Belajar dari Haji Mustafa, Bawa Aset hingga ke Surga

Almarhum Haji Mustafa @ACT

Oleh Rahmat Aulia

Langkah, rezeki, pertemuan, dan maut adalah rahasia Allah yang telah ditetapkan sejak usia kandungan memasuki 120 hari. Keempat hal ini begitu rahasia hingga tiada satu orang pun yang tahu kapan dirinya akan meninggal, bertemu dengan jodohnya, dan kapan maut akan datang menjemput.

Begitu pun dengan kabar berpulangnya Haji Mustafa HS, pimpinan Pondok Pesantren Al Anshar dan pewakif 110 hektare kebun serai wangi di Gampong Lhok Geulumpang, Kecamatan Setia, Bakti Kabupaten Aceh Jaya.

Total 110 hektare tanah ia wakafkan melalui Global Wakaf – Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada 2017 lalu. Sekarang 16 hektare dari tanah tersebut sudah ditanami serai wangi. Hasil penjualan minyak serai wangi ini diperuntukkan bagi santri-santri Pondok Pesantren Al Anshar.

Terdapat kurang lebih 500 santri di pondok pesantren ini dengan mayoritas dari keluarga kurang mampu. Belajar di sini, mereka tidak perlu membayar uang makan, uang asrama, dan juga biaya lainnya. Hampir semuanya ditanggung oleh almarhum Haji Mustafa. Terhitung sejak pesantren ini berdiri pada 1998 hingga beliau menutup usia pada Minggu (13/1/2019).

Lalu bagaimana nasib anak-anak ini setelah berpulangnya Pak Haji Mustafa? Apakah mereka harus kembali pulang ke kampung halamannya dan meninggalkan pesantren atau mereka tetap melanjutkan pendidikan seperti biasa?

Sejak 1998, semua biaya operasional pesantren ditanggung penuh oleh almarhum. Bahkan beliau sendiri yang tiap pagi membeli beras, ikan, dan berbagai kebutuhan pesantren ke pasar. Ketika beliau tiada, seluruh pihak pesantren mengaku terkejut sekaligus terpukul. Sosok yang selama ini selalu pasang badan telah tiada.

Selain menjadi pimpinan Pesantren Al Anshar, almarhum Haji Mustafa juga mempunyai beberapa pekerja yang selama ini membantu beliau di lahan serai wangi. Mulai dari pekerja yang mengurusi bagian tanam serai wangi, panen, hingga pekerja yang mengurusi ketel (tempat pengolahan daun serai wangi hingga menjadi minyak).

Salah satu pekerjanya yaitu Nyak Hasan. Pria tersebut dan istri tak dapat menyembunyikan kesedihannya ketika tahu Haji Mustafa berpulang. Pria 40 tahun asal Aceh Barat ini sudah bekerja di ketel milik Haji Mustafa sejak tiga tahun yang lalu. Dengan bekerja di sini, beliau bisa menghidupi keluarga kecilnya.

Ketika Tim Global Wakaf-ACT Aceh menemui Nyak Hasan dan istri, tampak mereka menangis. Dengan terbata beliau bertanya “Kiban nyoe kamoe ukeu Pak? Peu keuh kamoe harus balek kampong? (Bagaimana kami ke depannya Pak? Apakah kami harus balik ke kampung?)”

Ada banyak kenangan selama Tim Global Wakaf-ACT Aceh mengenal Haji Mustafa. Masih terekam dengan jelas ketika suatu waktu kami makan di rumah makan daerah Kota Calang. Tiba-tiba beliau bilang bahwa usaha ini punya beliau, tapi cara bilangnya cukup sopan. Dengan suara pelan beliau bilang “Nyoe Alhamdulillah ata tanyoe cit, Pak (Ini Alhamdulillah punya kita juga, Pak).”

Lalu setiap kali ke Calang, Tim Global Wakaf – ACT selalu diajak makan mi Aceh di Warung Mi Apanan. Minya sangat lezat dan dikelola oleh satu keluarga. Warung ini pun punya Haji Mustafa.

Ada banyak orang yang beliau bantu seperti anak-anak pesantren, keluarga Nyak Hasan, dan keluarga Apanan hingga masyarakat Gampong Lhok Geulumpang yang bekerja padanya.

Lantas bagaimana nasib anak-anak ini sepeninggal beliau? Alhamdulillah dengan adanya 110 hektare lahan serai wangi dan sedang diproduktifkan oleh Global Wakaf – Aksi Cepat Tanggap. Santri di Dayah Al Anshar tidak perlu kembali ke kampung. Biaya makan dan segala operasional akan dibantu oleh hasil dari penjualan minyak serai wangi ini. Pun begitu dengan keluarga Nyak Hasan dan masyarakat Lhok Geulumpang yang selama ini bekerja di lahan serai wangi.

Kepribadian beliau yang sangat membumi membuat beliau dikenal banyak orang. Satu hal yang membuat Tim Global Wakaf ACT terkejut ketika takziah ke kediaman beliau adalah mendapati rumah beliau yang masih dalam tahap pembuatan oleh tukang. Bahkan beberapa loteng masih belum terpasang. Padahal, Haji Mustafa ini punya cukup banyak harta. Aset di mana-mana. Tapi beliau malah mengutamakan orang lain, alih-alih memperkaya diri sendiri.

Selamat jalan Pak haji. Semoga tenang di alam sana. Jasa-jasamu akan selalu dikenang sepanjang hayat. Terima kasih untuk setiap cinta yang telah engkau semaikan pada kami.[]

Marketing Communication Aksi Cepat Tanggap Aceh

KOMENTAR FACEBOOK