103 Bangunan di Atas Lahan PT KAI di Geudong Digusur

ACEHTREND.COM, Lhoksukon – Sebanyak 103 bangunan rumah dan kios milik warga yang dibangun di sepanjang lahan milik PT KAI (persero) di Keude Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara digusur, Rabu (30/1/2019).

Penggusuran dilakukan oleh puluhan petugas PT KAI pada pukul 07.30 WIB dan mendapat pengawalan dari puluhan anggota TNI dan polisi. Warga tak berani melakukan perlawanan dan langsung membongkar bangunan rumah, serta mengeluarkan seluruh perabotan dan barang dagangan mereka.

Vice President PT KAI (Persero) Dirve I Sumatera Utara, Rusi Haryono, mengatakan di lahan tersebut berdiri kurang lebih 103 bangunan. Penertiban itu dilakukan untuk optimalisasi, penataan, dan penjagaan aset milik PT KAI.

“Penataan selanjutnya nanti akan dikelola pemerintah daerah yang akan berkoordinasi dengan pihak PT KAI, tapi kita juga belum membahas itu lebih lanjutnya. Pemerintah daerah sudah ada gambaran untuk penataan lahan tersebut,” kata Rusi.

Sementara itu, Saiful Bahri (62) pemilik salah satu bangunan di kawasan itu mengatakan, dirinya sudah menempati lahan tersebut selama 26 tahun atau sejak tahun 1992.

Saiful menjelaskan, awalnya bangunan tersebut dibangun oleh pihak kecamatan dengan batasan jangan mendirikan bangunan di atas lahan milik PT KAI, tapi di atas tanah milik Pemkab Aceh Utara.

“Dulu pemerintah memberi izin kepada warga untuk membangun kios atau pun bangunan di lahan tersebut untuk mencari rezeki, sedangkan dari pihak PT KAI tidak ada pengeluaran surat izin, karena ini tanah milik BUMN atau milik negara, jadi tidak perlu ada surat izin dari PT KAI, sedangkan izin diberikan kami sesuai dengan UU 45 pasal 33 ayat 1,” kata Saiful.

Saiful menambahkan, mereka sudah beberapa kali duduk dengan pihak pemerintah daerah, tetapi tidak ada titik temu. Bahkan mereka juga beberapa kali menerima surat akan dilakukan penggusuran oleh PT KAI bila lahan tersebut tidak dikosongkan.

“Maka itu, kami menolak terkait surat tersebut dengan alasan warga tidak mau lahan yang selama ini mereka mencari rezeki untuk disewa kepada pihak lainnya atau ke pihak ketiga. Awalnya lahan tersebut terlantar bahkan ditumbuhi  semak belukar,” kata Saiful.

Saiful sendiri mengaku mengalami kerugian materi hingga Rp40 juta. Saat ini warga yang berjualan di sana untuk sementara tak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga kehilangan mata pencarian.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK