Kegigihan Nek Ni Mendaur Ulang Plastik Bekas Jadi Bernilai Ekonomis

@aceHTrend/Masrian Mizani


ACEHTREND.COM, Blangpidie – Sini AL (58), janda tua yang hidup sebatang kara di Gampong Gudang, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) itu menarik dijadikan sebagai motivator dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Betapa tidak, janda yang tidak dikarunai anak tersebut memilih untuk berjuang sendiri dalam menafkahi kehidupannya tanpa meminta-minta.

Baginya, berharap sepenuhnya pada orang lain bukanlah tujuan hidupnya. Semasih dirinya mampu untuk bekerja tanpa merugikan orang lain. Meskipun dilahirkan dalam keadaan tidak sempurna fisik, tetapi semangat kerja kerasnya kian tertanam pada janda setengah abad lebih itu.

“Tangan kanan nenek cacat sejak lahir, untuk bekerja, nenek harus menggunakan tangan kiri,” ungkap wanita yang biasa dipanggil Nek Ni kepada aceHTrend di kediamannya, Jumat (25/1/2019).

Nek Ni hanya seorang perempuan biasa yang dilahirkan dari keluarga sederhana. Sejak ditinggal pergi sang kekasih (suami) dua tahun lalu, Nek Ni harus berjuang sendiri dengan segala rasa dan asa.

Sehari-hari, Nek Ni yang tinggal di rumah dengan kondisi dinding sudah dimakan rayap itu menghabiskan waktu membuat keranjang daur ulang dari bahan wadah bekas air mineral. Wadah-wadah tersebut dililit dengan benang wol beraneka warna sehingga tampak cantik dan menarik. Selain itu, dirinya juga memanfaatkan bahan bekas kemasan deterjen yang disusun rapi hingga dijadikan tas. Semua itu ia lakukan demi memenuhi isi periuk di saat tiba waktunya.

“Alhamdulillah, cuma ini yang bisa nenek kerjakan, satu keranjang ini menghabiskan sebanyak lima ikat benang wol dan puluhan wadah bekas air mineral. Untuk satu ikat benang ini nenek beli dengan harga Rp5 ribu. Uuntuk pembuatannya, satu keranjang minimal lima hari baru siap. Kalau tas deterjen sampai satu minggu siapnya, sebab harus dicuci, dijemur, kemudian baru dibuat,” ujarnya.

Untuk satu keranjang, biasanya Nek Ni hanya menjual dengan harga Rp50 ribu per keranjang, begitu juga halnya dengan harga satu tas. Itu pun, penghasilannya tidak setiap hari ia dapatkan.

“Tidak menentu lakunya, apalagi proses pembuatannya lama, kadang-kadang juga terkendala pada modal usaha,” jelasnya.

Meski begitu, Nek Ni tidak berharap banyak pada siapa pun, sebab dirinya sudah berulang kali diberikan harapan oleh si Pemberi Harapan Palsu (PHP). Terkadang, dengan kondisi rumahnya yang tergolong kurang layak huni, banyak orang yang memanfaatkan kondisi itu untuk didokumentasikan dalam proposal.

“Nenek sudah tua, tidak banyak lagi yang Nenek harapkan, tapi terkadang banyak orang yang jumpai Nenek untuk ambil foto, minta salinan KTP, KK dan foto rumah, bahkan ada juga yang menyuruh Nenek berdiri di pintu, kemudian difoto, katanya biar dapat rumah bantuan, tapi sampai sekarang belum ada. Maka tadi Nenek pikir kamu juga mau memberikan harapan kepada Nenek seperti mereka,” ujarnya menyindir.

Nek Ni mengaku, meskipun tidak banyak, akan tetapi saudara-saudaranya sering membantunya sesuai dengan kemampuan mereka. Apalagi katanya, saudara-saudaranya itu juga sudah memiliki istri dan anak.

“Nenek paham, apalagi saudara-saudara Nenek sudah berkeluarga, Nenek pun tidak mungkin berharap lebih. Tapi merekalah yang sering membantu Nenek, baik itu beras dan lain sebagainya,” ulasnya.

Nek Ni berharap, meskipun tidak diberikan bantuan rumah oleh pemerintah daerah, tetapi setidaknya ia menginginkan modal alakadarnya untuk mengembangkan usahanya demi menjalankan kehidupannya di usia senja.

“Apalah yang harus nenek harapkan dengan usia seperti ini, anak tidak ada, kalaupun ada rumah tidak Nenek bawa ke dalam kubur, tapi di usia tua ini sambilan menunggu waktunya, Nenek hanya inginkan mengembangkan usaha ini demi kehidupan Nenek sehari-sehari,” harap Nek Ni.

Waktu begitu singkat, tidak terasa pembicaraan kami sudah berjalan selama dua jam lebih. Dari pertemuan ini, tentu banyak pelajaran hidup yang didapatkan. Meskipun Nek Ni bukan siapa-siapa, tetapi dirinya mempunyai prinsip sebagai seorang wanita cacat yang memilih berjuang ketimbang meminta-minta.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK