Abdullah Syafi’i Dalam Ingatan Abu Radak

Almarhum Abdullah Syafi'i

ACEHTREND.COM, Banda Aceh- 22 Januari 2002, Panglima Teuntra Neugara Aceh (TNA) yang merupakan sayap militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berpulang kehadirat Ilahi Rabbi. Bunga bansa Aceh itu gugur di pegunungan Jijiem, Pidie Jaya, setelah terkepung oleh pasukan TNI.

22 Januari 2019, sudah 17 tahun asyahid Yang Mulia Abdullah Syafi’i kembali keharibaan Ilahi.

Sekretaris Jenderal Partai Aceh Kamaruddin alias Abu Radak, memiliki kenangan tersendiri tentang sang Panglima TNA. Bagaimana kisahnya? Berikut ia sampaikan kepada aceHTrend, di sela-sela ziarah makam Teungku Abdullah Syafi’i, di Gampong Blang Sukon, Mukim Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, Selasa (22/1/2019).

“Teungku Lah merupakan salah satu figur pemimpin adil dan sangat bijak dalam memutuskan segala sesuatu. Niat tulus beliau menjadi spirit bagi kita semua bahwa tujuan dan hakikat dari perjuangan itu adalah untuk kemasalahatan umat. Sehingga peran dan kontribusinya terhadap perjuangan Aceh sangatlah berharga,” ujar Abu Radak kepada aceHTrend.

Mantan Wakil Panglima GAM TNA ini mengatakan, semasa hidupnya Teungku Lah dikenal sebagai sosok yang sederhana dan agamis. Pasalnya, jiwa dan raganya selalu dicurahkan semata-mata demi perjuangan.

Lebih lanjut, Abu Radak juga juga mengatakan, terciptanya perjanjian damai MoU Helsinki, UUPA serta dana otsus ini tidak lepas dari jasa-jasa perjuangan Teungku Lah semasa hidup. Bagi Abu Radak pribadi, sosok sang Panglima bukan saja pimpinannya, namun juga merupakan sahabat dan sekaligus guru spiritualnya selama bergerilya. 

Saat dipercaya menjadi pengawal Abdullah Syafi’i, Abu Radak menilai, almarhum selain dikenal tegas, berani dan bersahaja. Abu Radak menceritakan, ia terakhir kali berkomunikasi dengan almarhum pada Minggu, 20 Januari 2001. 

Dua hari sebelum kontak senjata yang menyebabkan Panglima TNA itu syahid, Abu Razak bersama Mualem sering berkomunikasi dengan sang Panglima. Berdasarkan laporan dari warga, Tgk Lah bersama sejumlah pasukannya sudah dikepung TNI sehingga ruang geraknya semakin sempit.

“Saat itu, saya berada di titik lain di pedalaman Teupin Raya, tepatnya di Pante Breuh. Begitu juga dengan Mualem di pedalaman Aceh Utara. Sedangkan Tgk Lah bersama sejumlah pengawalnya posisinya sudah terkepung di Jijiem. Awalnya, kami sempat meminta agar beliau segera pindah untuk mendapat perlindungan baru. Beliau menolaknya  seraya berpesan, jika Allah seandainya nanti Aceh sudah merdeka, maka ia meminta agar Allah menakdirkannya syahid,” kenang Abu Radak.

Editor: Muhajir Juli

KOMENTAR FACEBOOK