Para Pencari Panggung

Ilustrasi dibuat oleh Muhajir Juli.


Oleh: Khairil Miswar *)

Tulisan ini bukan untuk mencari ribut dan bukan pula untuk mencuri panggung sebagaimana tajuk yang telah saya buat, tapi hanya sekadar mengurangi “kelatahan” yang saat ini sedang mewabah di tanoh indatu. Penjelasan ini saya kira cukup memadai untuk menepis segala bentuk salah paham, salah tangkap, salah pikir dan salah nalar yang mungkin saja terjadi. 

Di zaman ini tidak ada satu seorang pun yang bisa melarang orang-orang untuk terkenal. Setiap kita memiliki kesempatan yang sama untuk menampilkan diri sebagai sosok-sosok populer. Saat ini keberadaan media sosial telah berhasil menggantikan peran koran, majalah dan bahkan televisi. Dulu untuk terkenal kita butuh koran, majalah atau televisi, tapi sekarang dengan hanya update status di medsos kepopuleran itu pun dapat segera kita capai hanya dengan jari-jari yang meloncat kian kemari. Dengan begitu tidak perlu heran jika ada sosok yang dulunya “bukan siapa-siapa” tiba-tiba saja menjadi publik figur di facebookdengan kualitas karismatik.

Di musim-musim politik seperti saat ini panggung untuk populer pun kian terbuka, untuk tidak menyebut terganga lebar. Lihat saja bagaimana “garangnya” tim sukses melakukan kampanye politik sehingga ia pun menjadi lebih populer dibanding calon yang diusungnya. Para tim sukses capres misalnya, baik level nasional maupun level facebooktampak lebih dikenal daripada kedua capres yang mereka usung. Kalau capresnya membuat pernyataan hanya satu meter, oleh tim sukses pernyataan itu dinterpretasi dengan berbagai pendekatan, mulai dari sosiologis, fenomenologis, antrpologis sampai magis sehingga panjangnya pun bertambah beberapa meter. 

Beberapa waktu lalu kita juga sempat dibuat geli oleh beberapa orang yang konon menyebut dirinya sebagai da’i Aceh yang mewacanakan tes baca al-Qur’ankepada para capres. Di satu sisi wacana tersebut memang terbilang logis guna mengakhiri perdebatan antar para pendukung capres tentang siapa yang paling Islam, paling taat dan paling bisa membaca al-Qur’an, namun di sisi lain wacana tersebut justru terlihat sebagai “omong-kosong” aliashaba bangai. Sama halnya dengan menyelenggarakan kontes debat antara “orang tuli” dan “orang bisu,” siapa yang akan tampil sebagai pemenang?

Namun demikian sebagai sebuah “panggung,” wacana baca al-Qur’antersebut patut diapresiasi sebab wacana tersebut telah sukses menampilkan inisiatornya sebagai sosok-sosok populer, setidaknya dalam beberapa minggu terakhir. Fakta ini dapat kita saksikan sendiri dengan “viralnya” pemberitaan tersebut sehingga mendapat tanggapan dari para tim sukses calon, tidak hanya di media lokal, tapi juga media nasional.

Menurut informasi yang beredar salah satu pasangan telah mengonfirmasi kesediaannya mengikuti tes membaca al-Qur’ansementara satu pasangan lagi kononnya menolak dengan dalih presiden adalah pemimpin negara, bukan pemimpin agama. Informasi terkini menyebut beberapa inisioator tersebut sudah mendatangi rumah salah satu calon di Pulau Jawa untuk melakukan konfirmasi. Namun sejauh ini saya belum bisa memastikan apakah informasi tersebut benar adanya atau hanya hoax belaka.

Seperti disinggung di awal, di zaman ini tidak seorang pun dapat menghalangi para pencari panggung untuk memainkan goyangannya yang tujuannya entah untuk apa. Bukan tidak mungkin beberapa waktu ke depan akan muncul lagi wacana baca doa qunut, lomba azan atau apalagi. Sekali lagi, sebagai medium mencari panggung usaha-usaha semisal itu memang patut dihargai dan bahkan wajib diviralkan. 

Bireuen, 15 Januari 2019

Penulis adalah guru sekoalh rendah, penulis buku dan juga seorang kolumnis*)

KOMENTAR FACEBOOK