Terisolir, Desa di Hulu Sungai Kluet Ini Hanya Bisa Diakses dengan Stempel

Alat transportasi stempel menuju Sarah Baru, Kluet Tengah, Aceh Selatan@aceHTrend/Yelli Sustarina

ACEHTREND.COM, Tapaktuan – Saat mendengar kata ‘stempel’ yang terbayang di benak kita pastilah benda mungil yang biasa digunakan untuk mencap surat-surat resmi. Namun anggapan itu akan pupus bila Anda bertandang ke wilayah Kluet Tengah di Kabupaten Aceh Selatan.

Di wilayah tersebut, kita akan melihat stempel dalam wujud sampan yang di bagian belakangnya ditempeli sebuah mesin sederhana. Mesin ini bisa dibongkar pasang. Sampan bermesin tempel inilah yang disebut sebagai ‘stempel’. Satu-satunya sarana transportasi menuju ke hulu Sungai Kluet, tepatnya di Gampong Alur Keujruen Dusun Sarah Baru, Kluet Tengah, Aceh Selatan.

Pada Sabtu, 5 Januari 2019 lalu aceHTrend memiliki kesempatan berkunjung ke desa tersebut. Merasakan sensasi berdebar naik stempel menyusuri Sungai Kluet. Menuju kampung paling ujung Aceh Selatan.

Butuh waktu sekitar tiga jam mengarungi Sungai Kluet untuk sampai ke Gampong Alur Keujruen, Dusun Sarah Baru, Aceh Selatan. Derasnya arus sungai membuat stempel tidak bisa melaju lebih cepat sehingga membutuhkan waktu lebih lama bisa sampai ke tempat yang dituju. Namun, berbeda saat turun yang searah dengan arus sungai hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam saja.

Stempel ini juga digunakan oleh masyarakat Kluet Tengah untuk pergi ke kebun mereka yang berada di sepanjang kawasan Sungai Kluet. Di situ juga terdapat pondok-pondok kecil yang digunakan sebagai tempat peristirahatan. Beberapa stempel lain sempat berpapasan dengan kami yang rata-rata penumpangnya yaitu masyarakat yang hendak menuju ke kebun. Ada juga masyarakat daerah lain yang ke mari hendak berwisata dan menikmati keindahan Sungai Kluet.

Menaiki stempel ini membuat hati dag dig dug. Pasalnya sampan ini tidak menyediakan pengaman sama sekali seperti pelampung atau tim pemantau khusus bila terjadi kecelakaan saat mengarungi sungai.

Para pengemudi stempel yang merupakan warga setempat sudah mengetahui jalur yang dilaluinya sehingga mahir menjalankan stempel tersebut. Termasuk bila melewati arus sungai yang tajam, dangkal, dalam, dan kadang juga terdapat bebatuan besar atau pohon yang hanyut di sungai.

Hanya saja yang menjadi kendala mereka ialah bahan bakar yang digunakan.

“Stempel ini menggunakan solar untuk bahan bakarnya, jadi bila harga solar naik, kami akan susah untuk hilir mudik menggunakan stempel. Warga setempat juga susah hendak ke kebun karena hanya inilah satu-satunya transportasi yang ada di sini,” ujar Ijal, yang hampir 13 tahun menjadi pengemudi stempel.

Satu orang penumpang stempel dikenai biaya Rp30.000 untuk menuju ke dermaga Sarah Baru yang ada di Gampong Alur Keujruen. Sedangkan saat turun ke hilir menuju dermaga Lawe Melang dikenai biaya Rp20.000. Ketentuan itu berlaku untuk warga setempat, itupun harus menunggu empat sampai enam penumpang dulu. Untuk satu stempel biasanya terdiri atas satu pengemudi yang berada di belakang, satu kernet (pawang) yang berada di depan, dan empat sampai enam orang penumpang yang duduk di antara pengemudi dan kernet.

Bagi yang hendak menuju ke Gampong Alur Keujruen, Dusun Sarah Baru dikenai biaya Rp300.000 untuk menyewa satu stempel. Namun, bila tujuannya hendak berwisata dan menikmati keindahan alam Sungai Kluet bisa melakukan negosiasi dengan pengemudi stempel mengenai harga biaya stempel.

Supaya mendapatkan harga yang lebih murah, hendaklah membawa teman yang berasal dari penduduk setempat. Para pengemudi akan lebih terbuka dan loyal kepada penduduk setempat, apalagi menggunakan bahasa yang sama-sama dimengerti sehingga kesepakatan harga pun dapat disepakati oleh kedua belah pihak.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK