Kuil Sabarimala, Tempat Pemujaan yang Terlarang untuk Wanita di India

Kanaka Durga (39) harus menderita cidera kepala setelah dianiaya oleh keluarga suaminya. Perempuan itu disiksa setelah berkunjung ke Kuil Sabarimala yang terlarang bagi perempuan. (Reuters)

ACEHTREND.COM, New Delhi- Kanaka Durga (39) seorang wanita yang berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) India, dilaporkan disiksa oleh keluarga suaminya. Bahkan turut ada laporan bila ibu mertuanya turut menyiksa sang wanita. Wanita itu juga harus bersembunyi selama sebulan lebih, untuk melindungi diri dari serangan kelompok Hindu Konservatif.

Menurut laporan Aljazeera yang dikutip aceHTrend, Rabu (16/1/2019) awal mula kekerasan yang menimpa Kanaka Durga, karena ia secara diam-diam mengunjungi kuil suci Sabarimala, yang terlarang bagi perempuan usia 10-50 tahun.

Kuil Sabarimala adalah tempat pemujaan terhadap Dewa Ayyapa, yang memilih jalan hidup secara selibat, setelah menolak cinta dari seorang iblis perempuan yang berhasil ia kalahkan. Kala itu Ayyapa berjanji akan menikahinya bila tidak ada lagi umat manusia yang meminta berkat kepadanya. Janji itu tidak pernah ditunaikan, dan sang iblis menunggu Ayyapa di pintu kuil hingga hari kematiannya.

Atas dasar itu, kemudian oleh umat Hindu konservatif di kawasan itu, walau semua warga dari lintas kasta boleh beribadah di kuil itu, tapi terlarang bagi perempuan, bersebab untuk menjaga ketulusan pengorbanan cinta Ayyapa.

Kuil itu terletak di pegunungan Ghats Barat, negara bagian Kerala, pada ketinggian 814 meter di atas permukaan laut. Tempat suci tersebut hanya dapat diakses dengan berjalan kaki dari Pamba sejauh 4 km. Musim puncak ziarah biasanya berlangsung pada November hingga pertengahan Januari.

Kuil Dewa Ayyappa di Sabarimala, Kerala, India. (AFP/Arun Sankar)

Nekatnya sejumlah perempuan untuk bersembahyang di kuil tersebut setelah Mahkamah Agung India pada Sepetember 2018 mencabut larangan berkunjung bagi perempuan. Setelah pencabutan aturan tersebut, bentrokan kerap terjadi karena semakin tingginya kunjungan perempuan. Banyak wanita yang nekat menembus aturan kepercayaan Hindu di sana, hanya demi bisa melakukan pemujaan terhadap Ayyapa.

Putusan Mahkamah Agung India, kemudian disambut dengan baik oleh Partai Komunis India yang memerintah di negara bagian Kerala. Mereka mencoba menerapkan putusan tersebut dengan membuka akses bagi perempuan untuk beribadah di sana.

Apa yang dilakukan oleh partai Komunis India membuat Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata party, tersinggung. Partai penguasa yang saat ini memegang kursi Perdana Menteri dengan Perdana Menterinya Narendra Modi, menuding Pemerintah Kerala tidak menghormati tradisi Hindu yang telah berusia beradab-abad.

Dalam pernyataannya Modi pada hari Selasa (15/1/2019) mengatakan Perilaku Pemerintah Front Kiri Demokratik Kerala pada masalah Sabrimala sebagai salah satu perilaku paling memalukan oleh partai atau pemerintah manapun.

“Kami tahu bahwa komunis tidak menghormati sejarah, budaya, dan spiritualitas India tetapi tidak ada yang membayangkan mereka akan memiliki kebencian seperti itu,” Modi, yang sedang berkunjung ke Kerala.

Sementara itu, pengelola kuil juga menolak tunduk pada putusan Mahkamah Agung. Mereka tetap bersikeras untuk menghalangi perempuan memasuki kuil suci yang terlarang bagi wanita itu.

Walau demikian, pada 2 Januari, Bindu Ammini (40) seorang dosen hukum di Universitas Kannur Kerala, dan Durga berhasil memasuki kuil melalui pintu samping di tengah malam. Beberapa wanita lain mengklaim bahwa mereka telah masuk ke dalam kuil.

Masuknya mereka memicu protes luas dan pemogokan sehari di Kerala yang sebagian dipimpin oleh anggota partai berkuasa India.

“Serangan itu adalah reaksi alami anggota keluarga, yang sangat percaya pada adat dan ritual kuil,” kata Ammini kepada Reuters, mengulas kekerasan terhadap perempuan yang nekat berkunjung ke kuil Ayyapa.

“Teman-temannya mengatakan kepada saya bahwa anggota keluarganya marah dengan tindakannya. Mereka telah melampiaskan kemarahan mereka ketika mereka melihatnya,” imbuh Bindu.

Editor: Muhajir Juli

KOMENTAR FACEBOOK