Mereka yang Memilih Hijrah

Hijrah adalah jalan kemuliaan tempuhan para Nabi. Tak hanya Rasulullah Muhammad saw saja, Nabi Musa dan Ibrahim juga pernah diperintahkan untuk berhijrah sebagaimana disebutkan dalam Alquran.

Habis gelap terbitlah terang, kira-kira kata-kata itu yang cocok disematkan kepada 76 pemuda tangguh yang memilih ‘hijrah’ mencari kebenaran di jalan-Nya. Mereka adalah pemuda yang memilih nyantri di Pesantren Bustanul Huda pimpinan Abu Muda H. Muhammad Qudusi Syam Marfaly.

Salah satunya yaitu Brigadir Teuku Edi H. Kini ia bertugas sebagai Kanit Reskrim Polsek Susoh, Aceh Barat Daya. Di samping pekerjaannya sebagai abdi negara dan penjaga situasi di masyarakat agar tetap kondusif, ia juga menyempatkan diri untuk belajar dan memantapkan pengetahuan agama.

Sembari meneguk segelas kopi, Brigadir Edi yang juga akrab disapa Ampoen itu mengawali kisahnya. Kepada aceHTrend ia menyebutkan, perjalanan hijrah itu dimulai sejak awal tahun 2018 lalu. Baginya, tidak ada keterlambatan untuk belajar ilmu agama, semasih mempunyai ketulusan niat untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

“Waktu itu saya sangat merasa masih banyak kekurangan ilmu agama, dan saya sangat menyadari kekurangan itu, sehingga saya meminta izin kepada pimpinan Polres untuk belajar agama di pesantren Abu muda. Alhamdulillah beliau mengizinkan,” ujar Ampoen, Senin (28/1/2019).

Setelah menerima izin dari pimpinan, Ampoen yang di kala itu memilih hijrah, langsung menemui Abu muda di Pesantren Bustanul Huda. Kepada Abu, Ampoen mencurahkan segala keinginannya untuk dapat dijadikan sebagai santri di pesantren Alm. H. Abuya Syam Marfaly tersebut.

“Awalnya saya pribadi merasa malu disaat jumpa dengan beliau. Namun rasa itu saya coba untuk hilangkan, sehingga dengan penuh keberanian saya menceritakan tujuan saya jumpa dengan beliau. Setelah semua saya ceritakan, kemudian saya menanyakan kepada beliau, apakah Abu ada waktu untuk ajari saya ilmu agama, lalu beliau jawab boleh, waktu Abu selalu ada kalau ada yang ingin belajar,” kisah Ampoen.

Harapan itu sudah tercapai, Abu muda sudah menerima keluh kesah yang disampaikannya, Ampoen yang sudah mencoba membuka jalan komunikasi, kemudian dirinya mencoba mengajak sahabat-sahabatnya yang berada di jajaran kepolisian untuk ikut serta menimba ilmu agama di Pesantren Abu muda. Tidak perlu menunggu lama, dua pekan kemudian, Ampoen membawa sebanyak 30 orang dari jajarannya untuk ikut serta ke Pesantren Bustanul Huda.

“Setelah komunikasi awal itu saya bangun, kemudian baru saya ajak teman-teman di jajaran untuk ikut serta ke pesantren. Alhamdulillah mereka mau untuk sama-sama memperdalam ilmu agama,” ungkapnya.

Waktu kian berlalu, pengajian pun sudah mulai dilakukan. Dalam satu minggu, mereka dijadwalkan enam kali pengajian kecuali malam Jumat. Ternyata, aroma hijrahnya mereka sedikit-dikit mulai tercium oleh pemuda gampong yang berada tidak jauh dari pesantren, sehingga banyak pemuda yang memilih mengikuti jalan hijrah mereka.

