Ketua Poros Muda Aceh: Politik Bukan Tempat Cari Untung

Sebelum Saifannur-Muzakkar mendaftarkan diri sebagai salah satu calon Bupati dan Wakil Bupati Bireuen pada Pilkada 2017, ia jauh dari hiruk pikuk politik. Poros Muda Aceh justru tak mau ia tinggalkan setelah paslon itu menang. Sebagai ketua organisasi yang baru seumur jagung, Ilham justru tak mau bergantung pada Saifannur. Ia mengelola organisasi itu secara mandiri.

Namanya Ilham Akbar, ST., lelaki kelahiran 7 Januari 1983 itu awalnya tidak tertarik sedikit pun pada dunia politik. Sarjana Teknik yang masuk bangku perguruan tinggi di Unsyiah, dan menamatkan kuliahnya di Universitas Almuslim, jatuh cinta pada politik, karena terlibat hiruk pikuk pilkada.

“Saya menemukan hal lain dalam politik. Setelah belajar banyak hal melalui lika-liku Pilkada Bireuen 2017, saya memutuskan untuk terjun. Di sini peluang bekerja untuk orang banyak terbuka lebar,” ujar alumnus STM Bireuen yang dipercaya sebagai Ketua Alumni STM Bireuen, Selasa (29/1/2019)

Tahun 2016, Ilham berkecimpung dalam organisasi politik. Namanya Poros Muda Saifannur. Tentu kala pertama bergabung ia minim pengalaman. Maklum inilah pertama kali ia berkecimpung dalam organisasi seperti itu.

Ketika kemudian dia diberikan mandat untuk melakukan take over, Poros Muda Saifannur adalah organisasi yang masih sangat belia. Struktur kepenguruaannya sangat lemah.

Tapi Ilham tak putus asa. Dia percaya bila dikelola dengan baik, organisasi yang kala itu belum berbadan hukum–masih sebatas sayap pemenangan– akan bertumbuh besar.

Sembari menjalankan mandat sebagai ketua, Ilham belajar keras untuk memahami dunia organisasi politik. Dalam waktu yang tidak begitu lama, Poros Muda pun berhasil ia bangun dengan 2.000 anggota. Angka yang luar biasa untuk sebuah organisasi yang masih berusia belia.

Banyak yang mengira bila Poros Muda akan selesai dan bubar setelah pilkada usai. Tapi Ilham membuktikan, usai pilkada, Poros Muda Saifannur tetap dilanjutkan. Ruang lingkupnya pun dibesarkan. Serta bukan lagi underbow kandidat. Tapi sebagai organisasi massa berbasis anak muda.

Ilham Akbar mendaftarkan Poros Muda Aceh (PMA) ke Kesbangpol Linmas Propinsi Aceh. “Saya tak mau organisasi ini mati. Poros Muda harus hidup dan memiliki kader,” katanya kala berbincang dengan aceHTrend.

Untuk menguji soliditas tim, Ilham pun mengumpulkan kembali anggotanya. Dari 2.000 yang terdaftar, 1.500 orang hadir. Semangat pengusaha muda ini pun kian terpacu. “Ini pembuktian bahwa teman-teman menganggap Poros Muda bukan sekadar lembaga pemenangan kandidat pada pilkada,” katanya.

Ilham pun kemudian menjalankan organisasi dengan kegiatan-kegiatan sosial seperti takziah, saling berkunjung bila ada musibah, meramaikan bila ada pesta pernikahan dan hal-hal lain.

“Pun demikian, Poros Muda Aceh bukan semata lembaga sosial. Saya menghimpun teman-teman muda di dalam Poros Muda untuk kegiatan sosial dan politik. Ini menjadi tempat membangun jaringan dan peluang. Kami menyadari tanpa sandaran politik, kerja sosial akan berat. Apalagi mayoritas dari kami belum mandiri secara keuangan,” kata Ilham.

Kini, Poros Muda Aceh sudah memiliki pengurus di 13 kecamatan di Bireuen. Ke depan Ilham dan teman-temannya ingin membuka sayap ke seluruh kabupaten/kota di Aceh.

Kesempatan itu sudah datang. Lima kabupaten sudah menyatakan diri ingin bergabung. Tapi Ilham masih belum ingin sesegera mungkin melebarkan sayap. Dirinya ingin sebelum Poros Muda Aceh membuka perwakilan ke seluruh Aceh, pengurus di Bireuen sudah lebih dahulu kuat.

“Tentu cita-cita agar memiliki cabang di mana-mana, tetaplah ada. Tapi belum sekarang saatnya. Kami harus memperkuat pondasi organisasi di tingkat pusat terlebih dahulu. Untuk apa besar tapi mencair di dalam,” katanya.

Apakah Poros Muda Aceh bergantung hidup pada Bupati Bireuen? Ilham menggeleng. Menurutnya PMA adalah organisasi yang mandiri dan tidak menjadi “agen” bagi siapa pun.

“Kami ingin PMA menjadi ormas yang berdiri sendiri. Bisa menjadi mitra kerja siapa pun yang berminat bekerja sama, tapi bukan underbow. Kami bercita-cita PMA menjadi lembaga kepemudaan yang mandiri, serta memiliki kapasitas untuk menjadi mitra politik. Karena tujuan pendirian PMA pun untuk kegiatan politik dan sosial,” katanya.

Kala ditanya apakah dia tidak rugi mendirikan PMA, padahal di saat yang sama dirinya juga maju sebagai caleg DPRA? Ilham sembari tersenyum mengatakan bahwa politik bukan sekadar tempat cari untung. Tapi juga tempat berkarya demi orang banyak.[]

KOMENTAR FACEBOOK