Nova Iriansyah dan Rindu Terbayar Sang Umara kepada Ulama


 Catatan Ringan Usamah El-Madny 

 “Pertengah Desember 2018, di Labuhan Haji,  Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah,  mengatakan rindu dan ingin jumpa Abu Tu Min.Hari ini, awal Januari 2019, rindu itu dituntaskannya di Blang Blahdeh”.

Hari itu, Selasa, 18 Desember 2018. Jarum jam menunjukkan pukul 12.13 WIB. Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Ir. H. Nova Iriansyah, MT, baru saja selesai melakukan peletakan batu pertama pembangunan Mesjid Abuya Muda Waly Al-Khalidy, di Komplek Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Peletakan batu pertama mesjid yang menabalkan nama ulama besar Aceh itu adalah bagian dari rangkaian kunjungan kerja Plt Gubernur Aceh ke Aceh selatan,  di samping juga melakukan peninjauan dan penyaluran bantuan kepada korban banjir di Trumon.

Di komplek Dayah Darussalam Labuhan Haji, Plt Gubernur Aceh disambut hangat pimpinan Dayah Darussalam Labuhan Haji, Abuya Mawardi Ali yang didampingi Abi Hidayat (putra Abuya Prof. Dr. Tgk. Muhibbuddin Waly), Bupati Aceh Selatan dan jajaran Forkopimda Aceh Selatan, para alim ulama, ribuan santriwan dan santriwati serta masyarakat Aceh Selatan.

Dayah Darussalam  Labuhan Haji adalah dayah tertua di Aceh. Dayah yang semula didirikan di rawa-rawa dekat pantai laut Labuhan Haji itu kemudian hari menjadi episentrum yang mendorong pertumbuhan  dayah di hampir seantero Aceh. Hampir semua dayah-dayah besar di Aceh didirikan oleh murid-murid Abuya Muda Waly atau alumni Dayah Darussalam Labuhan Haji.

Makanya tidak aneh, bila kita menyebutkan Dayah Darussalam Labuhan Haji, nyaris tidak ada masyarakat Aceh yang tidak tahu tempat dan kiprah dari lembaga pendidikan Islam ini. Hampir semua ulama besar Aceh memiliki silsilah keilmuan dengan Lanuhan Haji.

Maka wajar saja bila dalam sambutannya di hadapan ribuan jamaah saat melakukan peletakan batu pertama Mesjid Abuya Muda Waly, dalam sambutannya  Plt Gubernur Aceh ikut mengenang kebesaran pribadi dan konstribusi luar biasa dari Abuya Muda Waly dalam mendidik umat di Aceh.

“Hampir dapat dipastikan seluruh ulama kharismatik di Aceh adalah murid dari Almarhum Abuya Wali Al Khalidy,” kata Nova Iriansyah. Dalam penilaian Nova Iriansyah, Abuya Muda Waly adalah salah seorang ulama yang sangat berpengaruh di nusantara. “Karena itu, penyematan nama beliau akan menjadi spirit tersendiri untuk mengenang amal kebaikan dan karya beliau,” sebutnya. “Meskipun sudah meninggalkan kita  begitu lama namun karya dan jasa beliau tidak akan pernah lekang dalam ingatan, dan Dayah Darussalam menjadi dayah terkemuka di Nusantara ini,” lanjut Nova dalam pidatonya itu yang diikuti dan disaksikan penuh keharuan ribuan alumni dan santri dayah tersebut.

Di balik penampilannya yang tenang dan santun, ternyata Plt Gubernur Aceh itu memiliki memori yang dalam   terhadap dinamika dayah di Aceh dari masa ke masa  serta rasa hormat yang luar biasa terhadap kiprah ulama. Selama di Dayah Darussalam Labuhan Haji dalam bincang-bincang ringan beliau di sela-sela acara ternyata Plt Gubernur Aceh begitu paham dengan peta perkembangan dayah dari masa ke masa dan kiprah para ulama dayah di Aceh.

Maka ketika selesai acara peletakan batu pertama Pembangunan Mesjid Abuya Muda Waly hari itu, saat Abuya Mawardy Waly — salah seorang putra Allahyarham Abuya Mudawaly Al-Khalidyi — mengajak Plt Gubernur Aceh  masuk ke sebuah rumah sederhana yang dulu didiami Abuya Muda Waly Al-Khalidi semasa hidupnya di komplek Dayah Darussalam Labuhan Haji untuk menyantap makan siang yang telah disediakan tuan rumah, justru Plt Gubernur Aceh tidak langsung makan sekalipun telah beberapa kali dipersilakan.

Plt Gubernur Aceh terus berbincang hangat dan akrab dengan Abuya Mawardi Waly dan Abi Hidayat dengan didampingi Teuku Rifki Harsya, anggota DPR RI asal Aceh. Salah satu yang diungkapkan Plt Gubernur Aceh kepada Abuya Mawardi Waly adalah soal keinginan dan kerinduannya yang tertunda untuk berjumpa sejumlah ulama Aceh.

