Julaibib, Sahabat Rasul yang Dimuliakan Langit

Ilustrasi, dikutip dari internet.

Prof. Dr. Mohammed Rateb Al Nabulsi*)D

Ada seorang sahabat Baginda Rasulullah Muhammad SAW bernama Julaibib. Ia fakir miskin, pakaian compang-camping, perut lapar, kaki telanjang, keturunan tidak jelas, tidak punya harta, tahta dan klan. 

Ia tidak punya rumah tempat berteduh, konon pula perabotan indah. Tidak pula ia memiliki barang-barang berharga. Minum dari wadi-wadi (sumur kecil) umum dengan kedua telapak tangannya.  Ia   tidur di masjid, lengannya sebagai bantal, bantalnya tanah. Wajahnya penuh noda.

Namun, ia ahli dzikir, ahli baca kitab Tuhannya, tidak pernah absen dari shaf pertama dalam setiap shalat, juga tidak pernah absen dari setiap peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah, serta selalu berusaha menghadiri setiap majlis Rasulullah. 

Pada suatu hari, Baginda Nabi bertanya kepadanya, “Wahai Julaibib, apakah engkau tidak ingin menikah?” 

Julaibib menjawab, “Siapakah yang mau menikah denganku, duhai Rasulullah?”

“Aku yang akan menikahkanmu — mencarikanmu istri,” jawab sang junjungan alam. 

Julaibib menatap wajah Baginda Rasul seraya berkata, “Aku ini orang terbuang”. 

“Namun di sisi Allah, engkau bukan orang yang terbuang,” balas Rasulullah tersenyum. 

***

Di satu hari, seorang sahabat Anshar yang telah wafat menantu (suami putri)nya pergi menjumpai Baginda Nabi. Lalu, menawarkan putrinya untuk dinikahi Rasul. 

“Ya,” jawab Baginda Rasul

Seketika membuncah kebahagiaan dan kebanggaan dalam dada sahabat itu. Sebab, dalam khayalannya, anak perempuannya akan dinikahi Rasulullah. 

“Bukan aku yang menikahinya,” sambung Rasul. 

“Tapi siapa, duhai Rasul?” cecar sahabat tersebut. 

“Aku akan menikahkannya dengan Julaibib,” tegas Rasul 

“Duhai Rasul, engkau akan menikahkan putriku dengan Julaibib?” tanya sahabat, seolah tak percaya dengan pendengarannya. 

Terbayang masa depan suram buat putrinya, begitu Rasul menyebutkan nama Julaibib. Karena Julaibib dikenal sebagai orang yang tak jelas nasab, fakir miskin dan bertampang penuh noda. 

“Boleh aku minta waktu ya Rasul? Aku akan bermusyawarah terlebih dengan ibunya,” ujar sahabat itu dengan nada yang tak seriang tadi. 

Sahabat itu pulang ke rumah, lalu menyampaikan hal tersebut kepada istrinya. 

“Rasulullah akan melamar putrimu,” ujarnya.

“Sungguh sangat menggembirakan berita ini,” balas sang istri. 

“Tapi Rasul tidak ingin menikahinya,”

“Lalu, untuk siapa?”

“Rasul hendak melamar putri kita untuk Julabib.”

“Apa? Julaibib! Demi Tuhan, aku tidak rela menikahkan putri kita kepada Julaibib,” jawab sang istri dengan suara meninggi. 

Keributan itu memancing perhatian putri mereka yang sedang berada di kamar. Seketika sang putri keluar dan bertanya kepada ayah dan ibunya, “Siapa yang akan melamarku?” 

“Rasulullah melamarmu untuk dinikahkan dengan Julaibib,” jawab sang ayah dengan suara sendu. 

“Lantas, kalian berani menolak titah Rasulullah?” sergah sang putri. 

“Bawakan aku ke hadapan Rasul. Aku yakin, beliau tidak akan menyia-nyiakanku,” lanjut sang putri. 

***

Tak lama berselang, Rasulullah menikahkan putri sahabat tersebut dengan Julaibib. Seusai akad nikah, Rasulullah mengangkat kedua tangannyanya yang mulia sembari berdoa, 

“Ya Tuhanku, tuangkanlah yang baik pada mereka, dan jangan membuat hidup mereka sulit”. 

***

Hanya beberapa hari setelah pernikahan Julaibib. Baginda Rasul keluarga bersama sahabat-sahabatnya menuju sebuah peperangan. Termasuk di dalam pasukan itu Julaibib. Ketika peperangan usai, pasukan kembali berkumpul. Lalu, mulai mencari anggota pasukan yang belum kembali. 

Melihat hal tersebut, baginda Rasul bertanya, “Apakah kalian sedang mencari seseorang?”

“Betul, duhai Rasul. Kami sedang mencari si fulan, fulan dan fulan”. 

Tapi tidak ada nama Julaibib dalam nama-nama yang mereka sebutkan itu. Mereka melupakan Julaibib, karena memang tidak dianggap ada. 

“Tapi aku mencari Julaibib,” ujar Rasulullah. 

Seketika mereka bergerak mencari keberadaan nama tersebut di sekeliling medan pertempuran, di antara mayat yang bergelimpangan. Akhirnya, mereka menemukan Julaibib. Ia telah syahid menemui Rabbnya. 

Baginda Rasul berlutut di hadapan jasad Julaibibi yang telah terpotong-potong seraya berkata lirih, “Kamu dari aku dan aku dari kamu.”

Rasulullah duduk di sebelah jasad tersebut. Lalu, membawanya dengan kedua lengannya yang mulia sembari berkata kepada sahabat-sahabat yang lain, “Galikan kubur untuknya.”

Anas RA menuturkan, “Lalu kami meninggalkan Rasulullah untuk menggali kuburan Julaibib. Demi Allah, saat kami menggali, tidak ada kasur (baca: alas) buat potongan jasad Julaibib, kecuali lengan Rasul”. 

“Setelah kami kembali ke Madinah dan masa ‘iddah istri Julaibib berakhir. Berlomba-lomba para sahabat melamar istri almarhum,” imbuh Anas RA.

*************************

*Sumber; https://www.youtube.com/watch?v=tKtSYVzYjfM

*)Guru Besar Damascus University, lahir di Syiria 29 Januari 1939, meraih gelar Doktor bidang pendidikan dari Dublin University, Irlandia pada tahun 1999. Sedangkan gelar master diraihnya dari The University of Lyon, Prancis. 

Diterjemahkan oleh Ahmad Arif; Pendiri Lembaga Pendidikan RUMAN Aceh & Staf Qatar Charity Indonesia Cabang Aceh Sejak 16 April 2006

KOMENTAR FACEBOOK