangkan putra sulung saya, alhamdulillah selamat. Ia lari bersama sepupunya, Fazkur ke arah Darussalam. Kebetulan jarak rumah saya dengannya berdampingan. Begitu juga dengan ibu saya, Khatijah beserta saudara saya lainnya ikut terbawa gelombang tsunami,” kenang Saifullah.

Saifullah yang turut serta dibawa arus gelombang tsunami menuturkan, ia sudah pasrah tatkala melihat gelombang air laut berwarna hitam pekat menggulungnya. Menurutnya, saat ia ikut terbawa arus, kekuatan ombak raksasa menariknya seperti dililit ular besar.

Watee nyan bandum ureueng hana tu’oh mengadu lee, sebab watee digulong le ie lagee diuet lam pruet uleu raya (saat itu semua orang tidak bisa mengadu kepada siapa pun, sebab ketika kami digulung gelombang air rasanya seperti ditelan dalam perut ular besar),” ujar Saifullah.

Meski sempat terombang-ambing di dalam air laut, akhirnya Saifullah berhasil menyelamatkan diri setelah naik ke atas bongkahan kayu yang ikut terbawa tsunami. Saifullah berhasil menyelamatkan diri setelah merangkak dari reruntuhan kayu dan material beton yang ikut terbawa arus tsunami di kawasan Lamdingin, Banda Aceh.

Hari itu juga, ia kembali ke desanya di Kajhu. Di sana, Saifullah melihat pemandangan Keude Kajhu yang sebelumnya penuh dengan bangunan rumah megah dan pertokoan kini sudah rata dengan tanah. Ia mengaku hampir tidak mengenali lagi desa kelahirannya. Pasalnya, Keude Kajhu ini diibaratkan terbabat habis oleh pisau cukur raksasa.

Semua bangunan telah hancur, baik itu rumah, pertokoan, pepohonan maupun tiang listrik yang berdiri tegak kini hilang tak berbekas. Begitu juga halnya ribuan mayat bergelimpangan di setiap sudut, bau anyir kian menusuk hidung.

“Semuanya telah hancur, kecuali satu masjid yang tersisa. Bahkan saat itu saya sendiri tidak tahu di mana letak lokasi rumah saya,” kenangnya.

Saifullah bersyukur, rasa kepedulian dan uluran tangan dari sejumlah NGO lokal maupun asing telah mengubah kehidupannya. Dari sinilah, Saifullah beserta istri keduanya, Rini, yang dipersuntingnya pada awal 2006 lalu mulai bangkit menata kembali kehidupannya. Untuk menyambung hidupnya, Saifullah terpaksa menjadi buruh bangunan dari pagi hingga siang hari. Sorenya, ia dibantu istrinya membersihkan ladangnya untuk jadikan lahan pertanian dan mengurusi ternak. Dari hasil pertanian dan ternak inilah, Saifullah mampu menyekolahkan anaknya hingga ke pendidikan tingkat akhir.

“Jadi, kalau diingat-ingat terus tidak ada gunanya juga. Sebab jika Allah berkehendak, apa saja isi dunia milik-Nya ini bisa hilang seketika. Dari sinilah, saya beserta keluarga kecil saya ini mulai kembali dari nol lagi,” ujar Saifullah.

Kini, empat belas tahun sudah musibah gempa dan tsunami memporak-porandakan Aceh. Usaha ternak dan pertanian milik Saifullah kian berkembang seiring waktu. Bersama istri dan ketiga anaknya, Saifullah terus mencoba bangkit dari kesedihan tsunami. Tujuannya adalah satu, yakni membesarkan dan sekaligus menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.

“Saya ajak istri dan anak saya untuk kembali menetap di Lambateung tempat rumah orang tua saya dulu. Saya katakan kepada istri dan anak saya, apa pun yang terjadi, kita tetap bertahan di sini, karena ini rumah dan tanah warisan keluarga kita,” ujar Saifullah.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK