Mengenang Tenggelamnya Kapal Gurita

Walau masyarakat belum mengenal internet, tapi tenggelamnya kapal KM Gurita yang melayari Malahayati-Balohan, pada 19 Januari 1996, begitu cepat tersiar. Semua orang, di mana saja kala itu membincangkan tragedi tersebut.

Ragam cerita pun kemudian berkembang. Kabar bohong, kabar benar, disinformaai pun menyergap masyarakat. Berbulan-bulan selanjutnya ekonomi nelayan rusak. Masyarakat enggan mengonsumsi ikan laut, karena banyaknya kabar bahwa seringkali ditemukan bahagian tubuh manusia di dalam perut ikan. Harga ikan di pasaran jatuh. Nelayan mengeluh. Penggalas ikan banting cara.

Malam itu, para penjemput sudah berkumpul di Pelabuhan Balohan Sabang. Dari jauh, nun di atas samudera, mereka sudah melihat lampu kapal yang lamat-lamat mendekat ke Pulau Weh. Rindu keluarga membuncah. Demikian juga yang di atas kapal. Mereka pun sudah melihat lampu di pelabuhan.

Tapi, pertemuan rindu itupun urung. Seorang pengantin tak sempat bertemu sang pujaan hati. Kapten kapal dan anaknya tak pernah lagi pulang. Kapal itu tenggelam di penghujung pelupuk mata, 5-6 mil dari pantai yang dalam.

Dolles Marsel, seorang penyanyi Aceh, mengabadikan peristiwa itu dalam lagunya yang berjudul: Karam Gurita. Tak ada mata yang mampu menahan duka kala mendengar lirik menyayat dari sang penyanyi.

Kapal Gurita adalah catatan kelam pengelolaan transportasi laut Aceh. Kapal ringkih itu melayari Aceh dengan kondiai kurang sehat. Juga akibat human error. Kapal mengangkut di atas beban yang seharusnya dipikul. Bukan human error biasa. Tapi catatan kelam tentang kejahatan korupsi oleh pengelola pelayaran kala itu, cum pengawasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, 40 orang dinyatakan selamat, 54 orang ditemukan meninggal, dan 284 orang dinyatakan hilang bersama-sama dengan KM Gurita yang tidak berhasil di angkat dari dasar laut. Kapasitas Penumpang seharusnya hanya 210 orang. Belum lagi jumlah barang yang diangkut.

Adakah yang belajar dari kesalahan itu? Untuk sementara mungkin ada. Tapi setelahnya, saya ragu.

Berkali-kali ke Sabang dengan feri, saya kerap menemukan pelanggaran. Minimal bila dari arah Balohan ke Ule Lheu, saya termasuk penumpang yang sempat tidak terekam data pencatat, karena saya tidak diberikan tiket walau sudah membayar.

Ya, itu ulah calo. Calo masih berkeliaran di sana, beberapa waktu lalu.

Ketika di kapal saya sempat membayangkan, bila terjadi musibah, saya dan keluarga tidak akan dicari, karena memang tak ada dalam manivestasi penumpang.

Padahal manivestasi penumpang adalah data yang seharusnya kongkrit. Salah saya karena terburu-buru, tapi calo bekerja sama dengan oknum petugas keamanan. Mereka mengatakan akan mengantarkan tiket ke kapal.

Itu tidak pernah terjadi hingga saya mendarat dengan selamat di Pelabuhan Ule Lheu, Banda Aceh.

Sudah lumayan lama saya tidak lagi ke Sabang. Saya tak tahu perkembangan manajemen pelabuhan.

Soal daya angkut KMP, saya tak punya data. Tapi banyak yang mengeluh, khususnya di hari-hari besar dan event besar.

Semoga ada perbaikan. Agar tragedi 23 tahun lalu tak lagi terjadi. Minimal bilapun terjadi, semuanya tercatat dengan baik.

KOMENTAR FACEBOOK