Politisi Inong Ini Mengaku Merinding Mendengar Seruan Mualem, Mengapa?

“Saya merinding mendengar seruan Mualem.”

Aceh Utara – Pengakuan itu disampaikan Cut Meutia, salah seorang Caleg DPRA dari Partai Aceh usai menghadiri di acara pengukuhan 240 pengurus Komite Pemenangan Partai Aceh (KKPA) wilayah Pase, di Lapangan Upacara Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, 27 Januari 2019 lalu.

Seruan itu, ungkap mantan aktivis itu, adalah tanda bahwa Muzakkir Manaf sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (PA) sadar betul ada ancaman nyata terhadap keberadaan partai lokal di Aceh.

“Ini bukan karena terus tergerusnya kursi Partai Aceh di DPRK dan DPRA, ada hal lebih substansi, dan ini soal masa depan demokrasi di Aceh yang identitasnya ada di partai lokal,” sebutnya sambil matanya menerawang ke langit.

Cut Meutia sesekali terlihat gelisah, bukan karena kerja politiknya sebagai Caleg DPRA melainkan karena sadar betul pertarungan politik macam apa yang sedang dilakoninya saat ini.

“Pokoknya, dalam situasi begini, inong-inong Aceh yang sudah membuktikan keberaniannya harus kembali turun gunung, dan agam Aceh harus kembali memberi jalan bagi kamo inong Aceh, kalau han kali nyo putoh barang,” sebutnya.

Cut Mutia, sosok aktivis Perempuan Merdeka itu memungut ranting yang patah dan memperlihatkannya. “Nasib politik Aceh sekarang ibarat ranting kering ini, tidak hanya mudah patah, tapi juga mudah menjadi kayu bakar,” katanya seperti sedang memberi isyarat kegentingan politik Aceh.

Diujung perbincangan, ia menyerukan gerakan pemenangan politisi perempuan sehingga jumlah politisi perempuan di DPRK dan DPRA makin banyak. “Dalam situasi darurat politik, hanya inong Aceh yang mampu meretas jalan kembali ke arah jalan Aceh,” tutupnya.

KOMENTAR FACEBOOK