Mencapai Kemandirian Bawang Merah di Aceh

Petugas Kepolisian Ditpolair Polda Aceh berhasil menyita bawang merah ilegal dari perairan laut Aceh Tamiang dengan menggunakan KP Hayabusa dan KP Gelatik di Pelabuhan Kuala Langsa, Aceh, Kamis (26/5/2016). Sebanyak 90 ton bawang merah ilegal asal Malaysia dan Thailand disita dari KM Sumber Rezeki dan KM Sempurna, selain itu petugas juga berhasil mengamankan 11 anak buah kapal (ABK). ANTARA

 Oleh Furqan*)

Beberapa hari yang lalu penulis menyempatkan diri untuk menelusuri salah satu komoditas dapur yaitu bawang merah. Hal ini sangat menarik untuk dikaji karena beberapa hal. Pertama, komoditas ini termasuk bahan pokok yang harus dipenuhi sebagaimana tertuang dalam perpres RI  nomor 71 tahun 2015. Kedua, harga di pasaran cenderung fluktuatif. Ketiga, penulis juga sering melihat penyitaan bawang merah illegal oleh pihak kepolisian. Artinya market share terhadap komoditas bawang merah sangat besar.

Selanjutnya menjadi pertanyaan terbesar bagi penulis apakah selama ini kita belum mandiri dalam memproduksi bawang merah? Jika memang benar demikian, apa solusi yang harus dilakukan? Di bawah ini penulis mencoba memberikan sedikit pandangan dengan menghadirkan beberapa data faktual terkait kondisi komoditas bawang merah dan solusi kedepannya.

Kemandirian Ekonomi

Kemandirian adalah suatu sikap yang mengutamakan diri sendiri dalam menghadapi berbagai masalah tanpa menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan pihak luar yang saling menguntungkan (mukeri:2012)[.

Sedangkan ekonomi sendiri didefinisikan “An economy (from Greek oikos –“household”and nomos-“manage”) is an area of the production,distribution, or trade,and consumption of goods and service by different agents”.Secara luas kita bisa memahaminya ’the economy is defined as social domain that emphasizes the practices,discourses,and material expressions associated with production, use, and management of resources”.

Jadi ringkasnya kita bisa memahami bahwa kemandirian ekonomi adalah kemampuan  agen ekonomi (masyarakat,pemerintah dan swasta) dalam suatu daerah untuk melakukan kegiatan produksi distribusi dan konsumsi ,di mana semua pihak saling memberikan kontribusinya masing-masing.

Ada tiga  prinsip kemandirian ekonomi (Columbia law school :2016) yaitu:

a. Membangun ekonomi nasional secara mandiri yang bebas dari ketergantungan pada ekonomi Negara lain,tetapi berdasarkan pada kekuatan ekonomi sumber daya domestik

b.Membangun  ekonomi yang berorientasi pada membangun kemakmuran rakyat

c.Menentang dominasi ekonomi asing dan penjajahan,tetapi tidak mengesampingkan kerja sama ekonomi internasional

Defisit Bawang Merah

Bawang merah adalah  salah satu komoditas yang digunakan untuk bumbu masak dan bahan dasar industry obat-obatan.Berdasarkan hasil rilis berita dari rri.co.id, Kepala Bidang holtikultura Cut Rita Mutia mengatakan bahwa “kebutuhan bawang merah untuk tahun 2016 saja mencapai 33.354 ton sedangkan Aceh hanya mampu memproduksi 6.750 ton”Artinya berdasarkan data di atas, defisit bawang merah mencapai 26.604 ton.

Selanjutnya mari kita konversi dalam satuan rupiah, dengan kebutuhan bawang merah 33.354 ton dikalikan dengan harga pasar tingkat produsen rata-rata Rp.15.000/kg saja maka hasilnya Rp. 500,310,000,000.00 (Lima ratus milyar Tiga ratus sepuluh juta Rupiah). Sayangnya berdasarkan data di atas kita hanya mampu memenuhi permintaan pasar sebesar 20,23%  (6.750 ton) atau sekitar Rp.101,250,000,000.00  (Seratus satu milyar dua ratus lima puluh juta rupiah) sisanya 79,77 %   (26.604 ton) atau Rp.399,060,000,000.00 (Tiga ratus sembilan puluh sembilan milyar enam puluh juta rupiah ) masih harus di pasok dari luar daerah.

Peran Pemerintah

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 71 tahun 2015 Tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting, Pasal 2 ayat 6 menyebutkan bahwa jenis barang kebutuhan pokok meliputi: 

1.Hasil pertanian yaitu beras, kedelai bahan baku tahu dan tempe,cabe dan bawang merah.

