Pilo Poly: Berkreasi Melalui Imaji, Membekukan Aceh dalam Puisi

Pilo Poly. Begitulah nama pena yang dipilih Saifullah S sebagai identitasnya di jagat literasi. Pemuda kelahiran Bandar Baru, Pidie Jaya pada 16 Agustus 1987 silam ini baru saja menelurkan antologi puisi ketiganya berjudul Arakundoe (2019). Dua antologi puisi terdahulunya, yakni Yusin dan Tenggelamnya keadilan (2014) dan Sehelai Daun Merindukan Ranting (2016).

“Aku sebenarnya anak baru di dunia tulis menulis ini,” ujar anak muda yang akrab disapa Pilo ini kepada aceHTrend, Minggu (3/1/2019).

Oh ya, mengenai nama penanya yang terdengar ganjil itu, Pilo mengaku terinspirasi dari pendiri Kerajaan Pedir pertama, yakni Sjahir Poli. Barangkali melalui nama itu ia ingin menegaskan asalnya sebagai seorang putra Pidie.

Pengagum Duong Thu Huong –penulis Vietnam– ini mengawali ‘kariernya’ di dunia kepenulisan sejak 2010. Sebagai ‘anak warnet’ kala itu, Pilo memiliki banyak waktu untuk berselancar di dunia maya dan membaca. Saat itu ia mulai rajin mengikuti lomba-lomba kepenulisan yang diadakan di berbagai grup Facebook. Sampai akhirnya salah seorang temannya sesama penulis ‘menjebloskan’ Pilo ke grup Cerita Nulis Diskusi Fiksi, Menulis Fiksi, dan Membaca Fiksi Mayoko Aiko.

Di grup inilah ia banyak belajar mengenai dasar-dasar kepenulisan. Melalui grup ini pula ia memetik buah manis dari ketekunannya, salah satu puisinya termuat dalam antologi bersama Senyum Bidadari Kecil.

“Nah, untuk merayakan peluncuran buku itu aku diundang ke Jakarta untuk ikut Kemah Sastra di Bumi Perkemahan Cibubur. Sejak itu nggak pulang lagi ke Aceh sampai saat ini,” ujarnya.

Puisi-puisi Pilo merupakan wujud dari kegelisahannya mengenai berbagai fenomena sosial yang terjadi di Aceh. Hal itu tergambar jelas dalam karya-karya dalam tajuk Arakundoe. Buku ini menyajikan berbagai peristiwa selama Aceh dihembalang konflik puluhan tahun.

Sebagai seorang anak yang dibesarkan dalam gumulan konflik, pancaindranya telah merekam banyak hal penting. Melalui karya-karyanya ini Pilo Poly ingin menyadarkan pemerintah baik pusat maupun daerah, bahwa masih adanya ketimpangan terhadap korban yang belum selesai hingga saat ini.

“Sebab aku percaya bahwa puisi adalah media penyampaian privat seseorang terhadap sesuatu yang tak bisa disampaikan secara lisan,” ujarnya.

Meskipun begitu, dalam Arakundoe tak melulu menyajikan narasi mengenai konflik. Tetap ada kejutan-kejutan semacam ‘ruang dingin’ bagi yang ingin berteduh semacam tentang cinta dan perjalanan.

Buku Yusin dan Tenggelamnya Keadilan juga bercerita mengenai latar konflik Aceh. Meskipun proses kreatifnya berlangsung di luar Aceh, tetapi jiwa dan semangatnya tetap di Aceh.

“Makanya dalam puisi-puisiku, aku tetap mengabarkan tentang Aceh. Dalam buku kedua misalnya, aku berbicara bagaimana ie beuna atau tsunami menghantam Aceh dan menghilangkan banyak saudara dan kawan-kawan sepanjang Ulee Lheue,” ujar penerima Beasiswa Jurnalistik Intensif dari Tempo Institut tahun 2017-2018 itu.

Sekarang ia benar-benar fokus di dunia literasi. Pilo menyibukkan dirinya di berbagai kegiatan sastra, salah satunya saat ini sedang mempersiapkan acara Pertemuan Penyair Nusantara di Kudus, Jawa Timur.[]

KOMENTAR FACEBOOK