Belajar Sejarah di Masjid Nurul Huda Pulo Kambing Aceh Selatan

Masjid Nurul Huda Pulo Kambing Kluet, Aceh Selatan @aceHTrend/Yelli Sustarina

ACEHTREND.COM, Tapaktuan – Sejumlah santri Taman Ramadan Gampong Air Sialang, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan belajar ke situs sejarah Masjid Pulo Kambing Nurul Huda Aceh Selatan. Para santri mengunjungi tempat ini dalam kegiatan wisata religi bersama Ketua PKK Aceh Selatan, Jasnimar Jakfar, Rabu (2/1/2019).

Menurut keterangan juru kunci Masjid, Umarsyah, masjid ini dijadikan sebagai situs sejarah pada tahun 1983.

“Saat itu Pak Adnan Daud dari Dinas Pariwisata Aceh Selatan yang menetapkan masjid ini sebagai situs sejarah,” katanya.

Masjid peninggalan sejarah ini didirikan pada masa Kesultanan Aceh terakhir, yaitu T. Muhammad Daud. Sistem pemerintahan pada masa itu masih sistem pemerintahan kerajaan Aceh. Tepatnya pada tahun 1909 T. H. Ali Basyha bin Kejrun Raja Mukmin mendirikan masjid Nurul Huda Pulo Kambing untuk wilayah Kejrun Kluet.

Kejrun adalah pemerintahan setingkat kabupaten. Pada saat Masjid Nurul Huda Pulo Kambing dibangun, Kejrun Kluet berada di masa pemerintahan Raja Mukmin (Kejrun ke-10). Kemudian dilanjutkan oleh anaknya Meurah Adam. Saat inilah masjid ini selesai dibangun berkat sedekah dan kerja sama masyarakat setempat.

Para santri mendengarkan penjelasan dari Umarsyah @aceHTrend/Yelli Sustarina

Sejak awal dibangun sampai sekarang bentuk dan fisik masjid ini tetap sama. “Ada dua hal yang tidak boleh diubah dari masjid ini, yaitu mengubah bentuk dan bahan bangunannya. Jika ingin memugarnya harus menggunakan bahan yang sama. Misalnya papan, diganti dengan papan, kayu dengan kayu,” ujar Umarsyah saat menjelaskan sejarah masjid kepada santri.

Di dalam masjid terdapat empat tiang kayu yang bertuliskan kalimat tauhid. “Kayu tersebut diambil dari hutan dan ditarik oleh warga sampai ke tempat ini. Saat hendak menegakkan tiang-tiang tersebut, salah satu tiang mengeluarkan air. Kemudian oleh warga diberi batas supaya tidak mengganggu orang salat,” lanjut Umarsyah.

Hingga sekarang air tersebut masih ada dan biasanya digunakan oleh pengunjung luar daerah untuk berwudu. Namun, semenjak pembatas airnya dicor dengan semen dan dikeramik, airnya tidak begitu banyak lagi keluar.

“Kadang airnya banyak, kadang sedikit. Sewaktu-waktu ada yang terisi penuh airnya dalam lingkaran di tonggak itu.”

Struktur bangunan masjid terlihat berbeda dengan masjid pada umumnya yang mempunyai kubah besar bergaya Persia. Namun, Masjid Nurul Huda Pulo Kambing mempunyai kubah kecil yang berduri dengan atap bertingkat mirip kelenteng. Sedangkan relief dinding masjid dan tonggaknya langsung diukir di kayu.

Bila Anda ingin berwisata religi dan sejarah, tempat ini cocok untuk mengenal lebih dalam tentang sejarah Islam di Aceh Selatan. Selain itu, ada pemandu sekaligus juru kunci masjid yang bisa menjelaskan sejarah masjid yang usianya seabad ini.

Untuk bisa sampai ke mari tidaklah susah. Hanya menghabiskan waktu 45 menit dalam perjalanan menggunakan mobil atau sepeda motor dari Kota Tapaktuan. Jika menggunakan kendaraan umum dikenai biaya Rp20.000 per orang.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK