Aceh, Tiket Pesawat dan Mahkota NKRI?

Ada apa dengan Aceh?

Pertanyaan ini muncul setelah warga Aceh menjadikan mahalnya harga tiket pesawat menjadi trending topic di media sosial, yang kemudian menjadi berita berbagai media.

Tapi, itu bukan pasal utama. Soalnya topik mahalnya harga tiket juga menjadi perbincangan publik di daerah lainnya.

Pasal penting dalam masalah tiket pesawat adalah ketika rasa nasionalisme terusik oleh perbincangan publik.

Bayangkan, hanya untuk menuju Ibukota, Jakarta, warga Aceh harus memilih jalur Kuala Lumpur, Ibukota Malaysia terlebih dahulu, sebab jauh lebih murah, sekalipun butuh waktu lebih lama tiba di Jakarta.

Harga menuju Jakarta melalui Kuala Lumpur hanya mengeluarkan uang Rp716.800, bandingkan dengan harga ke Jakarta melalui Kuala Namu, Medan, dengan harga Rp3.012.800.

“Betapa mahal harga menjadi Indonesia?” simpul sejumlah warga Indonesia, asal Aceh.

Tidak hanya warga, Plt Gubernur Aceh juga ikut mempertanyakan mahalnya harga tiket pesawat, dan untuk itu, Nova Iriansyah mempertanyakan soal mahalnya harga tiket, dan bahkan bermaksud mengirim surat kepada Pemerintah Pusat.

Asosiasi maskapai yang tergabung dalam Indonesia National Air Carrier Association (INACA) akhirnya menyatakan akan menurunkan harga tiket pesawat. Penurunan harga itu bervariatif mulai dari 20 hingga 60%.

Sebelumnya, soal kenaikan harga tiket pesawat dipertahankan argumennya, mulai dari soal pengaruh nilai rupiah, juga karena ragam alasan lainnya.

Namun, begitu dikaitkan dengan nasionalisme, argumen bisnis langsung kalah, dan jalan untuk menurunkan harga dicari skemanya.

Ini semua bermakna, bahwa Aceh adalah mahkota NKRI. Benarkah?




KOMENTAR FACEBOOK