Cikgu Seulawah, Warkop Rasa Meunasah

ACEHTREND.COM,Jantho- dua kilometer dari perbatasan Pidie-Aceh Besar, di rimba Seulawah yang tidak lebat lagi. Sebuah warung bernuansa alam, dibuka. Cikgu Seulawah namanya.

Warkop dengan meja kayu artistis dan kursi yang dibuat dari bambu, juga artistis. Kesan perpaduan alam dan kemajuan zaman.

Warkop ini agak jauh dari kumpulan kios penjual keripik ubi dan tape ubi yang menjadi khas Dataran Tinggi Saree, kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar. Juga sangat jauh dari Pasar Saree yang menjadi “ibukota” kawasan singgah itu.

Saya singgah Jumat sore, (11/1/2019). Langit mendung, cahaya matahari terkudeta awan hitam. View hutan yang sudah botak di belakang Cikgu Seulawah tidak terlihat.

Saya memesan espreso arabica, khas warkop tersebut. Teman seperjalanan saya, seorang santri alumnus pesantren modern, memesan minuman sachet. Ia tidak terbiasa minum kopi di asrama.

“Lima menit lagi Magrib,” kata seorang lelaki muda, pramusaji warkop.

Saya duduk sembari menyeruput kopi arabica. Menyetir dari Banda Aceh dengan lalu lintas lumayan padat membuat rasa lelah mendera.

Panflet warkop Cikgu Seulawah. (Muhajir Juli)

Tapi terbayarkan dengan seruput arabica di bahagian dada Gunong Seulawah, sebuah gunung api di Aceh Besar, yang sejauh ini belum pernah nakal. Tidak seperti Anak Gunung Krakatau yang bandel dan sering memperlihatkan kesangarannya, Seulawah justru seperti gajah jinak. Tidur sepanjang hari, tanpa reaksi. Mungkin ini hikmah seulaweut yang pernah dibacakan oleh para aulia pada zaman dulu.

Belum tandas kopi saya seruput, azan berkumandang. Saya kaget, saya lihat arah suara.

Seorang lelaki muda, di bagian belakang warkop yang terbuka itu mengumandangkan azan menggunakan loudspeaker yang hanya bisa didengar oleh pengunjung warkop.

Seorang pramusaji Cikgu Seulawah, sedang mengumandangkan azan Magrib. (Muhajir Juli)

Saya tertarik, walau hampir semua warung di sepanjang jalan di Aceh yang menjadi tempat singgah, menyediakan fasilitas shalat dan toilet, tapi baru warkop ini menyediakan layanan azan.

Layanan azan yang berbatas hanya untuk pengunjung warkop. Maklum, warkop ini jauh dari mesjid jauh pula dari meunasah. Jadilah ia pengganti meunasah untuk kaum “Muhajirin” yang sedang dalam perjalanan.

Kagetnya saya lantas bertambah. Ternyata di Cikgu Seulawah juga ada shalat berjamaah. Imamnya disediakan oleh pengelola warkop, makmumnya adalah para pelintas. Suara imam lumayan empuk, juga paham tata cara shalat untuk para pelintas. Bacaan ayat memang dipilih yang pendek. Usai shalat pun langsung membaca Fatihah dan salawat.

Shalat berjamaah di mushalla Cikgu Seulawah. (Muhajir Juli)

Ternyata, di Cikgu Seulawah, azan dikumandangkan setiap waktu shalat tiba, termasuk subuh. Jamaahnya, selain para pekerja di warkop itu, juga para pelanggan yang berhenti untuk istirahat di sana. Aroma sajadah panjangnya, harum. Nyaman, seakan-akan seperti di meunasah yang manajemennya diurus secara profesional.

Warkop ini juga menyediakan tempat wudhuk yang terpisah dari toilet. Toilet sendiri disediakan tempat kencing lelaki dan BAB untuk umum. Toiletnya bersih. Airnya jernih. Di depan toilet ada kolam dengan ragam ikan di dalamnya. Sayangnya karena hujan deras saya tidak bisa memotret kolam itu.

Usai shalat kami pun makan malam. Variannya banyak. Mulai dari nasi bungkus yang lazim disebut bu prang, juga ada nasi yang dijual seperti di rumah makan. Banyak jajanan lainnya termasuk tape yang dibungkus kecil-kecil sebagai kudapan sembari ngopi. Mie Aceh dan mie instan juga dijual di sini.

Pelayannya ramah, tapi masih kurang cekatan. Termasuk masih agak lama ketika membenahi meja yang ditinggal pergi oleh pelanggan. []

KOMENTAR FACEBOOK