“Alhamdulillah sekarang jumlah kita yang memilih jalan hijrah sudah mencapai 76 orang, 60 polisi, 7 dari Aparatur Sipil Negara (ASN) dan 9 dari sipil. Sekarang kita sudah membuat satu kelompok yang kita namakan Qabilah Pemuda Hijrah yang diketuai oleh KBO Reskrim Polres Abdya, Aiptu Hirjon,” jelas Ampoen.

Ampoen menyebut, dalam menjalankan pengajian tersebut, Abu muda membagikan sebanyak dua kelas, yaitu kelas 1B dan kelas 1C, untuk kelas 1B, Abu mengajarkan kitab Bajuri, sementara di kelas 1C, Abu mengajarkan Kitab Matan Takrib. Artinya, ke-76 orang tersebut diajarkan pemantapan ilmu Fiqih.

Bagi Ampoen, hidup yang sebenarnya itu saat seorang hamba selalu mengingat kepada sang pencipta. Dirinya berkeyakinan, majunya peradaban Islam tergantung pada pemantapan nilai-nilai dasar agama di dalam dada para pemuda.

Dirinya mengajak agar seluruh pemuda-pemuda di Kabupaten Aceh Barat Daya yang memiliki latar belakang berbeda agar sama-sama untuk kembali mensyiarkan nilai-nilai agama dengan cara terus belajar dan mempraktikkan ajaran Islam itu sendiri.

“Semakin gersangnya nilai-nilai agama di hati pemuda, maka semakin besar pula peluang kriminalitas dan perilaku-perilaku menyimpang di kalangan masyarakat. Maka kami mengajak agar anak-anak muda kembali bergairah untuk memperdalam Islam,” ajak Ampoen.

Jangan Hanya Berguru pada Internet

Pimpinan Pesantren Bustanul Huda, Abu muda H. Qudusi Syam Marfaly menyebutkan, menuntut ilmu agama merupakan fardu ain (kewajiban). Dalam menuntut ilmu agama tersebut tidak mengenal batas usia mulai dari kandungan hingga ke liang lahat.

“Menuntut ilmu agama  fardu ain. Jadi ketika mereka berniat untuk hijrah, saya menyambutnya dengan baik, apalagi belajar ilmu agama itu tuntutan agama. Kewajiban mereka belajar dan kewajiban kami untuk mengajar, apalagi yang mereka minta itu untuk diajarkan ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat,” ujar Abu Muda kepada aceHTrend.

Menurut pengakuan Abu Muda, cara mengajarkan pemuda hijrah sangat berbeda dengan santri-santri lainnya yang ada di Bustanul Huda, sebab, para pemuda hijrah ini tidak “diikat” dengan peraturan-peraturan dan sistem yang berlaku di pesantren. Namun, Abu mencoba untuk mengajari mereka sesuai dengan keinginan dari pemuda hijrah.

“Sangat beda cara kita mengajari mereka. Sebab kalau kita tetapkan peraturan yang berlaku di pesantren, takutnya mereka tidak tahan dan akan lari,” ujar Abu Muda dengan nada candaan.

Dalam mengajari pemuda hijrah, Abu Muda lebih fokus pada tiga ilmu dasar, yaitu terkait ilmu Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf.

“Artinya kita mengajari pemuda hijrah ini pada tiga ilmu dasar yang harus dipelajari setiap muslim, dyaitu ilmu Tauhid yang bertujuan mereka mengenal akan Allah. Kemudian ilmu Fiqih yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-sehari baik itu thaharah, ibadah muamalah, dan lain sebagainya. Sedangkan ilmu Tassawuf untuk mereka menjaga diri. Artinya ketiga ilmu ini memang wajib untuk kita pelajari, sebab ketiga ilmu ini adalah pondasi awal bagi kaum muslimin,” jelas Abu.

Dari amatan Abu, selama pemuda hijrah ini memperdalam ilmu agama, banyak terdapat perubahan pada mereka. Paling tidak kata Abu, pemuda-pemuda hijrah sudah memiliki rasa tingginya kecintaan terhadap Islam. Sebab jelas Abu, di saat seseorang sudah tumbuh rasa cinta terhadap Islam, seseorang itu pasti akan selalu dekat dengan Allah dan siap berkorban di jalan-Nya.

