Menipu Hidup-hidup

Ilustrasi oleh Nourman Hidayat

Sehari sebelum pergantian tahun 2019, saya pulang ke kampung untuk menjenguk orang tua. Seperti biasa, saya pulang dengan kendaraan umum. Sampai di kawasan Lueng Bata Banda Aceh, naik seorang pria dengan tujuan Caleue, Kabupaten Pidie.

Saya taksir usia pria itu mungkin sekitar enam puluh tahunan. Penampilannya sederhana, mengenakan setelan celana kain dan baju kemeja. Wajahnya sudah dipenuhi keriput. Pertanda ia sudah tidak muda lagi.

Pria itu mencuri perhatian saya karena sejak pertama naik langsung mencerocos. Ia mengeluh karena gagal bertemu salah satu pejabat yang hendak ditemuinya di kantor Gubernur Aceh.

Jioh-jioh tajak dari Pidie hana meurumpok meusidroe pih (jauh-jauh saya pergi dari Pidie tidak ada seorang pun (pejabat) yang bisa ditemui),” keluhnya.

Entah ditujukan kepada siapa omelan itu. Saya yang mulai dihinggapi pusing dan duduk di dekat jendela di sebelah kanan hanya sempat meliriknya sekilas. Setelah itu kembali memejamkan mata dengan harapan rasa pusing tersebut bisa segera sirna.

Adik saya yang duduk di tengah mencoba menanggapi sekadarnya. Pria itu melanjutkan kekesalannya. Dia bilang, percuma saja Aceh ini punya APBA hingga belasan triliunan rupiah, tetapi rakyatnya masih saja miskin. Korupsi merajalela.

Tak lama kemudian pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang. Saya sempat melihat sekilas, tampak lembaran uang Rp10 dan Rp5 ribu. Segera ia sodorkan uang itu kepada sopir merangkap kernet.

Nyoe pat ongkoh. Chit na nyoe sagai, laen hana (Ini ambillah, cuma ada segini),” ujar pria itu sambil menyodorkan uang kepada sopir.

Si sopir yang sedang fokus menyetir tak langsung menerimanya.

Neumat ile. Peu ongkoh awai that (pegang saja dulu, nggak usah terburu-buru),” jawab si sopir santai.

Nyoe hana laen. Hana le peng sajan. Bunoe long jak pih long numpang ngen moto gop (Saya tak punya uang lain. Tadi waktu pergi pun menumpang mobil orang),” si pria tua itu masih bersikukuh.

Namun saat sang sopir juga bersikukuh mengatakan nanti saja, pria itu akhirnya mengalah. Mobil terus bergerak meninggalkan Kota Banda Aceh.

Sampai di Sare mobil berhenti. Penumpang turun untuk membeli oleh-oleh atau melaksanakan salat Asar. Termasuk pria tua tersebut. Begitu mobil berhenti, ia langsung turun dan menuju ke kios penjual oleh-oleh. Ia membeli beberapa bungkus keripik.

Siapa sangka bila aksinya itu mendapat perhatian dari sopir dan penumpang lain. Pria itu mengaku tak punya uang lebih, tetapi bisa membeli oleh-oleh sebanyak itu. Bila uang yang ia gunakan untuk membeli oleh-oleh itu digunakan untuk menutupi kekurangan ongkos tadi pasti cukup.

Setelah berbelanja oleh-oleh pria itu bermaksud menaruh belanjaannya ke dalam mobil. Namun saat ia membungkuk, selembar uang seratusan ribu jatuh dari saku bajunya. Ia baru sadar uangnya terjatuh setelah saya beri tahu. Buru-buru ia mengambil uang tersebut dan kembali memasukkannya ke saku baju.

Sejenak saya terkesima. Ia mengaku tidak punya uang untuk ongkos, nyatanya punya lebih dari cukup untuk biaya angkutan umum dari Banda Aceh-Caleue yang tak lebih dari lima puluh ribu rupiah. Ia pura-pura mengaku tidak punya uang untuk mengelabui si sopir. Secara tidak langsung telah memanfaatkan ‘ketuaannya’ untuk memanipulasi.

Sang sopir pun tampaknya bukan orang bodoh yang mudah dikelabui begitu saja. Sadar kalau pria tua itu berbohong, ia segera mengatur strategi. Mengatakan kalau ia harus mengambil penumpang di Kembang Tanjong, itu artinya mobil harus memotong melalui Kota Sigli dan tidak lewat Caleue. Artinya lagi, pria itu mau tidak mau harus turun di Sigli. 

Mengetahui hal itu, si pria tua tersebut tak terima. Ia mengomel dengan mengatakan si sopir sudah menipunya. Namun ia sama sekali tidak punya kuasa. Sampai di Simpang Arakate Kota Sigli, sang sopir menurunkan pria itu di sana. Mereka kembali beradu mulut. Pria tua itu masih berkelit dengan mengatakan ia tak punya ongkos untuk naik ‘labi-labi’.

Setelah menurunkan pria itu, sopir angkutan umum tersebut langsung tancap gas menuju ke arah timur. Dia tetap melewati jalur biasa.

“Orang seperti itu harus diberi pelajaran,” kata sopir.

Rupanya saat masih di Sare tadi ia sempat menelepon rekannya sesama sopir. Hal yang sama ternyata juga pernah dialami oleh rekannya. Sopir tersebut juga sempat melihat ketika pria tua itu mengeluarkan lembaran uang di sakunya untuk membeli keripik.

Melihat perangai pria tua itu saya khawatir. Ada orang tua lain yang benar-benar kesulitan ongkos dalam perjalanan justru menjadi korban tidak langsung atas ketidakjujurannya.

Bila selama ini kita sering mendengar istilah dipeungeut udep-udep alias ditipu hidup-hidup, untuk perilaku pria tua itu apa yang cocok, ya? Menipu hidup-hidup?[]

KOMENTAR FACEBOOK