Berziarah ke Makam ‘Mbah Oboh’ Hamzah Fansuri di Subulussalam

@aceHTrend/Yelli Sustarina

ACEHTREND.COM, Subulussalam – Barangkali ada yang belum mengetahui bila ulama besar sekaligus sufi bernama Syeikh Hamzah Al-Fansuri dipanggil Mbah Oboh di Runding, Subulussalam. Makamnya yang berada di Desa Oboh, Kecamatan Runding, Kota Subulussalam menjadi tempat yang sangat sakral dan jadi tujuan peziarah.

Pasalnya setiap kali hendak membuka lahan untuk bertani, masyarakat setempat mendatangi makam tersebut dan berdoa kepada Allah Swt agar diberikan kemudahan saat bertani. Begitulah yang disampaikan oleh penjaga makam Syeikh Hamzah Al-Fansuri, Ali Akbar.

Ketika para santri Taman Ramadan dari Desa Air Sialang, Samadua, Aceh Selatan berziarah ke tempat ini, penjaga makam tersebut sempat menjelaskan tentang panggilan Mbah Oboh kepada Syeikh Hamzah Al-Fansuri.

“Syeikh Hamzah Al-Fansuri berasal dari Barus. Kedatangannya ke mari awalnya untuk mencari kehidupan baru dan membuka lahan pertanian sambil melakukan syiar agama Islam. Sesampainya di Desa Oboh, ia mencoba menanam padi seperti daerah sebelumnya yang pernah ia temui. Ia menanam padi lima bambu dan hasil panen yang didapat juga lima bambu. Di sinilah dia mengatakan bahwa tanah di Oboh adalah tanah yang jujur,” ungkap Ali Akbar memberikan penjelasan kepada para santri, Rabu (2/1/2019).

Makam Mbah Oboh selalu dijaga oleh masyarakat setempat. Menjelang magrib, biasanya sejumlah laki-laki melakukan zikir bersama di makam Syeikh Hamzah Al-Fansuri. Makam itu berada di dalam ruangan yang ditutupi dengan kelambu berwaran kuning. Terdapat dua batu nisan di dalamnya yang dipercayai sebagai makam Syeikh Hamzah Al-Fansuri dan istrinya.

Sedangkan di luarnya ada makam mertua perempuan dan laki-lakinya serta murid Syeikh Hamzah Al-Fansuri. Tempat tersebut sekarang sedang direnovasi dan dibuat seperti bentuk masjid.

Menurut penjaga makam, di sinilah makam Syeikh Hamzah Fansuri yang sebenarnya karena sudah ditetapkan oleh pemerintah secara nasional pada tahun 2000. Selain itu Pemerintah Kota Subulussalam telah menetapkan makam ini sebagai Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala. Hal ini terlihat dari plang tulisan yang didirikan menghadap ke Sungai Runding.

Di gapura gerbang masuk ke makam juga ada tulisan demikian. 
Di kompleks makam ini juga terdapat beberapa makam kuno lainnya. Kini dijadikan sebagai tempat wisata religi bagi sebagian orang yang ingin mengenal sosok Syeikh Hamzah Al-Fansuri seperti para santri Taman Ramadan ini.

Lokasi makam ini berjarak 12 kilometer dari Kota Subulussalam dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit menggunakan kendaraan bermotor. Bila Anda hendak mengunjungi tempat ini janganlah datang di musim hujan karena kondisi jalannya yang kurang bagus dan rawan banjir. Sebaiknya datang di waktu siang dan jangan terlalu sore karena makam ini tidak dibuka pada sore dan malam hari.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK