Mahmud, Adik Ipar Mualem yang Berdagang untuk Membantu Perjuangan GAM

M. Nur Djuli, bersama sejumlah peserta diskusi ringan tentang buku: The Long and Winding Road To Helsinki, Aceh Dalam Perang dan Damai. Kegiatan itu digelar di Bireuen Partee Coffee Shop, Bireuen, Kamis (3/1/2018). BUku tersebut mengungkap banyak fakta sejarah yang sebelumnya belum diketahui publik. (Muhajir Juli/aceHtrend)

Maret 2001, M. Nur Djuli mendapatkan panggilan dari Meuntro Malek–Malik Mahmud– untuk segera datang ke Stockholm, membantu dirinya dalam perundingan antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Pemerintah Indonesia yang akan berlangsung di Jenewa.

Perundingan itu merupakan lanjutan upaya mencari jalan damai bagi persoalan Aceh, setelah Humanitarian Pause of Hostilities (Jeda Kemanusiaan) mengalami kegagalan karena tingginya rasa curiga di kedua belah pihak.

Atas panggilan dari Malik Mahmud, Nur Djuli kemudian melakukan segenap upaya mengumpulkan dana untuk keberangkatan ke sana. Kala itu, dia menyampaikan kendala keuangan kepada Mahmud, adik ipar Muzakir Manaf, yang diangkat sebagai Panglima Teuntra Neugara Atjeh (TNA) setelah gugurnya Abdullah Syafi’i di rimba Jiejim, Pidie Jaya.

Dalam bukunya yang berjudul The Long And Winding Road To Helsinki (Aceh Dalam Perang dan Damai) diterbitkan oleh Kawat Publishing, Nur Djuli menulis, Mahmud yang telah menjadi pendukung kuat GAM sejak lama, merupakan pengusaha kedai kelontong yang memiliki tiga unit kedai di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam kesehariannya, walau termasuk sukses mengelola bisnis, Mahmud dan keluarga hidup sederhana. Mereka menetap di sebuah flat kecil dua kamar bersama istri dan tiga anaknya. Keuntungan niaga yang ia peroleh, sebagian besar diserahkan untuk perjuangan GAM.

Mahmud juga memiliki hubungan yang dekat dengan Malik Mahmud. Atas kedekatan itu pula Mahmud ditugaskan menjalankan hal-hal rahasia, bahkan ketika Muzakir Manaf masih berlatih di Camp Tanzura, Libya, hubungan antara Malik dan mahmud sudah melekat erat. Atas kedekatan itu pula Mahmud pun memberikan nama anak sulungnya: Malik.

Nur Djuli melanjutkan catatannya, atas bincang-bincangnya dengan Mahmud, akhirnya semua kebutuhan keberangkatan ke Swedia, ditanggung sepenuhnya oleh Mahmud, baik memakai uang pribadinya, maupun hasil usaha Mahmud mengumpulkan dari teman-temannya.

“Ini memang suatu hal yang lumrah waktu itu, karena Kuala Lumpur adalah salah satu sumber keuangan GAM yang utama, dan tidak pernah terjadi pimpinan Kuala Lumpur meminta dana dari Stockholm untuk tujuan apapun.” tulis Nur Djuli.

Banyak hal menarik yang dikupas dalam buku memoar Nur Djuli tersebut. Buku yang ditulis selama bertahun-tahun dengan penuh kehati-hatian dan sangat teliti tersebut, memiliki banyak catatan tentang sejarah, baik yang sudah kita ketahui maupun yang menjadi wawasan baru, bersebab minimnya literatur tentang itu, sebelumnya. Termasuk juga mengungkap fakta tentang desas-desus yang menyebutkan bahwa Wali Neugara Hasan Ditiro telah ditipu oleh Malik Mahmud. Benarkah Malik Mahmud telah menipu Wali Neugara? Buku ini mengungkapkannya secara detail. []

KOMENTAR FACEBOOK