Kepada pemuda Abdya, Abu berpesan agar senantiasa untuk menuntut ilmu agama semasih diberikan usia muda dan kesehatan. Sebab, ibadah yang dilakukan tanpa ada ilmu, ibadah tersebut tidak sah dan tidak diterima oleh Allah.

“Menuntut ilmu agama itu wajib, dalam menuntut ilmu itu harus ada guru, sebab Nabi pernah menyampaikan, apabila menuntut ilmu tanpa guru, maka gurunya itu iblis dan setan. Dan tidak mungkin ilmu agama itu kita belajar sendiri, apalagi dengan berbagai media sosial hari ini yang sangat bebas mempelajari ilmu agama, sehingga mempermudah masuknya paham-paham yang menyimpang, apalagi mereka tidak mau menanyakan apa yang mereka baca di internet, akhirnya paham-paham itu dengan mudah mereka telan mentah-mentah. Maka belajar ilmu agama itu memerlukan guru, tidak cukup dengan belajar di internet,” ungkapnya.

Abu menjelaskan, orang yang mempunyai dasar agama, orang tersebut pastikan tidak akan melakukan penyimpangan-penyimpangan, apalagi perbuatan-perbuatan yang melanggar dengan hukum, dikarenakan pada dirinya itu sudah dibentengi oleh kekokohan pondasi agama.

“Saya mengajak agar pemuda Abdya untuk sama-sama menuntut ilmu agama, karena di saat pondasi agama itu sudah kokoh pada seorang pemuda, ke mana pun pemuda itu pergi pasti dia akan selalu mengingat kewajiban dan larangan Allah Swt,” pesan Abu.

Tentunya lanjut Abu, kokohnya pondasi agama kepada pemuda dan anak-anak sangat tergantung pada kedua orang tua. Abu menganalogikan, mendidik anak tersebut sama halnya dengan menanam tanaman. Artinya, subur tanaman itu tergantung pada tiga unsur, yaitu adanya bibit yang bagus, tanah yang bagus, dan cuaca yang bagus.

“Bibit yang bagus itu adalah anak kita, adapun tanah yang bagus, itu adalah tempat di mana kita mengantarkan si anak untuk menuntut ilmu agama, baik itu pesantren, dayah dan lain sebagainya. Sedangkan cuaca, itu adalah faktor orang tua dan guru. Andai kata seorang ayah hanya mengantarkan anaknya ke pesantren atau dayah tanpa adanya kepedulian dan kerja sama dengan guru dalam mendidik, anak ini juga tidak akan mengalami pengembangan. Artinya, meskipun bibitnya bagus, tanahnya juga bagus, tapi kalau tidak didukung oleh cuaca juga tidak arti. Maka faktor dukungan orang tua juga sangat berpengaruh pada pengembangan anak dalam menuntut ilmu,” papar Abu muda.

Terakhir Abu menyebutkan, dengan adanya pemuda-pemuda hijrah ini diharapkan akan mampu mengajak pemuda-pemuda lain untuk menuntut ilmu agama. Sebab, agama akan kuat, bila pemuda-pemudanya mempunyai pondasi agama yang kokoh.

“Alhamdulillah, Bapak Wakil Bupati, Bapak Kapolres, Bapak Dandim juga mendukung penuh niat para pemuda hijrah untuk belajar agama. Sekarang pemuda-pemuda hijrah ini juga sudah mendirikan sebuah tempat untuk mereka sendiri yang juga ikut dibantu oleh Kapolres, Wakil Bupati dan unsur-unsur lainnya. Semoga ke depannya akan banyak pemuda-pemuda lain yang berdatangan ke pesantren-pesantren yang ada di Abdya untuk memperdalam ilmu agama, sebab menuntut ilmu agama itu tidak ada batas usia, bahkan sampai ke liang lahat sekalipun,” pungkas Abu Muda.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK