Memercik Air di Dulang, Membuly Diri Sendiri

Kabar tentang referendum Bangsamoro di Filipina Selatan, menarik minat seluruh umat manusia. Khususnya yang masih bercita-cita mendirikan negara sendiri. Tak terkecuali Aceh. Tak jarang, pelaksanaan referendum menuju otonomi itu, dipersepsikan keliru. Sebagai penentuan kemerdekaan.

Terlepas dari mispersepsi dari beberapa orang terhadap referendum plebisit itu, tapi ada yang menarik untuk disimak. Para penggiat kemerdekaan di sana belajar banyak dari Aceh, baik kelebihan maupun kekurangan. Aceh dalam konteks perdamaian, telah menginspirasi dunia.

Secara waktu, 14 tahun damai bersemi du Aceh, tahap krusial pertama telah dilalui. Prediksi banyak pihak bahwa damai di bumi Iskandar Muda tidak akan berusia panjang, semakin kecil saja untuk terbukti. Semoga saja damai abadi bersemi di bumi para aulia ini.

Tanpa perdamaian, mustahil Aceh bisa maju. Mustahil rakyat Aceh bisa sejahtera. Mustahil generasi Aceh akan cerdas dan bersaing dengan rakyat di negara maju. Tanpa damai, Aceh akan selamanya terpuruk.

Tapi, ada pula yang tidak bersyukur atas damai yang diraih pada 15 Agustus 2005. Banyak suara sumbang. Memojokkoan GAM, menistakan ketulusan mereka maju ke meja perundingan. Tak sedikit pula yang menyebut bila perundingan damai yang menghasilkan MoU Helsinki sebagai bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan Hasan Tiro. Wali Neugara ditipu oleh juru runding GAM. Sungguh terlalu fitnah demikian.

Aceh pascatsunami adalah daerah yang sudah hancur lebur. “Tentara Allah” dalam rupa gempa dan gelombang besar nan beringas telah meluluhantakkan Aceh sampai ke akar-akarnya. Hanya dalam waktu sekejap, ratusan ribu nyawa melayang.

Kalau sudah banyak yang mati, ditambah lagi tewas kala perang melanda, lalu untuk apalagi perang bersenjata? Untuk apalagi pertikaian berdarah-darah? Bilapun dipaksa untul dilanjutkan, GAM akan dimusuhi oleh mayoritaa rakyat Aceh, yang kala itu sudah benar-benar tak berdaya.

Perundingan di Helsinki, Finlandia, dicapai setelah kedua belah pihak menyimpulkan bahwa Aceh harus diselamatkan. Bila perang dilanjutkan, Aceh akan binasa. Indonesia masih memiliki energi berlebih, GAM walau masih ada yang ingin terus bertempur, tapi sudah lumpuh sebagian. Kombatan boleh masih eksis, tapi keluarga mereka telah dilamun samudera.

***

Setelah damai dirajut, banyak bangsa luar datang ke Aceh untuk belajar tentang perdamaian. Mereka mempelajari segenap hal yang perlu ditiru, serta yang tak perlu ditiru. Pemotongan senjata termasuk yang menjadi pembelajaran bagi bangsa Moro. Mereka tak sepakat senjata dibumihanguskan. Senjata mereka digudangkan.

Andaikan Aceh tak damai, dari mana mereka akan belajar? Andaikan Aceh tak damai, dari mana mereka akan berguru?

Sebagian kita, saya lihat di laman facebook, mengutuk GAM karena senjata mereka dipotong oleh Aceh Monitoring Mission (AMM). Mereka mengatakan GAM bodoh, ceroboh, grasa-grusu, dan lain sebagainya. Mereka tak mau tahu tentang betapa perdamaian dibangun atas rentangan doa jutaan rakyat yang masih hidup. Di bawah tangisan janda , yatim dan rakyat yang tidak berdaya. GAM ingin menunjukkan keseriusan bahwa perdamaian adalah cita-cita mereka juga. GAM ingin mengatakan “Mari berdamai, kita lanjutkan perjuangan dengan cara berbeda.”

Dunia luar memuji ketulusan GAM. Dunia luar memuji RI. Mereka menaruh hormat atas hasil maksimal yang disepakati kedua belah pihak. Sebuah model perdamaian yang menembus batas.

Perdamaian yang membuat GAM menang dalam beberapa hal, dan RI juga tidak kehilangan martabatnya sebagai negara. Self goverment adalah sesuatu hal teramat istimewa yang hanya diberikan untuk Aceh oleh Indonesia. Dengan segala hal ini, Aceh pun jadi model dunia.

Menghujat GAM dengan segala pencapaian yang sudah dilakukan, adalah sikap dungu. Melecehkan pencapaian GAM adalah kepandiran berpikir.

Tapi inilah orang Aceh, selalu unik cara berpikirnya. Bangsa yang lahir dari perpaduan bangsa lain, tak pernah bisa diikat dalam keseragaman tujuan dan sudut pandang. Benarlah kata guru saya: “Jikalau kau ingin melihat prestasi seseorang dilecehkan, datanglah ke Aceh.”

Maka, wajar bila hoax bertumbuh dengan pesat di sini.

Atau inikah pertanda, bila bangsa inu belum sepenuhnya entas dari kebodohan? Maybe yes.

KOMENTAR FACEBOOK