Efek Psikologis yang Bisa Muncul pada Perempuan karena Suami Berpoligami

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Praktik poligami atau ta’adud yang dilakukan seorang suami sering kali menimbulkan efek psikologis bagi sang istri. Terutama para istri yang memang tidak mempersiapkan dirinya untuk dipoligami. Dalam artian topik ini tidak pernah menjadi perbincangan sebelumnya. Efek psikologis yang dirasakan pun berjenjang, mulai dari yang ringan hingga yang berat seperti depresi dan berisiko bunuh diri.

Konselor dan psikolog klinis psikologi Unsyiah, Zaujatul Amna, mengatakan efek psikolgis merupakan efek yang berhubungan dengan mental dan kejiwaan seperti pikiran, perasaan, dan perilaku. Bila ada stresor (tekanan dan ancaman) yang mengganggu pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang maka akan berefek bagi tubuh yang bila tidak ditangani segera akan mengalami masalah dan gangguan kejiwaan.   

Poligami bisa dikatakan menjadi sebuah stresor bagi perempuan, apalagi bagi istri yang suaminya berpoligami. Terdapat beberapa kasus di Banda Aceh yang berkaitan dengan poligami yang pernah ia temui.


“Istri yang suaminya melakukan poligami akan timbul perasaan bersalah karena gagal dalam menjalankan tugas dan kewajiban sebagai istri. Ia juga akan merasa malu karena (dinilai) tidak mampu mengurus diri sehingga suaminya berpoligami. Kemudian akan muncul rasa ketidakadilan bagi sang istri karena suami kini harus membagi perasaan, harta, dan lainnya dengan wanita lain. Perasaan ini bila berlanjut akan menyebabkan stres, depresi, bahkan bunuh diri,” ujar Zaujatul Amna yang juga dosen psikologi Unsyiah ini kepada aceHTrend, Rabu (23/1/2019).

Selain itu, sejumlah pandangan negatif dari orang lain akan membuat istri merasa malu terhadap lingkungan sekitarnya. “Hal ini bisa menimbulkan gangguan sosial dalam diri istri misalnya sering menghindari kegiatan-kegiatan sosial di tetangga atau lingkungan masyarakat luasnya. Secara sosial istri pertama juga dianggap sebagai korban dari suaminya,” lanjut Zaujatul Amna.

Sejumlah efek tersebut tidak hanya dialami oleh istri pertama, tapi juga istri kedua. Label masyarakat terhadap istri kedua ‘sebagai perusak kebahagiaan orang lain’ juga akan menimbulkan efek psikologis tertentu seperti mudah tersinggung, menjadi pemarah, dan menarik diri dari lingkungan sekitar. Biasanya istri kedua juga tidak disukai oleh masyarakat karena label yang melekat padanya.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ada juga yang mempraktikkan kehidupan poligami ini. Bagi perempuan yang suaminya berpoligami ada beberapa saran yang disampaikan oleh Zaujatul Amna.

Pertama, hendaknya istri bersikap terbuka, jujur, dan berkomunikasi secara intens dengan suaminya karena hal ini dapat mengatasi ketakutan yang dipikirkannya. Kedua, ada baiknya istri mencoba menanyakan kepada suami, selama menikah dan melayaninya apakah terdapat banyak kekurangan? Lalu tanyakan apa harapan terpendam suami dari peranan istri di rumah.

Hal ini secara tidak langsung suami akan menyampaikan alasan sebab musabab melakukan poligami. “Diskusi kecil seperti ini bisa menenangkan istri/suami selama dilakukan dengan keadaan tenang dan terbuka. Tidak sedang dalam emosi negatif,” ujar Zaujatul Amna.

Ketiga, diperlukan keseimbangan ego karena biasanya pada istri yang mengalami poligami dari suaminya merasakan emosi yang tidak stabil. Mereka cenderung merasa bersalah dan pasrah sehingga dibutuhkan keseimbangan emosi dalam dirinya supaya istri bisa lebih dapat melihat alasan suaminya poligami.

Begitulah efek psikologis yang kemungkinkan muncul kepada istri yang suaminya berpoligami. Bagi laki-laki yang berniat untuk mempunyai istri lebih dari satu juga diharapkan perlu memahami efek-efek tersebut agar perempuan yang dinikahi tidak tersakiti.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK