YARA Abdya Laporkan Polsek Tangan-Tangan ke Propam

Ketua YARA Abdya, Miswar, SH

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Kabupaten Aceh Barat Daya melaporkan Kanit Reskrim Polsek Kecamatan Tangan-Tangan ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Abdya terkait penangkapan AFR (19), warga Gampong Blang Padang, Kecamatan Tangan-Tangan atas dugaan tindak pidana pencurian.

YARA juga mengancam akan melakukan praperadilan terhadap institusi Polres Abdya terkait prosedural penangkapan yang dinilai janggal.

“Kita menilai banyak kejanggalan yang dilakukan oleh pihak kepolisian Abdya saat melakukan proses penangkapan terhadap warga Kecamatan Tangan-Tangan dalam kasus dugaan pencurian ini,” ungkap Ketua YARA Abdya, Miswar, kepada aceHTrend, di Kantor YARA di Blangpidie, Selasa (18/12/2018).

Miswar menjelaskan, pada Senin (24/12/2018), polisi menangkap AFR di RSU Teungku Peukan usai magrib. Penangkapan tersebut berdasarkan laporan warga Gampong Blang Padang berinisial KH (80) yang menyebutkan bila AFR telah mencuri emasnya.

Berdasarkan laporan tersebut kata Miswar, antara pelaporan dan penangkapan berselang selama enam hari. Berdasarkan pengakuan ARF, YARA menemukan kejanggalan dalam proses penangkapan, seperti tanpa alat bukti permulaan yang cukup. Selain itu surat penangkapan juga tidak ditembuskan ke pihak keluarga ARF (vide Pasal 18 Ayat 3 KUHAP).

“Pada fase penangkapan ini, terduga (ARF) dibuat seakan-akan melakukan kejahatan tertangkap tangan, padahal polisi hanya mengumpulkan bukti awal menurut keterangan korban, intinya mereka (polisi) melewatkan tahapan penyidikan. Seharusnya, terduga harus dipanggil dulu sebagai saksi, bukan langsung dilakukan penangkapan,” kesal Miswar.

Atas persoalan tersebut, selaku kuasa hukum ia telah melaporkan Kanit Reskrim Polsek Tangan-Tangan ke kesatuan Polres Abdya sesuai dengan  laporan polisi nomor: LP/16/XII/HUK.12.10/2018/Sipropam yang diterima langsung oleh Bribda Habibi.

“Atas tindakan kesewenang-wenangan tersebut, kami akan mengambil langkah mempraperadilankan Polres Abdya, serta akan menyurati Mabes Polri,” pungkas Miswar.

Secara terpisah, Kapolres Abdya, AKBP M. Bashori SIK, saat dikonfirmasi aceHTrend di Mapolres Abdya mengatakan, meskipun pihak terduga merasa keberatan saat proses penangkapan, itu memang sudah menjadi wewenang kepolisian.

“Masalah borgol-memborgol, itu masalah prosedural. Karena kita tidak mau berandai-andai, apalagi ada rasa kasihan dalam proses penangkapan, karena jika terjadi sesuatu karena terduga tidak kita borgol saat proses penangkapan, siapa yang akan bertangung jawab nanti kalau dia lari dan loncat, terus jatuh dan meninggal, siapa yang dikomplain. Sebenarnya, justru karena begitu kita memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, kita harus lindungi meski statusnya patut diduga,” ujarnya.

Menurut Kapolres, pihaknya tidak melakukan penangkapan paksa terhadap terduga, apalagi keberatan pihak terduga hanya karena diborgol.

“Ini semua masalah prosedur bukan masalah formil dan materilnya. Kecuali terduga tidak cukup alat bukti kemudian ditangkap paksa lalu diproses  sampai ke pengadilan. Inikan tidak demikian, malah 1×24 jam terduga kita lepaskan,” jelas Kapolres.

Kapolres mengatakan, jika pihak keluarga merasa keberatan atas penindakan, kemudian meminta bantuan Hukum dari YARA, menurutnya  itu merupakan hak setiap warga negara Indonesia.

“Jika anggota saya salah, akan kita proses, namun jika benar, harus diberi porsi bahwa anggota saya yang benar. Namun demikian kita tunggu saja bagaimana hasil pemeriksaan di Provos nantinya,” pungkas M Bashori.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK