Banyak Generasi Muda Tak Paham MoU Helsinki

Bedah buku karya M. Nur Djuli di aula Museum UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. (Muhajir Juli/aceHTrend)

ACEHTREND.COM, Banda Aceh- 14 tahun perdamaian Aceh, banyak hal menarik sekaligus miris yang patut menjadi catatan. Salah satunya adalah ditemukan banyak generasi muda (mahasiswa-red) yang tidak lagi mengetahui tentang sejarah konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Indonesia.

Hal ini mengemuka pada bedah buku The Long and Winding Road to Helsinki, Aceh Dalam Perang dan Damai, aula Museum UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Kamis (17/1/2019). Buku tersebut ditulis oleh M. Nur Djuli, salah seorang perunding yang mewakili GAM di Helsinki, Finlandia.

Kegiatan bedah yang menghadirkan dua pembedah yaitu Yarmen Dinamika dan Pro. Dr. Eka Srimulyani yang merupakan Guru Besar Sosiologi UIN Ar-Raniry, dipandu dengan sangat apik oleh moderator Rizkika Lena Darwin yang juga dosen FISIP UIN Ar-Raniry.

Pada kegiatan bedah yang dihadiri oleh puluhan orang itu, mengemuka tentang adanya mahasiswa yang mengira Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki, adalah Qanun Aceh yang dibentuk oleh DPRA. Bahkan ada yang mengira MoU Helsinki adalah berupa nama daerah.

Ketika dilakukan tanya jawab, terlihat juga beberapa mahasiswa yang didaulat untuk menjawab juga terlihat asing dengan narasi konflik dan perdamaian Aceh. Bahkan ada yang tidak mampu menyebut nama lengkap Wali Nanggroe Malik Mahmud, yang kala itu bertindak sebagai perwakilan GAM untuk mendatangani butir-butir MoU Helsinki, mewakili pihak GAM.

Sang mahasiswa hanya mampu menyebut nama Mahmud, itupun dengan nada penuh keraguan.

Sehat Insan Sadiqin, penulis buku Tasawuf Aceh, yang bertindak sebagai ketua panitia kegiatan, dalam sambutannya menyebutkan bedah buku tersebut menjadi sangat penting, karena buku yang ditulis oleh Nur Djuli, merupakan karya pertama dari pihak GAM, atas kronik MoU Helsinki dan ragam hal lainnya yang berkaitan dengan pergolakan di Aceh.


KOMENTAR FACEBOOK