Politik Celana Dalam

CELANA DALAM sekarang sedang viral. Sama viralnya dengan Pilpres 2019. Keduanya seperti rantai, satu sama lain, membantu.

Memang, politik itu mirip-mirip nasib Celana Dalam, kita singkat saja CD. Permainannya di wilayah persepsi.

Entah karena itu, istilah Politik Celana Dalam pernah disebut Milos Zeman, Presiden Ceko. Entahlah!

Tahun 2015 juga ada humor CD dikaitkan dengan politik.

Dikisahkan, Suep langsung berteriak menyebut nama-nama partai setiap kali melihat mahasiswi menjemur CD-nya. Jika warna merah, Suep meneriakkan partai yang dominan dengan warna merah.

Sekarang pun di Pilpres orang mengintip untuk tahu apa warna pilihan politik orang. Dengan politik ambang batas, makin mudahlah untuk tahu warna pilihan politik Cebong dan Kampret.

Saya pernah bilang, untuk tahu orientasi dukungan seseorang lihat saja warna CD-nya. Di  wilayah kami, ada rekan yang jika duduk, terlihat warna CD-nya, dan warna itu mewakili afiliasi politiknya.

Zaman tempo doeloe, berdasarkan kisah milik Paul I. Wellman, juga ada kisah dibalik CD, yang kala itu lebih populer dikisahkan lewat sosok pelacur jalanan di masa Byzantium.

Theodora, begitulah nama dalam roman itu. Dilukiskan sebagai sosok pelacur jalanan, yang juga hidup di tepi jalan tapi berhasil masuk dan akhirnya menjadi  pengatur kerajaan dari dalam.  Sang Pangeran Bizantyum, Yustinianus, menjadikannya permaisuri setelah terperangkap bayangan CD, milik Theodora.

Nasib Theodora yang berubah berkat hayalan akan CD milinya,  sepertinya menginspirasi politisi di Pilpres 2019, yang berlomba ingin tahu CD atau orientasi politik publik, dan ketika semakin bisa diintip maka semakin mudah mereka masuk ke istana, untuk memerintah negeri.

Azas rahasia benar-benar telah tersita, seperti tersitanya CD berwarna unggu milik V yang ikut diumumkan ke publik itu.

Oleh: Cut Kaspani Wulandari

Perempuan Kampung Berdomisili di Tepi Kota

KOMENTAR FACEBOOK