Ikuti Jejak Langkah Aceh, Perdamaian untuk Bangsa Moro

Oleh Munawar Liza Zainal*)

Kaum muslimin menguasai Semenanjung Iberia di Spanyol ratusan tahun, sejak tahun 711 penaklukan dipimpin oleh Thariq Bin Ziyad sampai jatuhnya Granada ke tangan Isabella I of Castile dan Ferdinand II of Aragon tahun 1492.

Sepanjang pemerintahan kaum muslimin di sana, terjadi pembangunan peradaban dan ilmu pengetahuan yang luar biasa. Di lain sisi perang pun tidak pernah berhenti dengan sebagian orang Spanyol kristen.

Masa-masa pertikaian itu, orang Spanyol mengenal orang Islam sebagai Moors.

Pada tahun 1521, penjajah dari Spanyol datang ke Asia Tenggara. Mereka sampai ke pulau-pulau di daerah yang sekarang dinamakan Philipina. Pulau-pulau itu di bawah pemerintahan kerajaan dan kesultanan islam, ditempati oleh kaum muslimin.

Saat Spanyol menjajah pulau-pulau itu, timbul perlawanan hebat dipimpin oleh para ulama, sultan, raja, dan datu yang memimpin masyarakat.

Orang Spanyol kaget, yang melawan mereka adalah orang yang beragama sama dengan yang mereka hadapi di semenanjung Iberia. Kaum muslimin, yang biasa mereka sebut dengan Moors.

Kaum muslimin di Asia Tenggara, di pulau-pulau yang mereka jajah, juga akhirnya mereka sebut sebagai Moors, dan kemudian dikenal dengan Moro, bangsa Moro. Bangsa asli yang menjadi pemilik dan penghuni Pulau Mindanao dan sekitarnya.

Bangsa Moro dengan Aceh, selain sama agama, sama-sama pernah jaya di masa lalu, bangsa Aceh dan bangsa Moro juga mempunyai banyak sejarah yang sama dalam melawan kesewenangan Pemerintah. Di Aceh ada GAM atau ASNLF, di sana ada MNLF dan MILF.

..

Tanggal 21 kemarin, dilakukan plebisit, untuk menyetujui atau menolak Republic Act No. 11054 atau dikenal dengan Bangsamoro Organic Law (BOL), guna menyelesaikan konflik yang berkepanjangan di Selatan Philipina. Undang-undang ini adalah bagian dari kesepakatan perdamaian yang dicapai tahun 2014 yang lalu.

Tujuannya untuk membentuk Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM). Plebisit tanggal 21 Januari untuk provinsi-provinsi Basilan, Lanao del Sur, Maguindanao, Sulu, and Tawi-Tawi; demikian juga Cotabato City dan Isabela City.

Tanggal 6 Februari nanti, akan dilakukan di beberapa kota di provinsi Lanao del Norte dan North Cotabato.

Jumat lalu, saking semangatnya, saat sosialisasi untuk menggolkan Undang-undang ini, Presiden Rodrigo Roa Duterte berpidato di depan masyarakat di Shariff Kabunsuan Cultural Complex di Cotabato City, Duterte menyampaikan “Ada bagian dari diri saya yang sebenarnya adalah Islam. Itu sebabnya, bahkan jika saya dan para pendeta gila itu bertengkar, saya bukan seorang Katolik. Saya Islam, itu benar,”.

Memang Presiden Duterte sangat dekat dengan bangsa Moro dan sempat kesal kepada para pendeta kristen yang mengkritik pemerintah dan dianggap mencampuri urusan pemerintahan.

Duterte pernah lama tinggal di Davao, Mindanao, menjadi wakil wali kota dan wali kota di sana. Menjabat lebih dari 20 tahun. Bahkan saat ini, Wali Kota Davao, dijabat oleh anaknya, Sara Duterte, sehingga kedekatannya dengan bangsa Moro sangat membantu menguatkan perdamaian di Selatan Philipina.

Al-Hajj Murad Ebrahim, saat ini adalah chairman dari Moro Islamic Liberation Front (MILF), sebelum plebisit, beberapa bulan yang lalu bertemu dengan Presiden Duterte dan diserahkan draft Undang-undang yang sudah diteken presiden sebelum ditetapkan dalam jejak pendapat.

..

Perdamaian Aceh melalui MoU Helsinki dan UU No. 11 tahun 2006, banyak memberikan aura dan semangat positif perdamaian kepada Bangsamoro dan daerah konflik lainnya di dunia.

Ada beberapa kali pertukaran kunjungan untuk berbagi pengalaman. Dan hubungan ini, hubungan kedua bangsa ini, bukan dimulai kemarin sore.

Hubungan Aceh dengan Mindanao, sudah terbina dan terjalin sejak ratusan tahun.

Cotabato, tempat Duterte berpidato untuk mendukung Undang-undang baru ini, berasal dari bahasa Melayu yang kemungkinan dibawa oleh orang Aceh ke sana. Cota, artinya Kuta atau benteng. Bato adalah batu. Sebagaimana Kuta Raja, ibu kota Aceh, di sana juga ada Kuta Batu, salah satu kota yang besar di sana.

Ada sebuah tempat, namanya Bacolor, di provinsi Pampanga. Menurut informasi, penduduk pertama kota ini berasal dari Aceh datang dipimpin seorang pandai besi dikenal dengan nama Panday Pira (Pandeè Pirak). Panday Pira (1483-1576) adalah bapak meriam Philipina, orang yang pertama mengenalkan cara membuat meriam kepada masyarakat di sana.

Tahun 1508, hijrah ke manila, dan membantu Raja Sulayman melawan Spanyol. Sempat membangun tempat peleburan besi di kawasan Santa Anna, kawasan bersejarah yang terkenal sampai saat ini. Saat Raja Sulayman dikalahkan, Panday Pira pindah dan menetap di Pampanga.

Santiago de Vera, Gubernur Jenderal ke-6 Spanyol di Philipina sempat memerintahkan Panday Pira datang lagi ke Manila untuk memasang meriam di komplek benteng yang sekarang dikenal dengan Intramuros.

Selain Panday Pira, menurut situs Sun Star, yang berbasis di Cebu City, keluarga Pamintuans, sebuah keluarga kaya dan banyak menjadi pejabat di Philipina, juga nenek moyang mereka berasal dari Achem (Aceh), Sumatra. Datang dari Aceh ke Pampanga diperkirakan sekitar tahun 1335. Dalam perjalanan ke Philipina, sempat singgah di Brunei, menikah dengan Panginuan, cucu Sultan Magat Araw, yang memerintah di sana.

Selain itu, didapat informasi dari akun Facebook Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), ditemukan sebuah nisan di komplek pekuburan bangsawan Aceh Darussalam di Ulee Lueng, Aceh Besar, bertuliskan bahwa nisan itu milik seorang bergelar Orang Kaya Kapai Sri Maharaja dari Moro.

Menurut MAPESA, nisan itu tidak bertahun, tetapi komplek itu berisi kubur-kubur bertarikh wafat pada penghujung abad ke-10 Hijriah.

Semoga dengan perdamaian yang dicapai, dapat mengembalikan Bangsamoro dan Bangsa Aceh sebagai bangsa yang gemilang dan cemerlang di kawasan Asia Tenggara.

*) Penulis adalah anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bermukim di Aceh Besar.

KOMENTAR FACEBOOK