Mengubur Mando Gapi Bersama Sulaiman

Sulaiman alias Mando Gapi. Pelawak Aceh yang sangat digemari oleh berbagai kalangan. Meninggal dunia karena sesak nafas dan darah tinggi (Ist).

Sulaiman, pelawak Aceh yang –sejauh pengetahuan saya– pertama kali muncul di layar televisi berbasis DVD dalam komedi yang bersambung-sambung, hingga kini tak kunjung tuntas– sebagai Mando Gapi, kini telah berpulang. Ia meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Cut Meutia, Lhokseumawe, dinihari, Kamis (17/1/2019).

Sulaiman berhasil memerankan sosok Mando Gapi, yang kemudian lebih terkenal dengan panggilan Nek Mando. Gaya Mando yang alamiah, khas tipikal lajang tua dari kelas ekonomi rendah di perkampungan.

Sejak pertama kali muncul bersama Abdul Hadi yang berperan sebagai Kapluk–kemudian menjadi Jony– pada sinema Aceh: Preman Gampong: Eumpang Breuh, Mando Gapi, eh Nek Mando, sudah menarik perhatian saya. Bagi saya, Sulaiman mampu menampilkan sosok Mando dengan sangat natural.

Benar, bahwa ia tidak setenar Joni Kapluk (Abdul Hadi) karena dalam tiap “film” Aceh, ia selalu menjadi pemeran pendukung. Wabil khusus dalam sinema bersambung-sambung yang tak jelas kapan akan rampung, Mando selalu di bawah bayang Joni yang ditandemkan dengan Yusniar (Nurhasidah) yang merupakan perawan desa lulusan perguruan tinggi dan kemudian jatuh cinta pada Joni Kapluk. Tapi tanpa Mando, Joni pun tidak akan bersinar sedemikian rupa.

Jalan cerita Eumpang Breuh sendiri, banyak yang janggal sejak dimulai hingga hari ini. Tapi kejanggalan-kejanggalan itu mampu tertutupi dengan akting Sulaiman, termasuk kemampuan dia menutupi kekurangan Joni Kapluk yang semakin hari semakin tidak berkembang kelucuan yang ditampilkan. Bahkan, ketika Kapluk tidak lagi muncul di episode yang semakin ke sini (karena Abdul Hadi menyeberang ke manajemen lain-pen), Mando tetap masih bisa memainkan perannya dengan sangat apik.

Dalam pandangan saya, Mando merupakan pemeran spesialis untuk bujangan tua yang bangkotan, tapi tetap bergairah muda, walau isi kantong celana tidak mendukung. Dari penampilan ke penampilan tiap episodenya, Mando selalu tampil dengan properti yang tidak berubah-ubah, termasuk sepeda motor “pusaka” yang sempat ia tangisi kala dirusak oleh si Tompul pada suatu episode.

Gasin, meuroh, agak meulabo, ruh’ip, adalah ciri khas Mando yang berhasil dimainkan dengan apik oleh Sulaiman. Makanya, ketika ia dengan tampilan yang tidak berubah itu, dipasangkan pada sinema lainnya –yang ia mainkan bersama Bergek dkk– dan berperan sebagai ayah dari dara cantik, sungguh itu tak padan baginya. Masa sih, seorang dara cantik, yang dicintai oleh Bergek yang berpakaian necis, kondisi ayahnya awut-awutan? Hana ikap siku, kalau kata ureung Aceh.

Melihat Sulaiman dalam lakon sebagai Mando, seperti membaca komik, yang tiap tokohnya selalu tampil dengan pakaian yang sama sepanjang masa. Ini dibuat bukan tanpa tujuan. Yaitu untuk memudahkan audiens memberi tanda dan mengingat. Lihat saja kartun Ipin dan Upin, walaupun ayahnya Mei-Mei adalah Tionghoa yang berkecukupan, tapi pakaiannya tidak pernah berganti. Ipin dan Upin yang yatim piatu pun demikian. Kecuali pada edisi tertentu. Inilah citra, melihat sesuatu yang sama, agar mudah untuk diingat.

kalimat-kalimat yang diucapkan Mando juga apik. Khas gampong, sederhana tapi memiliki makna. Ringan tapi mampu terhafal dengan kuat di ingatan. Mungkin tepat sekali seperti jargon warung kopi Star Black di Bireuen: Bah meugampong asai canggih.

Setelah hari ini, kita tidak bisa lagi melihat aksi Sulaiman di film-film selanjutnya. Ia telah dipanggil pulang ke haribaan Ilahi Rabbi. Bersama jasadnya, ia bukan saja membawa serta amal ibadah. Tapi juga ikut membawa karakter Mando Gapi, yang telah abadi sebagai dirinya.

Sulaiman adalah mando Gapi, Mando Gapi adalah Sulaiman. Bersama dikuburnya jasad Sulaiman, terkubur pula Mando Gapi. Ia tak tergantikan.

Selamat jalan Nek Mando.

KOMENTAR FACEBOOK