Senja di Alue Naga dan Kisah Warga yang Bangkit Usai Tsunami

@aceHTrend/Taufin Ar-Rifai

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Hari sudah menjelang sore dan agak sedikit mendung. Sinar mentari sudah terlihat di ufuk barat. Hiasan rona merah jingga disertai angin sepoi-sepoi menambah nikmatnya suasana, yang disuguhkan kian terasa eksotik.

Lantunan ayat suci Alquran terdengar jelas di balik pengeras suara di masjid dan menasah-menasah, Jumat sore (11/1/2019).

Dari kejauhan, deru ombak terdengar jelas. Segerombolan burung bangau terbang rendah hinggap di hutan bakau. Si burung putih yang berkaki dan leher panjang terlihat asyik melayang melintasi hutan manggrove di Gampong Alue Naga.

Gampong Alue Naga merupakan salah satu permukiman yang berlokasi di wilayah Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Gampong kecil yang mayoritas penduduknya bermata pencarian sebagai nelayan ini, berjarak sekitar 15 kilometer atau sekitar kurang lebih 20 menit perjalanan dari jantung Kota Banda Aceh.

Bila sore tiba, lokasi ini menjadi incaran bagi muda-mudi untuk berswafoto ria atau sekadar menikmati indahnya sang matahari terbenam ke peraduannya.

Saat tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember 2004, desa ini termasuk salah satu daerah terparah dihantam gelombang mahadahsyat tersebut. Kendati demikian, warga setempat perlahan-lahan mulai mengembalikan kepercayaannya kepada alam. Rasa bersyukur inilah yang menjadi semangat baru untuk mengatasi trauma mereka dan menghidupkan kembali pantai yang menjadi sumber mata pencaharian utama.

Selain itu, desa ini kerap dipadati warga  yang menghabiskan sore harinya untuk menikmati keindahan pantai sembari melihat pesona matahari terbenam.

“Adak beurangkapeu pih, nyoe teumpat kamoe lahee. Kamoe teutap meuwoe keunoe karna sinoe keuh kamoe meuhudep (Walau bagaimanapun, ini tetap tanah air kami. Kami tetap kembali kesini karena disinilah tempat hidup kami),” ujar Hamdani, warga setempat saat ditemui aceHTrend.

Hamdani merupakan salah satu potret dari sekian warga yang ikut merasakan dahsyatnya musibah tsunami lebih dari satu dekade silam. Istri dan tiga anaknya ikut tersapu gelombang yang tingginya mencapai pucuk pohon kelapa.

Pria yang sudah berusia lebih setengah abad ini mengaku, saat tsunami menyapu bersih desanya, ia sedang berada di laut lepas mencari ikan bersama rekan-rekannya. Saat itu, mesin boat yang ditumpangi Hamdani beserta lima orang lainnya tiba-tiba mati dan hilang kendali. Akibatnya, mereka terombang ambing dan terdampar di wilayah Laweueng, Kabupaten Pidie.

“Setiba di sana, suasana kampung kami lihat sudah berubah total. Semuanya sudah rata dengan tanah. Saat itu kami tanya kepada warga, katanya waktu itu gelombang laut besar menghantam kampung. Mereka mengaku kalau wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar lebih parah lagi,” kenang Hamdani.

Hamdani kini bersyukur, rasa kepedulian serta uluran tangan dari sejumlah NGO lokal maupun asing telah mengubah kehidupannya. Dari sinilah, Hamdani mulai bangkit menata kehidupannya bersama istri keduanya, Ainsyah yang dipersuntingnya pada 2006 lalu.

“Meunyoe ta ingat-ingat sabee pih hana guna cit. Meunyoe Allah ka keuhendak Allah, peu mantong lam donya nyoe phak luyak ban mandum (Kalau diingat-ingat terus pun tidak ada gunanya. Jika Allah sudah berkehendak, apa saja yang ada di dunia ini bisa hancur seketika),” ujar Hamdani sembari membetulkan jaring di atas boat miliknya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK