Pemuda Dalam Pusaran Politik Kebencian

Fuad Saputra, mahasiswa Universitas Negeri Malang, Jawa Timur.

Oleh Fuad Saputra*)

Data dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyebutkan jumlah pemilih pemula yang termasuk dalam DP4 mencapai lima juta jiwa lebih. DP4 itu sendiri merupakan daftar penduduk pemilih pontensial pemilu. Artinya mereka yang sudah berusia 17 tahun, dan mendapat hak suara pada april 2019. Saya yakin angka lima juta ini akan sangat berpengaruh di politik electoral mendatang, jumlah angkanya juga yang sangat menjanjikan. Tapi perlu dicermati, ada beberapa kondisi yang menyebabkan para remaja akhir (baca:pemilih pemula) ini sangat rentan, apalagi ditambah situasi politik Indonesia yang lebih banyak penuhi dengan kebencian. Mengapa?

Dalam teori perkembangan manusia, anak yang sedang melalui fase remaja menuju fase dewasa awal akan berada dalam kondisi paling rentan. Hal ini disebabkan karena pada fase ini, mereka dihadapkan pada pilihan untuk mencari jati diri dan menunjukan aktualisasi diri. Dengan sedikitnya pengalaman, pilihan yang bagi orang dewasa mudah-mudah saja akan kelihatan sangat pelik bagi mereka. Dan untuk mencapai aktualisasi itu, sering kali akhirnya remaja terombang-ambing, dan juga sering melakukan kesalahan. Tapi yang patut digaris bawahi setiap tindakan yang mereka lakukan biasanya adalah cerminan lingkungan sosialnya.

Kondisi psikologi yang rentan ini akan membuat remaja mudah sekali dimanipulasi. Mereka akan sangat mudah mengiyakan setiap tindakan, kadang bahkan tanpa memikirkan konsekuensi. Dan juga meduplikasi yang yang mereka lihat atau yang mereka dengar. Makanya tawuran, balapan liar, hingga kenakalan-kenakalan lain sering kali terjadi. Pada titik ini setiap kesalahan yang remaja lakukan tidak serta merta menjadi dosa mutlak mereka. Ada campur tangan orang tua dan masyarakat dewasa yang membiarkan mereka tumbuh tanpa pengawasan dan bimbingan, atau malah menularkan kebencian.

Pemuda dan Politik

Ketika pemuda membicarakan politik, sering kali yang terdengar suara-suara sumbang dan sinisme keluar dari generasi yang lebih tua. Masih banyak di antara generasi yang lebih senior seolah melegitimasi bahwa berhak berbicara soal politik cuma mereka yang sudah banyak makan “asam garam” kehidupan, anak muda tinggal diam dan ikut saja. Pun ketika muncul Partai Solidaritas Indonesia (PSI) saya senang, setidaknya pemuda punya jalur yang bisa dilalui untuk menunjukuan bahwa anak muda juga bisa bersuara. Ya walaupun saya tidak terlalu suka dengan beberapa pandangan politik mereka, tapi mereka hebat. Mampu (hingga saat ini) mendobrak arus mainstream politik Indonesia. Salut.

Pada 2019 nanti bagi saya sendiri (bila Allah memberi izin) akan menjadi momen pertama berhak, dan punya suara untuk memilih presiden. Dan masih ada jutaan pemilih yang akan merasakan hal yang sama dengan saya. Yang menjadi kecemasannya ialah bagaimana dengan mereka para pemilih pemula awam yang sama sekali buta politik. Bagaiamana seharusnya mereka bertindak dan bersikap. Apalagi untuk yang masih berumur 17-19 tahun, kebanyakan dari mereka masih SMA. Di sini pentingnya peran para orang tua dan generasi senior untuk membimbing mereka. Menuntun cara menyikapi politik secara rasional dan santun.

Tapi kondisi politik Indonesia saat ini menunjukan hal sebaliknya, jauh panggang dari pada api. Yang dipertontonkan pada pemuda dan pemilih pemula malah kerusuhan dan kebencian. Hampir setiap hari selalu disuguhi dengan kabar hoaks menjatuhkan dan bertendensi negatif. Bahkan seorang kawan saya menjadi sangat apatis tentang politik Indonesai. Alasannya sederhana, masyarakat kita lebih senang mempertontonkan kebencian dari pada kewarasan.

Dalam fase remaja menentukan sikap merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Tapi dalam politik tentu ada keberpihakan, Ya kita dituntut untuk berpihak. Keberpihan dan politik dua hal yang tidak bisa dipisah. Masalahnya politik Indonesia terlalu dikotomi pada baik buruk, hitam putih saja. Tidak boleh berwarna. Ketika Kamu pilih Jokowi maka kamu cebong, kamu pilih Prabowo maka kamu kampret. Atau kamu pilih Jokowi maka kamu PKI dan pro-aseng, kamu pilih Prabowo maka kamu pendukung kapitalis barat. Pilihan yang tersaji semua buruk, pilihannya semua negatif. Bahkan ada beberapa yang isinya hanya hoaks. Sehingga sebagai kelompok rentan, menentukan sikap menjadi sangat sulit dan berbahaya. 

Harus diakui politik kita saat ini kebanyakan adalah politik penuh dengan kebencian. Politik yang tersaji ialah politik penuh kebohongan yang menjatuhkan. Contoh dekat apa yang terjadi di Aceh Utara, seorang oknum dari salah satu dayah di Nisam yang mengedit video cawapres paslon 01 menjadi berbaju Sinterklas. Padahal beliau salah satu pucuk pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia, plus juga ketua non-aktif MUI, lembaga yang memberi fatwa keagamaan dan label halal pada makanan yang kita konsumsi sehari-hari. 

Saya di sini tidak sedang mempermasalahkan soal boleh tidaknya ucapan natal, itu di luar kemampuan saya. Tapi yang saya permasalahkan adalah sikap kebanyakan kita yang kadangkala melewati batas moralitas. Di setiap info yang berhubungan dengan kedua capres-cawapres, selalu diikuti dengan komentar bernada sangat kasar. Bahkan ada komentar menggunakan diksi (maaf) seperti aneuk haram jadah,aneuk bajeng,bui(babi), anjing dan lain sebagainya. Serendah ini level moral masyarakat kita.

Sadarkah kita semua setiap tindakan masyarakat dewasa sekarang sedang diamati oleh remaja yang akan melanjutkan tongkat estafet bangsa ini. Dan pada suatu saat, tindakan-tindakan saat ini akan diduplikasi di masa mendatang oleh mereka. Apa yang sedang masyarakat kita lakukan saat ini adalah sedang mewariskan kebencian untuk masa mendatang. Menciptakan kebencian-kebencian baru yang akan menyuburkan permusuhan. Kemudian, sampai kapan rantai kebencian ini akan berakhir?

Tugas kita semua memastikan warisan yang ditinggalkan ialah sesuatu yang baik. Perbaiki setiap sikap dan tindak tanduk prilaku politik kita. Beri contoh baik dan membimbing. Kita boleh saja berbeda pilihan. Tapi jangan biarkan kebencian dan prasangka tanpa dasar tumbuh, bahkan dalam relung terkecil sekalipun. 

Semua kita tentu berharap negeri akan maju dan sejahtera. Tapi bila kebencian yang menjadi warisan untuk penerus bangsa, harapan ini adalah harapan sia-sia. Mari berubah dan bergerak. Salam.

*)Fuad Saputra, Mahasiswa jurusan Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Malang, Jawa Timur. Berasal dari Bireuen, Aceh. Email: fuad.saputra01@gmail.com.

KOMENTAR FACEBOOK