Tangse Manise dan Hasrat Rindu Usamah yang Terobati

Matahari sudah tepat di tengah kepala, jarum jam menunjukkan angka pukul 12.15 WIB, Selasa (15/1/2019).

Suasana Dayah Jami’ah Al Aziziyah Batee Iliek, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen terlihat ramai. Maklum, hari itu sedang berlangsungnya rapat kerja Tastafi Aceh. Tujuannya ialah untuk terus bergerak dan melakukan konsolidasi organisasi dalam rangka pengkhidmatan yang lebih maksimal kepada umat.

Puluhan teungku dayah asyik bercengkerama bersama rekan-rekannya. Di acara reunian itu, mereka kerap menceritakan beragam informasi mulai dari perkembangan dayah-dayah salafi yang mereka rintis serta pengalamannya masing-masing selama mengenyam pendidikan di dayah-dayah.

Amatan aceHTrend, turut serta Wakil Ketua MPU Aceh, Lem Faisal, Abu Mudi, Tgk Muntasir, Tgk. M. Amin Daud alias Ayah Cot Trueng, Abati Syakya dan sejumlah ulama karistimatik Aceh lainnya.

Selain itu, turut hadir juga hadir Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Usamah El Madny,  Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh Tgk H. Fadhil Rahmi, LC.

“Geutanyoe siat teuk tajak u Tangse, sideh ta meuramien bak bineh krueng (Sebentar lagi kita akan ke Tangse, kita makan kenduri disana),” ujar Waled Jafar kepada Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Usamah El Madny.

Ajakan itu langsung mendapat respons positif dari kadis yang gemar bersarung tersebut. Pasalnya, impian untuk berkunjung ke kawasan yang terkenal dengan legitnya  durian dan gurihnya ikan keureulieng yang melegenda segera tercapai.

Meuramien merupakan salah satu aktivitas memasak dan makan-makan bersama di suatu tempat. Biasanya, tradisi ini sering dilakukan pada masa liburan dengan mengunjungi suatu tempat, contohnya di pantai-pantai, pinggiran sungai, persawahan, atau suatu destinasi yang memiliki lanskap indah.

Berhubung wilayah Tangse merupakan suatu wilayah yang dipagari gunung dan hamparan sawah serta jernihnya air sungai yang mengalir dari pegunungan, maka warga Tangse menghabiskan tradisi meuramien ini di pinggiran sungai yang membelah desa.

“Sebenarnya niat kami udah lama ingin ke sana. Namun dikarenakan agenda kerja yang padat. Niat kami terus kami urungkan. Alhamdulillah dan sangat bersyukur sekali atas ajakan Waled,” ujar Usamah El Madny.

“Droeneuh Tgk Fadhil neujak syit, beuneulangkah meusigoe ngon kamoe sira jak saweu dayah kamoe (Anda Tgk Fadhil ikut juga, silahkan berkunjung sekali-kali sambil melihat dayah),” ujar Waled Jafar kepada Tgk Muhammad Fadhil Rahmi, LC.

Tanpa menunggu lama, kamipun langsung bergegas meninggalkan kompleks dayah yang berdiri megah di atas bukit di Desa Batee Iliek tersebut. Berbicara keindahan alam Tangse, memori lama masa-masa kecilku yang banyak kuhabiskan di sana kembali diputar. Terbayang nama kota kecil dan cantiknya Jamilah dara Tangse seperti yang didendangkan artis Aceh Jacob Thailah di era 2000-an

Selama perjalanan, pandangan kami tertuju pada bentangan perbukitan kecil dan hamparan sawah yang menguning disertai gemercik air bermandikan cahaya terus mengalir kesejukan. Suasana teduh, nyaman, dan memanjakan mata.

Kilauan emas sinar mentari yang memancar dari balik perbukitan kian menyuguhkan daya pikat yang sulit ditolak. Keindahan alamnya yang permai, hasil alamnya melimpah sehingga enggan beranjak dari kota kecil yang dijuluki “desa sejuk tanpa salju’. Begitu halnya dengan gugusan pepohonan pinus serta hijaunya perkebunan warga menambah suasana perjalanan kami kian menyegarkan mata.

“Benar-benar luar biasa keindahan alam Tangse dan warganya yang ramah. Bikin suasana enggan pulang dan rasa lapar selalu karena cuacanya sangat mendukung,” ujar Usamah El Madny yang diiringi canda tawa rekan-rekannya.

“Sang galak teuh tapeugot rumoh sinoe. Watee uroe libur atawa cuti jeut tawoe keunoe. Asai bek na rencana mita peurumoh lom,” canda T. Mahyuddin Helmi yang bikin suasana perjalanan jadi seru.

Tiba di sudut kiri desa Blang Bunong, rombongan kamipun berhenti tepatnya di Dayah Samsul Maghfirah Al-Aziziyah.

Cuaca rasa mendung dan udara dingin kian menusuk tulang. Angin berembus sepoi di celah-celah pepohonan di lereng bukit seakan merayu kita untuk berada di atas kasur berselimut tebal.