2.Hasil industri yaitu gula,minyak goreng tepung terigu.

3.Peternakan yaitu daging sapi,daging ayam ras,telur ayam ras, ikan segar yaitu ikan bandeng,kembung,tongkol/tuna/cakalang.

Selanjutnya dalam  Pasal 3 Ayat 2 menyebutkan bahwa “untuk mengandalikan ketersediaan dan kestabilan harga Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting sebagaimana dimaksud pada ayat (1),Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya,secara sendiri atau bersama-sama,bertugas:

a.meningkatkan dan melindungi produksi

b.mengembangkan sarana produksi

c.mengembangkan infrastruktur

d.membina Pelaku Usaha

e.mengembangkan sarana perdagangan

f.mengoptimalkan perdagangan antar pulau

g.melakukan pemantauan dan pengawasan harga

h.melakukan pemantauan dan pengawasan harga

i.mengelola stok dan logistik

j.meningkatkan kelancaran arus distribusi

k.mengelola impor dan ekspor; dan

l.menyediakan susbsidi ongkos angkut di daerah terpenci,terluar, dan perbatasan”.

Sampai disini kita sudah paham betul apa saja peran dan tugas pemerintah dalam memenuhi dan menjaga kebutuhan pokok.

Solusi

Nah di sini penulis menganggap bahwa upaya penyelesaian pemenuhan kebutuhan pokok khususnya bawang merah harus melibatkan semua pihak. Pemerintah dengan kekuatan perundang-undangannya memiliki kekuatan untuk mengikat semua pihak. Perusahaan milik pemerintah daerah  dan swasta yang bergerak di bidang  pertanian dan perbankan  memiliki berbagai teknologi dan kemampuan modal yang mendukung misi ini,disisi lain peran petani sebagai penyedia lahan dan salah satu eksekutor dilapangan juga tidak dapat diabaikan. Artinya baik pemerintah, perusahaan milik daerah , swasta  dan petani harus disinergikan untuk menyelesaikan permasalahan ini dan otomatis penulis yakin ketiga pihak akan sama-sama diuntungkan.

Penulis mengusulkan Bank Aceh untuk mengambil peran yang besar dalam melakukan tugas ini. Bank Aceh nantinya akan membuat unit bisnis yang berbasis mudharabah (bagi hasil) di mana produk ini fokus pada bisnis bawang merah, setiap investor yang ingin berbisnis bawang merah tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang komoditas ini bisa menginvestasikan uangnya pada produk ini. Bank selanjutnya merekrut para instruktur pertanian, lembaga penelitian pertanian untuk berpatisipasi tentunya dengan pembagian keuntungan sesuai kesepakatan.

Ringkasnya ada tiga pihak yang terlibat, yaitu:

a. Bank selaku pihak yang mencari dana dan menyalurkan dana

b. Praktisi dan lembaga yang bergerak di bidang pertanian bisa berupa lembaga pendidikan,lembaga bisnis/perusahaan sebagai pengawas,penanggung jawab,penyalur bibit,pupuk,obat obatan dan segala perlengkapan lainnya dalam budidaya bawang merah

c. Petani sebagai pihak yang memiliki kebun dan selanjutnya akan dibina oleh instruktur pertanian sampai menghasilkan bawang merah.

Manfaat

Adapun penerima manfaat dari program ini,yaitu:a. Konsumen  -harga bawang merah terjangkau dan juga menjaga daya beli masyarakat. b.Bank Aceh :-Keuntungan yang lebih besar. Memaksimalkan peran Bank Syariah dalam melakukan tugasnya (maqashid syariah) c.shahibul mal/investor            :-Memperoleh keuntungan tanpa harus mengeluarkan uang banyak untuk berbisnis di bidang ini. Kemudian mendapat partner bisnis yang handal dan terpercaya. d.Mudharib/manager  :-Petani mampu memaksimalkan penggunaan lahan nganggur. Menambah penghasilan dan kesejahteraan petani. Pihak penyedia bibit dan obat obatan akan mendapat tambahan pendapatan. memaksimalkan peran sarjana pertanian dan lembaga riset pertanian. e.Pemerintah  :Berhasil menjalankan tugasnya sesuai yang tercantum dalam perpres RI  nomor 71 tahun 2015

*)Penulis Adalah Mahasiswa IAI Almuslim Aceh, jurusan Perbankan Syariah. Aktif sebagai Kabid Pengembagan Intelektual HMI MPO Bireuen.

KOMENTAR FACEBOOK