Kuala Raja, Pantai Dengan Pesona Aduhai

Ketika kami tiba, fajar masih lumayan menggantung. Pantai masih sepi. Hanya beberapa orang berlalu lalang. Nun di barat, seseorang baru saja usai buang hajat. Datang sepagi ini, sering ada kejutan-kejutan bila terlalu jauh melangkah, menjauhi lepau-lepau yang dibangun di bawah cemara.

Dua belahan jiwa saya, Senin (31/12/2018) segera menghambur ke luar, begitu pintu mobil dibuka. Mereka kegirangan kala melihat laut, ditambah lagi dengan adanya wahana bermain anak. Andaikan istri saya tidak membujuk, sungguh mereka akan mengabaian sarapan pagi nasi bungkus Kak Woini yang kami beli di salah satu warung kopi di Teupin Manee, Juli, Bireuen.

Hari itu saya dan keluarga memang sudah merencanakan untuk berwisata. Kami kerap memilih tanggal di mana sebuah objek minim kunjungan. Di antara banyak tujuan, beberapa di antaranya adalah agar ibu saya bisa leluasa, pengawasan mudah serta saya dimudahkan untuk mempelajari kawasan tujuan. Karena nyaris tidak ada tempat yang saya datangi, yang tidak saya tulis.

Ketika kami tiba sekira pukul 06.30 WIB, pintu gerbang objek wisata Kuala Raja, sudah dibuka. Bisa jadi juga tidak ditutup lagi setelah dibuka seusai magrib. Maklum, jalur itu walau berada di lingkungan tempat wisata yang dikelola oleh warga Gampong Kuala Raja, Kecamatan Kuala, Bireuen, juga sebagai jalan lalu lintas para nelayan.

Kala kami tiba, mentari pagi tidak lagi bersemburat merah. Sepenuhnya telah cerah. Air laut terlihat biru, bayang- bayang pepohonan masih mengarah ke barat.

Laut tidak gaduh. Ombak mengalun ramah, seolah-olah saling berkejaran seperti murid SD kala jam istirahat tiba. Camar sepertinya tidak beraktivitas. Atau mungkin saja belum bangun tidur. Camar mah bebas, bisa sesuka hati, walau sejatinya binatang adalah makluk paling disiplin di dunia. Pagi itu tidak seekor camar pun terbang di atas ombak. Mungkin juga mereka membiarkan ikan-ikan kecil menikmati penghujung tahun 2018.

Saya menyapu pandangan ke arah selatan. Di kejauhan, Gunong Goh dan Gunong Geureudong, terlihat dengan silut biru. Saya mengalihkan pandangan ke barat. Di sana, di ujung pandangan, Gunong Seulawah menjulang.

Saya memilih berkeliling setelah satu jam menemani putra-putri saya bermain di tepi laut. Mereka berkejaran di bibir pantai Selat Malaka, sembari sesekali melompat, dan juga sibuk membangun istana dari pasir pantai yang basah.

Sekelompok orang yang semenjak kami tiba sibuk merapikan pukat, kini sedang mendorong perahu kecil mereka ke laut. Seorang di antara mereka perempuan. Ia sepertinya tidak mau kalah dengan para lelaki kekar itu. Mereka adalah nelayan yang sedang mempersiapkan pukat darat. Saya sempat berinisiatif hendak membeli hasil tangkapan mereka, minimal dua kilogram. Tapi urung saya lakukan. Mereka melabuhkan hasil kerjanya di pagi itu, jauh dari tempat kami berada.

Tidak jauh dari pantai ini, deretan bakau muda telah bertumbuh dengan rapi. Menurut cerita warga, bakau adalah rumah bagi kepiting. Tapi, kepiting di dalam hutan bakau itu tidak sempat membesar. Karena tiap hari diburu, baik untuk dimakan, maupun dijual. Mie bing, alias mie Aceh dengan campuran kepiting, adalah salah satu kuliner paling populer di Bireuen.

View Pantai Kuala Raja

Bagi Anda penyuka fotography, khususnya pemburu sunrise, Pantai Kuala Raja layak masuk rekomendasi. Pantainya landai, luas, serta memiliki tanggul penahan ombak di bahagian ujung, sangat cocok untuk mengabadikan ritual pagi matahari.

Kawasan pantai ini juga surga para pemancing. Saya sering mendengar kisah sukses joran yang disambar ikan di pantai ini. Strike!

Di pantai ini, bila Anda beruntung, akan berkesempatan bertemu dengan para tetua yang merupakan mantan nelayan. Mereka tidak akan segan berbagi cerita tentang petualangan di laut. Seperti pagi itu, saya mendapatkan cerita sembari kami menyeruput kopi pagi. Di bawah cemara pantai, saya menyimak cerita mereka yang mengasyikkan.

Di sini juga ikan-ikan berkualitas eksport kerap dipacking. Sebelum mereka mengikat tak ikan-ikan itu, siapa saja berkesempatan untuk membeli. Tuna adalah ikan yang paling sering ada di sana soal harga, tenang, nelayan Kuala Raja dan toke bangkunya, ramah dan baik hati. Mereka tidak akan mengerjai Anda.

Ketika hendak beranjak pulang, seorang lelaki tua, yang merupakan mantan nelayan, memberikan saya hadiah. Seekor ikan keluarga tuna seukuran betis saya. Katanya sebagai oleh-oleh. Namanya Teungku Insya–maaf bila salah– yang oleh seorang teman saya di sana, disebut sebagai nelayan senior yang berkharisma. Ia masih keluarga Panglima Hamzah, tapi saya tak paham, Hamzah yang mana? T. Hamzah Bendahara? Mungkin saja.

Bilapun saya harus mencatat masukan, wahana bermain anak-anak harus direnovasi. 80% sudah rusak. Selebihnya, kebersihan perlu ditingkatkan.

Ayo ke Kuala Raja!

KOMENTAR FACEBOOK