Di dayah yang didirikan sejak 12 tahun lalu di atas lahan seluas 2 hektare lebih ini, Waled Jafar terus membekali santri dengan berbagai pengetahuan agama dan menghidupkan syiar-syiar Islam.

Setiba di kompleks dayah, Usamah mengaku takjub akan keindahan desa Tangse. Menurutnya, meski berada di kompleks dayah yang masih tergolong sederhana benar-benar membuatnya betah.

“Duduk rilaks di Dayah Waled Jafar ini benar benar membuat tubuh kita jadi rilaks. Di samping udaranya yang segar, pemandangan alam yang hijau dan alami di tengah hutan Tangse itu benar benar mampu menginstal ulang suasana batiniah kita kembali normal mengikuti ritme alam,” ujar Usamah El Madny sambil memantau aktivitas di kompleks dayah.

“Di sinoe na santri sekitar 400 droe leubeh. Sagoe nyan nakeuh kompleks asrama santriwati (di sini ada sekitar 400 orang lebih. Di sudut dana ada kompleks asrama santriwati),” ujar Waled Jafar.

Di dayah itu, Waled Jafar mengajak kami duduk di balai kayu sederhana, sambil menikmati hijaunya hutan dan pegunungan yang indah.

“Itu Gunung Halimun, tempat dulu Wali mendeklarasikan Aceh Merdeka. Puncaknya selalu ditutupi kabut tebal. Begitu juga pepohonan di sana cukup rindang dan ditutupi lumut. Karena suasananya sangat dingin mencekam,” kata Wàled Jafar kepada kami sambil menunjukkan tangannya ke Gunung Halimun di arah utara dayah tersebut.

Selang beberapa menit kemudian, Waled mengajak kami ke Lhok Kuala yang terletak di perbatasan antara Kecamatan Tangse dengan Mane dan Geumpang. Kawasan ini merupakan hulu sungai tempat berkumpulnya tiga sungai, yakni sungai Tangse, Mane, dan Geumpang. Ketiga sungai tersebut kemudian terbentuk menjadi sebuah muara yang kemudian mengalir ke wilayah Teunom, Kabupaten Aceh Jaya.

“Di Tangse hari ini saya menunaikan dua hasrat yang sudah lama tertunda. Waled Jafar pun seperti paham benar akan hasrat kami itu. Pertama ingin merasakan lezatnya ikan keureulieng dan gurihnya daging rusa,” ujar Usamah El Madny.

Setiba di lokasi warung ikan keureulieng, Usamah dan rombongannya segera memanfaatkan momen ini, yaitu mencicipi ikan keureulieng khas Tangse. Ibarat kata, kerinduan kami kepada ikan keureulieng diibaratkan seperti suami isteri yang sudah lama tidak jumpa. Begitu ikan keureulieng asam keueueng dan daging rusa goreng dihidangkan, kamipun langsung melahapnya dengan selaksa rasa.

“Waled Jafar seperti heran melihat antusiasme saya makan kuah keureulieng.  Maklum, saya suka dan lama tak memakannya,”  kata Usamah El Madny kepada Waled Jafar untuk mengurangi rasa herannya. 

Ia pun tersenyum seakan memberi kebebasan kepada kami untuk terus mengunyah dan menghisap kepala ikan keureulieng sambil sekali kali menghirup kuahnya.

“Subhanallah, ini benar-benar nikmat yang tak bisa didustakan. Rasanya kian betah berlama-lamaan di sini. Apalagi suasana alamnya yang masih natural, warganya yang ramah dan taat beribadah. Rasanya enggan pulang nih,” ujar Ketua IKAT Aceh, Tgk Muhammad Fadhil Rahmi, LC yang direspons senyum Waled Jafar.

Usai mencicipi ikan keureulieng, Waled Jafar kembali mengajak kami ke kompleks dayah miliknya. Setiba di sana, ia kembali menyuguhkan durian enak dan legit khas Tangse. Meski perut kami masih kenyang, godaan durian Tangse yang primadona inipun tak mampu kami tolak. Apalagi istrinya waled, Ummi juga sudah menghidangkan sejumlah pulut di atas piring.

Nyoepat ummi ka geubungkoh saboh kotak teuk boh drien. Nyoe khusus neupuwoe u rumoh,” ujar Waled Jafar.

Teurimong geunaseh beu lambong, Waled. Nyoe ka puleh rindu lon keu eungkot keureulieng ngon boh drien Tangse. Insyaallah kali ukeu akan lon gisa lom keunoe,” ujar Usamah El Madny seraya berpamitan kepada Waled Jafar.

Usai menyantap durian dipadu pulut ketan dengan lahap. Tak terasa matahari sudah condong di ufuk barat. Kamipun berpamitan kepada Waled Jafar. Di atas mobil Fortuner yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan sedang. Terbayang nama desa Tangse dan keindahan alamnya serta nama gunung Halimon sebagai jejak historis yang melegenda.  Gurihnya ikan keureulieng dan lezatnya durian khas Tangse masih terasa di balik kerongkongan. []

KOMENTAR FACEBOOK