Lagu Indonesia Raya dan Bioskop yang Dipersepsikan Cabul

Ilustrasi bioskop. Sumber: Skyscrapercity.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi, membuat “terobosan”. Ia menghimbau setiap akan diputar film di bioskop, harus diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Bayangkan, suasana bioskop akan seperti lapangan upacara bendera.

Sebelum film diputar, akan ada pengumuman. “Para penonton yang budiman, sebelum film Bernafas Dalam Lumpur, diputar, mari menyanyikan lagu Indonesia Raya!”

Belum pun seumur jagung, seruan itu dicabut. Indonesia pun tersenyum. Minimal para pelanggan bioskop di luar Aceh akan tersenyum. Mereka akan lega.

Di Aceh, seruan itu, bilapun diberlakukan, tetap tidak berlaku. Di Aceh Tak ada bioskop. Warga kampung menonton film di warung kopi. Para pejabat menonton film di bioskop ke luar Aceh. Di Aceh haram bioskop.

Katanya, kalau ada bioskop, akan terjadi perbuatan cabul. Berarti yang cabul-cabul pasti masuk bioskop. Logika aneh tapi manjur. Untuk menakut-nakuti. Entah ada hubungan dengan kartel bioskop di luar Aceh. Entahlah.

Mewakili rakyat Indonesia, saya bersyukur. Walau di Aceh tidak ada bioskop, tapi lagu wajib itu batal masuk bioskop sebagai bagian dari seremonial memupuk rasa nasionalisme.

Bayangkan, bila menggunakan logika Aceh: Perbuatan cabul dilakukan di bioskop. Sekali lagi, bayangkan! Setelah menyajikan lagu Indonesia Raya, kemudian ruang menjadi gelap dan film diputar. Kemudian penonton mulai berbuat cabul.

Betapa akan terhinanya lagu yang diciptakan oleh WR Soepratman itu. Hanya untuk bergelap-gelapan sembari berbuat mesum, lagu dikumandangkan.

Apakah Imam Nahrowi meragukan nasionalisme para penonton film di bioskop? Tidak. Buktinya seruan itu dicabut. Mungkin Pak Menteri hanya iseng saja. Hanya sekedar cek ombak.

Logika Aceh yang selama ini didengungkan, adalah kekeliruan cara berpikir. Imam Nahrowi juga keliru menemukan cara memupuk nasionalisme.

Bedanya, sesat pikir ala Aceh tak pernah dicabut. Abadi sebagai komoditas politik. Sebagai hantu.

Imam Nahrowi segera mencabut seruan. Ia tak berlama-lama dalam kekeliruan.

Akhirnya, lagu Indonesia Raya tidak jadi dinyanyikan di ruang bioskop.

KOMENTAR FACEBOOK