“Revolusi Karang” Ala Abu Syiek untuk Pulihkan Tambak Rakyat

Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB, berangkat dari rumahnya di Gampong Puuk, Bupati Pidie Roni Ahmad yang biasa disapa Abu Syiek, menuju ke salah satu tambak milik masyarakat di Gampong Rawa, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie.

Hari ini, Selasa (29/1/2019) mantan petempur Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu berhajat hendak melihat langsung proses pengolahan tambak warga yang hampir selesai dilakukan oleh sejumlah pekerja.

Rencananya, di lahan tambak seluas 1,5 hektare itu akan dibudidayakan udang vaname.

Mengapa Abu Syiek sangat ingin melihatnya? Apa yang beda di tempat itu?

Proses pengolahan tambak yang dibina langsung oleh Abu Syiek tergolong beda dengan proses pengolahan tambak yang selama ini dilakukan masyarakat.

Amatan aceHTrend, perbedaan yang sangat mencolok yaitu penggunaan material bongkahan karang yang disusun rapi di dalam tambak. Susunan yang memiliki jarak sekitar 1×1 meter. Dengan ukuran batu sebesar buah kelapa dan mangga. Puluhan kubik karang diatur rapi di dalam lumpur. Karang-karang itu didatangkan dari pegunungan di sekitar Pidie.

Selain penggunaan bongkahan karang, proses olah tambak secara alami ini juga menggunakan cairan mineral yang diproduksi khusus dengan cara fermentasi. Cairan itu disemprotkan ke tanah.

Kata Abu Syiek, hasilnya nanti sangat baik bagi pengembalian unsur hara tanah, serta menghilangkan racun yang telah sekian lama mengendap di dalam tanah.

“Menurut eksperimen yang telah saya lakukan bersama masyarakat, fungsi bongkahan karang yang diambil khusus itu dapat mengembalikan unsur hara dan menetralkan kadar air asin. Ujicoba kami lakukan pada sumur warga,” terang Abu Syiek.

Menurut salah satu tokoh masyarakat Pasi Rawa, Usman, hasil ujicoba sangat memuaskan. Sumur yang dulunya tidak bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari, sekarang sudah bisa dimanfaatkan untuk air minum. Warnanya pun sudah berubah menjadi jernih, dan kandungan garam atau rasa asin air sudah kembali normal.

“Sekarang air sumur sudah bening dan tidak asin lagi, dan kami bersama masyarakat telah melakukan uji coba pada enam sumur milik masyarakat, hasilnya sangat menggembirakan,” ujar Usman.

Menurut Usman, sukses melakukan ujicoba pada sumur, Roni Ahmad pun mencoba pada tambak yang sekian lama tidak lagi produktif. Bahkan kerap gagal panen.

“Selama ini, umumnya lahan tambak masyarakat tidak produktif lagi untuk budidaya udang vaname, saya ingin mencoba mengembalikan tanah tambak ini menjadi normal dengan proses alami, seperti yang saya lakukan sekarang,” ujar Abu Syiek.

Seperti yang dijelaskan Abu Syiek, pemulihan tambak dilakukan beberapa tahap. Pertama, melakukan penyemprotan tambak yang telah dikeringkan, dengan menggunakan cairan mineral hasil proses fermentasi yang dilakukan sendiri bersama masyarakat.

Langkah pertama telah dilakukan tiga kali semprot untuk memusnahkan limbah, amoniak dan pestisida yang telah mengendap lama.

Tahap selanjutnya, dilakukan endapan selama tiga hari dengan ketinggian air 70 cm dari permukaan tanah. Tujuannya agar penguraian tanah oleh cairan tersebut dapat bekerja merata.

Tahap ketiga, dilakukan pembuangan air selama seminggu secara perlahan, dengan cara mengeluarkan air lama dan memasukkan air baru setiap hari. Tujuannya agar limbah yang telah diproses oleh bahan mineral bisa mengalir keluar, tidak lagi mengendap di dalam tambak.

Tahap keempat, sesudah normal atau steril, selanjutnya pemakaian pupuk organik yang diolah khusus supaya hasil lebih maksimal. Selama seminggu baru diisi dengan bibit udang.

“Targetnya, pakan bisa hemat 40 sampai 60 persen. Karena tempat atau tanah tambak yang dibudidayakan udang vaname sudah sempurna, dan telah menyiapkan berbagai pakan alami yang bisa membantu proses pertumbuhan udang,” terangnya.

Kelebihan dari proses ini, lanjutnya, dapat meningkatkan hasil budidaya udang tanpa merusak tanah. Perbandingannya bisa meningkat 100 persen dari hasil biasanya.

“Saya lakukan ini semua untuk mengetahui sejauh mana hasil yang didapatkan dari proses tersebut. Kegiatan ini saya lakukan di sela-sela aktifitas saya sebagai Kepala Pemerintahan Kabupaten Pidie. Bila ini berhasil tidak tertutup kemungkinan akan kita terapkan dilahan masyarakat, dengan memberikan penyuluhan yang akan dibantu oleh Pemerintah Pidie.”

Ia melanjutkan, sebenarnya ilmu tersebut merupakan peninggalan nenek moyang yang telah diterapkan sejak zaman dulu. Tetapi praktek maupun pelaksanaannya tidak banyak orang yang mengetahui.

“Ilmu tersebut saya dapatkan pada orang tua dulu, sehingga sekarang saya ingin mencobanya lagi. Semoga dapat berhasil dan memberikan kontribusi kepada masyarakat yang ingin mempelajarinya dan mempraktekkan di tambak mereka. “

Di akhir penjelasannya, Roni Ahmad berharap apa yang ia lakukan sukses tanpa kendala. Ia ingin pengelolaan tambak kembali ke pola tradisional, minim kimia dan udang tetap sehat dan layak konsumsi, serta panen yang melimpah.

Kontributor: Ilhami

Editor: Muhajir Juli

KOMENTAR FACEBOOK