Membelah Durian di Ceruk Pante Peusangan

Bukan hanya panorama, kampung di ceruk gunung itu memiliki durian yang aduhai. Di sana, ikan kerling juga masih berenang ria di dalam Krueng Peusangan yang mengalir deras sepanjang tahun. Bila “beruntung” kita juga bisa melihat gajah liar yang kerap singgah di kampung perbatasan tersebut.

Pukul 14.00 WIB, Selasa (1/1/2019) Camat Kecamatan Juli Doli Mardian memacu laju mobil dinasnya ke arah selatan. Menerabas lika-liku jalan Bireuen-Takengon yang semakin jauh semakin pula menanjak. Minibus kecil itu, sangat prima mengaspal di jalan yang jalurnya dibuka oleh Belanda kala masih bercokol di Aceh.

Saya bersama tiga anak muda lainnya, menyertai perjalanan camat yang masih berusia muda itu. Sembari bercerita tentang gagasannya membangun Kecamatan Juli, ia memainkan kemudi yang tiap detik terus memutar ke kiri dan ke kanan, mengikuti jalan yang berkelok-kelok.

Pante Peusangan yang menjadi tujuan kami, berada di km 35, berbatas langsung dengan Kabupaten Bener Meriah. Gampong yang berada di ceruk gunung dan berada di pinggir sungai Peusangan, adalah “pintu gerbang” sekaligus “juru kunci” penjaga “kedaulatan” Bireuen yang terus berdinamika dengan kabupaten tetangga. Sudah sejak lama ribut-ribut soal tapal batas bergemuruh di sana. Para pejabat tinggi pun sudah pernah turun ke sana. Laiknya konflik dengan gajah yang juga terjadi di sana, demikianlah konflik batas. Awet.

Camat Juli Doli Mardian, di jembatan gantung Pante Peusangan. (Muhajir Juli)

Pante Peusangan bukan kawasan asing bagi saya. Kala konflik menghumbalang Aceh, saya pernah melintasi kampung di tengah rimba itu. Rumah-rumah penduduk tinggal abu. Ilalang dan pepohonan rimba menguasai tiap jengkal tanah. Seumpama kampung hantu, derap ketakutan begitu kental di setiap inci tanah.

Jalan menuju ke Pante Peusangan, bangatlah buruk. Tidak sembarang kendaraan bisa mengaksesnya. Jalan yang dibangun di atas punggung gunung, aspalnya telah mengelupas. Lubang-lubang besar terpampang di tiap meternya. 1/2 km jelang masuk ke permukiman, rabat beton sudah dilakukan. Walau sempit, tapi mulus untul dijejali ban kendaraan. Sumber pembangunan berasal dari Dana Desa yang dikucurkan Pemerintah Pusat sejak 2014.

Fasilitas publik seperti meunasah, kantor desa dan jalan lingkungan telah dibangun. Di sini, semangat gotong royong masih sangat tinggi. Warganya ramah dan selalu sedia bersinergi dengan keuchik dan perangkat gampong. Kampung ini masih sedikit dihuni warga. Jumlah DPT hanya sekitar 150 orang saja. Pun demikian perhatian dari politikus sudah masuk ke sana. Mubaraq, salah seorang anggota DPRK Bireuen, ikut menaruh perhatian di sana. Kala saya berkunjung, baliho politiknya dipasang di sebuah warung.

***

Doli adalah camat yang paling sering mengunjungi Pante Peusangan. Kepada saya ia mengatakan bahwa kampung itu memang harus diperhatikan. “Ini bukan soal jumlah penduduk, tapi tentang tanggung jawab dan kemanusiaan. Saya harus mengayomi seluruh rakyat Juli, termasuk Pante Peusangan,” kata Camat Juli sembari menyetir.

Mendung sudah menggantung di langit, kala kami berhenti di dekat jembatan gantung yang sempit. Mobil tak bisa melintas. Kami turun sembari menenteng durian yang dibeli Keuchik Syamsuddin–Keuchik Pante Peusangan– di dekat pintu gerbang desa. Setelah sejenak memotret panorama, kamu turun ke bawah, sekitar 10 meter dari jembatan, sebelah kiri.

Sekitar enam butir durian kami belah. Awalnya yang menjadi “eksekutor” adalah Doli. Tapi camat muda itu kurang cakap soal membelah durian. Selanjutnya tugas itu diambil alih oleh seorang pemuda di sana, yang lupa saya tanyakan namanya.

Kala Camat Juli (bertopi) mencoba membelah durian. Sebuah usaha yang sia-sia. (Muhajir Juli)

Begitu durian itu dibelah, kami pun sigap mencomotnya bulir per bulir. Hmmm, rasa durian yang maknyus. Ada dua tipe durian, pertama durian mentega, tidak begitu lengket, serta agak ringan. Serta durian berwarna putih yang dagingnya becek, aromanya sangat kentara. Paduan soda dan teror khas durian. Hehehe.