“Saya sudah berjumpa banyak ulama Aceh, tapi sudah lama tidak berjumpa secara khusus dan rindu berjumpa Tu Min”, kata Plt Gubernur Aceh sambil direspon dengan senyum dan anggukan lembut dari Abuya Mawardi Waly. Tu Min adalah salah seorang murid langsung Abuya Muda Waly Al Khalidy yang saat ini memimpin Dayah Madinatuddiniyah Babussalam, Blang Blahdeh, Bireuen.

***

Hari ini, Selasa, 1 Januari 2019, tepat pukul 14.34 WIB. Tiba-tiba handphone saya berdering. Di layar android tua saya itu muncul nama Teungku Aceh, seorang murid senior Abu Tu Min yang selama ini dengan penuh khidmat dan dedikasi selalu melayani Abu baik  saat di Dayah  Madinatuddiniyah Babussalam, Blang Blahdeh, atau juga ketika Abu bepergian keluar Bireuen memenuhi undangan sejumlah pihak maupun kepentingan personal Abu lainnya di luar dayah.

Bang,  Pak Plt Gubernur teungeh menuju rumoh Abu Tu”, terdengar suara Teungku Aceh melalui handphone.

Dengan nada terkejut saya pun merespon, “Oman… kiban nyoe, lon di Ulee Kareng, tidak dapat mendampingi, hana informasi lebih awal”, jawab saya. Seperti kebiasaan gaya komunikasinya yang menghibur, Teungku Aceh pun membalas, “Hana masalah, lon lapor mantong, semua tertangani dengan baik”.

Mendapat informasi dari Teungku Aceh, saya pun sejenak tertegun.

Awalnya saya menyangka perbincangan ringan Plt Gubernur Aceh dengan Abuya Mawardi Waly beberapa saat jelang makan siang di Komplek Dayah Darussalam Labuhan Haji itu hanya basa basi biasa. Ternyata itu semua keluar dari ketulusan hati serta kerinduan dan kecintaan yang luar luar biasa seorang Nova Iriansyah kepada ulama.

Buktinya hari ini dalam perjalananya dari Bireuen – Banda Aceh, secara khusus Plt Gubernur Aceh singgah dan melakukan kunjungan takzim kepada Abu Tu Min  di kediamannya di Blang Blahdeh Bireuen.

Apa yang dilakukan Plt Gubernur Aceh dengan bersilaturrahmi dengan ulama, seperti hari ini dilakukannya dengan Abu Tu Min, adalah pekerjaan sederhana namun  berdimensi luar biasa.

Pesan verbal yang ingin disampaikan kepada semua bahwa  interaksi dan silaturrahmi ulama umara adalah sebuah potensi kolektif kolegial yang perlu terus dijaga dan dirawat untuk membangun Aceh yang lebih baik di masa yang akan datang. Tentu semua ini sesuai dengan pesan Nabi SAW, “Dua golongan besar bila keduanya baik, maka baiklah umat manusia, dan bila mereka buruk, maka hancurlah umat manusia, yaitu ulama dan umara” (HR Ibnu Majah).

Plt Gubernur Aceh dalam banyak kesempatan selalu menyadari  dan menegaskan bahwa sesungguhnya silaturrahim yang terjaga antara ulama dan umara membawa keberkahan umat dan negara. Ulama yang istiqamah dan umara yang amanah, bekerja sama dalam fungsi masing masing. Fatwa dan nasehat ulama didengar dan dilaksanakan umara dengan baik, umara pun membuka jalan dakwah ulama. Inilah hubungan yang penuh keberkahan.

Inilah yang ditegaskan Plt Gubernur Aceh dalam pidatonya saat membuka Mubes Himpunan Ulama Dayah (HUDA) III  di Hotel  Grand Aceh Syariah Banda Aceh, Sabtu, 25 November  2018. “Nasehat dan kritikan ulama adalah vitamin yang baik bagi Pemerintah Aceh”, tegas Plt Gubernur Aceh yang saat itu tampil di tengah-tengan ulama dayah dengan style pakaian santri: Bersarung, baju koko, dan peci putih.

Saya tidak hadir langsung dalam silaturrahmi Plt Gubernur Aceh dengan Abu Tu Min hari ini. Maka secara langsung saya pun tidak tahu suasana batiniah kedua beliau saat bertemu. Tapi banyak ahli yang mengatakan, bahwa selembar foto lebih mampu berkata dan bercerita banyak tentang kualitas dan suasana batiniah sebuh silaturrahmi.

Foto suasana silaturrahmi antara Plt Gubernur Aceh dengan Abu Tu Min yang saya terima membenarkan statemen di atas. Foto Silaturrahmi dua ulama umara itu memperlihatkan betapa senang dan bahagianya Plt Gubernur Aceh dan Tu Min saat bertemu dan berbincang akrab. Ya, wajah keduanya berseri, tatapan matanya saling mengayomi, serta bahasa tubuh keduanya mengkonfirmasi kepada kita betapa Aceh ke depan akan lebih baik ketika ulama dan umara salin berkonstriburi sesuai porsinya dalam membangun negeri ini.

Ya, bagi kita di Aceh, ulama dan umara ibarat jantung kiri dan jantung kanan, saling melengkapi untuk kebaikan negeri. Dunia dan akhirat. []

*)Penulis adalah Kepala Dinas Pendidikan Dayah Propinsi Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK