5 Terdakwa Kasus Sabu 50 Kg Dituntut Hukuman Mati dan Penjara Seumur Hidup

@aceHTrend/Taufan Mustafa

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Lima terdakwa kasus sabu-sabu 50 kilogram kembali disidangkan di Pengadilan Negeri Banda Aceh, Senin (28/1/2019).

Hari ini agenda sidang berupa pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum. Empat terdakwa dituntut hukuman mati, yaitu Abdul Hannas alias Annas (41), Mahyuddin alias Boy (36), M Albakir alias Bakir (28), dan Azhari alias Ari (29). Satu tersangka lainnya dituntut penjara seumur hidup, yaitu Razali M Dia alias Doyok (36).

Majelis hakim yang diketuai oleh Bahktiar SH kepada terdakwa menyatakan memberi kesempatan kepada terdakwa untuk melakukan pembelaan (pledoi), baik secara lisan maupun tertulis. Namun semua terdakwa meminta untuk mengajukan pembelaan secara tertulis melalui kuasa hukum dan disanggupkan oleh mejelis hakim, dengan memberi waktu selama dua minggu, sampai tanggal 11 Februari 2019 dengan agenda mendengar pembelaan terdakwa.

Kuasa hukum terdakwa, Ramli Husin, kepada wartawan mengatakan, bahwa tuntutan yang dibacakan oleh Jaksa terlampau berat, sehingga pihaknya akan kembali mengkaji celah mana yang bisa dilakukan untuk mengurangi tuntutan.

“Kami rasa tuntutannya terlampau berat, dengan apa yang dilakukan oleh terdakwa, karena mereka ini diupah, seperti Bakir dihubungi oleh Mahyuddin untuk ambil barang ke Malaysia, mereka pengangguran semua, malahan Mahyuddin dalam fakta sidang mengatakan sedang menganggur, lalu ada tawaran ini,” katanya.

Ia menjelaskan, bos utamanya sedang DPO, yaitu Abu, mereka semua diupah. Anas diperintah oleh Abu, lalu Anas menghubungi Mayuddin, kemudian Mahyuddin menghubungi Bakir bersama Azhari, dan Razali selaku anak buah Anas.

“Kami tidak sepakat dengan JPU, terhadap tuntutan pidana mati, kita akui ini bersalah, tapi ada pihak harus melihat, mereka semua orang pedih, pengangguran, kita berharap kepada pengangguran lainnya jangan sampai ikut seperti mereka ini,” kata Ramli.

Sementara, Kasi Pidum Jaksa Penuntut Umum (JPU), Muliana SH mengatakan, yang menjadi pertimbangan pihaknya terkait perbedaan tutntutan kepada Razali karena hanya menjadi pengantar boat, setelah barangnya tiba juga akan diambil oleh Razali, tetapi itu belum sempat terjadi.

“Pertimbangan kami karena si Razali ini hanya mengantarkan boat dan menyiapkan boat, untuk yang bekerja mengambil barang dari Malaysia yaitu Azhari dan Al Bakir, saat itu ada perjanjian bahwa ketika sudah sampai sabu dari Malaysia akan diserahkan ke Razali juga. Namun penyerahan itu belum terjadi, tugasnya belum selesai, itu yang jadi pertimbangan, dia hanya menyiapkan bot dalam masalah ini, otaknya Anas, jadi anas yang memberikan instruksi ke Doyok, dan Doyok memberikan tugas ini ke Mahyuddin,” kata Muliana.

“Untuk pertimbangan dituntut hukuman mati bagi keempat pelaku lainnya, itu karena barang bukti, kalau 50 kilogram sudah sepatutnya hukuman mati, karena efek yang ditimbulkan bahaya juga bagi masyarakat,” jelasnya.

Sebelumnya, pada 3 Juni 2018 terdakwa Annas mendapat telepon dari Abu (DPO) yang menawarkan pekerjaan berupa mengambil sabu-sabu seberat 50 kg di tengah laut yang didatangkan dari Penang, Malaysia, dengan janji akan diberi upah Rp5 juta per kilogram.

Dalam melakukan pekerjaannya, Annas melibatkan Boy, Doyok, Bakir, dan Ari, para terdakwa berhasil mengambil sabu-sabu dari sebuah kapal di tengah laut. Namun, penyeludupan sabu-sabu tersebut berhasil digagalkan oleh tim kepolisian dari Mabes Polri dan Bea Cukai.

Amatan aceHTrend, proses persidangan terhadap terdakwa dilakukan secara bertahap, dengan menghadirkan terdakwa satu persatu dalam ruang sidang tersebut, dan terdakwa lainnya menunggu panggilan setelah yang lainnnya selesai.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK