Miskin tapi Bahagia, Fakta Kontradiksi Menarik tentang Aceh

Terkait Aceh ada beberapa fakta menarik, yaitu :

  1. Peringkat 1 (Angka) Kemiskinan Se-Sumatera.
  2. Termasuk 13 provinsi Terbahagia (di atas rata2 nasional).

Miskin tapi Bahagia, satu bukti lagi bahwa tidak adanya korelasi langsung antara bahagia dan kaya ?

Miskin hanya masalah tingkat kesejahteraan saja bagi Aceh, tidak ada hubungan langsung dengan bahagia.

Bahagia bagi orang Aceh sepertinya lebih kepada efek kultur, adab, dan nilai lokal masyarakat yang penuh dengan kesyukuran dan silaturahmi sesuai tuntutan asas manusia sebagai makhluk sosial.

Ini bisa dilihat dengan mudah melalui aktifitas-aktifitas sosial dikeseharian masyarakat Aceh, spt. maulidur Rasul, berbagai acara peusijuek, peutrón aneuk, aqiqah, péh cakra di keudé kupi, bahkan sampai ke acara tóet panyót ureung meuninggai, khauri tahlilan dan samadiah, dll., yang penuh dengan nuansa kesyukuran dan silaturahmi.

Bapak Plt. Gubernur cs sepertinya menyadari betul nilai lokal ini dan telah menggunakan kesyukuran dan silaturahmi ini sebagai asas kuat pembangunan Aceh menuju Aceh Hebat.

Selain 2 fakta kontradiksi di atas, ada satu lagi fakta menarik bahwa Aceh termasuk satu dari beberapa provinsi istimewa di Indonesia yang selalu mendapat kucuran APBN besar.

Kalau ketiga fakta ini dianalogikan kepada faktor nilai positif dan negatif pembangunan Aceh, maka modal pembangunan Pemda Aceh seharusnya sudah unggul dengan skor 2-1 (nilai positif vs negatif: Bahagia+APBN vs Miskin).

Seharusnya Aceh sudah tidak berbicara lagi tentang pemberantasan kemiskinan, tetapi lebih kepada peningkatan standar minimum kemiskinan, alias Aceh punya standar kemiskinan sendiri di atas standar Nasional.

Karena menurut spirit Sunnatullah Zakat, kemiskinan memang tidak mungkin disifarkan. Kemiskinan tetap ada dalam masyarakat, hanya batas garis patokan minimumnya mungkin bisa dinaikkan menjadi semakin tinggi (di atas standar nasional, misalnya..?). Alias tingkat kesejahteraan (miskinnya) di atas standar nasional.

Dengan curahan APBN yang selalu besar ini, masyarakat tentu sangat berharap Pemda dan segala komponen masyarakat terkait dapat bekerjasama menaikkan batas minimum garis kemiskinan, sambil tetap menjaga bahkan menaikkan level kebahagiaan masyarakat.

Dari 4 strategi yang dipaparkan Pemerintah Aceh sebelum ini dalam mengentaskan kemiskinan, semoga strategi ke-3 yaitu pemberdayaan masyarakat (walau nomor 3) dapat diberikan fokus yang lebih, melalui peningkatan berbagai aspek dan instrumen terkait pendidikan, peningkatan keahlian, dll terhadap masyarakat luas.

Pada tahap tertentu nanti, hanya dengan bekal ilmu pengetahuan yang mumpuni saja maka masyarakat akan memahami dan menerjemahkan kiat dan strategi berbagai usaha pengentasan kemiskinan dari Pemda ke wilayah personal dan sosial mereka sendiri.

Semoga dengan pem-fokus-an yang lebih kepada Strategi ke-3 program pengentasan kemiskinan di Aceh: pemberdayaan masyarakat, maka cita-cita Aceh Hebat dapat terwujud, bahkan terlampaui menuju Aceh Mulia. Insya Allah.

KOMENTAR FACEBOOK