Bila ketika menyantap durian mentega kami lakukan dengan gagah perwira, maka kala durian becek itu dibuka, kami semua mempersiapkan mental yang lebih. Maklum, semua takut akan serangan kolesterol. Saya hanya menyantap dua butir saja. Total ada sekitar sembilan butir semuanya yang saya makan. Efeknya, kala tiba di rumah saya harus segera minum obat anti kolesterol. Sendawa yang acapkali keluar karena gas durian, membuat Doli harus sering membuka kaca jendela mobil ber AC itu kala kami pulang. Saya adalah juara sendawa kala itu.

***

Hujan deras mengguyur Pante Peusangan. Oleh seorang warga memberikan tumpangan kepada saya. Ia memacu sepeda motor Honda Karisma bututnya menerabas hujan. Jembatan gantung sempit dia lalui dalam hitungan di bawah tiga menit. Kepada saya ia bercerita bila sepeda motor itu sangat prima. Pernah tercebur ke dalam sungai, tapi tetap bisa menyala kala dihidupkan. Sepeda motor itulah yang ia gunakan sehari-hari untuk beraktivitas mencari nafkah keluarga.

Camat Doli dan tiga temannya tetap istiqamah mandi. Mereka menceburkan diri ke dalam sungai kecil yang alurnya berakhir di sungai peusangan, tepat enam meter dari tempat mereka mandi. Walau hujan deras mengguyur, Doli tak peduli. Godaan sejuknya air, dan panasnya durian, menjadikan mereka seperti kanak-kanak yang baru bertemu hujan, setelah setahun kemarau.

Pante Peusangan, memiliki panorama yang aduhai. Bila kita berdiri di jalan Nasional, kita akan melihat kampung itu berada di ceruk gunung. Mengikuti kontur alam yang menawan. Kabut tebal kerap menutupi hijaunya hutan, yang kini tidak lagi begitu lebat.

Nun di lembah, Gampong Pante Peusangan berada di ceruk gunung. (Muhajir Juli)

Kampung ini berada langsung di tepian rimba. Gajah, harimau, rusa dan binatang hutan lainnya, kerapkali terlihat di sana. Ikan kerling dan sidat, merupakan penghuni tetap sungai di sana.

Jangan berharap Anda bisa meracun ikan-ikan itu. Keuchik Syamsuddin dan seluruh warga sepakat untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ikan hanya boleh dipancing, dijala atau dipasang bubu.

Durian adalah tumbuhan yang bisa tumbuh dan berbuah di sini. Rasanya pun sangat lezat. Warga di sana kini pun sedang giat-giatnya menanam durian. Mungkin, lima atau enam tahun lagi, kawasan ini akan jadi sentra durian.

Jalan desa yang meliuk-liuk menyesuaikan diri dengan alam, juga memberikan pemandangan yang indah. Kala kita berada di atas bukit, sajian alam berupa panorama akan membentang, menyejukkan mata dan menentramkan jiwa.

Di Pante Peusangan, sangat cocok untuk berfoto. Tiap jengkal tanahnya adalah keindahan. Paduan tanoh Gayo dan Bireuen tersaji di sini.

Panorama Pante Peusangan. (Muhajir Juli)

Kendala pembangunan hanyalah soal jalan dan jembatan yang layak. Pun demikian, Pemerintah Bireuen pada tahun 2019 sudah mencanangkan pembangunan jembatan rangka baja dan jalan terobos. Jalan di sana akan dibangun lebih representatif, dan menghubungkan Pante Peusangan dengan gampong Salah Sirong Jaya di Kecamatan Jeumpa. Bila itu maujud, kelak kampung ini akan maju. Tapi tantangan baru pun tersaji. Para bandit lingkungan dan galian C, akan sangat leluasa menebang hutan, karena akses ke sana sudah terbuka lebar.

Syamsuddin paham akan resiko itu. Kunci ada di tangannya, bila pemerintah mau mendukung. Syam bercita-cita ingin gampong yang ia pimpin sebagai wilayah ekowisata. Dia telah melakukan studi banding ke negara lain termasuk Thailand.

“Kita jadikan alam sebagai sumber pendapatan. Kekayaan aneka ragam hayati di sini sebagai sumber pendapatan. Kami butuh jalan menuju hutan, jalan yang representatif agar keindahan alam di sini menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan pendapatan bagi warga. Kelak gajah bukan lagi masalah, tapi sesuatu yang bisa mendatangkan uang, hanya dengan menonton mereka merumput di lembah,” kata Syamsuddin.

Camat Juli paham apa yang diimpikan oleh mitra kerjanya itu. Tapi semua itu tidak bisa serta merta. Diakomodirnya jembatan rangka baja dan jalan terobos ke sana merupakan bentuk perhatian pemerintah untuk mempercepat kemajuan Pante Peusangan.

” Ekowisata sangat menarik. Tapi semua tidak bisa sekaligus. Pembangunan jembatan rangka baja yang bernilai milyaran Rupiah dan pembangunan jalan di sana melalui rute baru adalah hal besar. Itu perjuangan kita bersama dan bentuk keseriusan Pak Bupati untuk membangun daerah ini,” kata Doli.

Doli berharap, Keuchik Syamsuddin terus melakukan inovasi-inovasi kecil lainnya, kelak bila jembatan selesai, jalan selesai, Pante Peusangan memiliki sesuatu yang mampu menarik animo publik untuk datang ke sana.

KOMENTAR FACEBOOK