Menjaga (tu)Lisan

Ilustrasi oleh Nourman Hidayat


Teman saya suatu hari mengaku sangat badmood. Gara-garanya sederhana saja. Ada orang yang membicarakan tentang dirinya di belakang. Di belakang? Lo, kok dia bisa tahu? Iya. Ada temannya yang menangkap layar perbincangan tersebut dan mengirimkan kepada teman saya itu.

Untuk mengusir perasaan badmood tersebut dia berniat berbelanja pakaian. Sayangnya pakaian yang ia taksir tak sesuai dengan ukuran badannya. Saya tidak berani menduga hal itu semakin memperburuk perasaannya hari itu.

Di lain waktu, teman yang lain pernah juga mengungkapkan perasaan yang kurang lebih sama. Suatu hari tanpa sengaja ia kesasar ke laman pribadi milik temannya. Lalu menemukan sebuah tulisan yang seolah-olah ditujukan untuk dirinya.

Ceritanya. Temannya tersebut bergerak di bidang jasa. Ia pernah bertanya beberapa hal mengenai layanan jasa tersebut yang berujung pada tanya-tanya harga. Namun karena harga yang ditawarkan tidak sesuai dengan kantongnya, ia menunda keinginan untuk menggunakan layanan jasa tersebut.

“Padahal saya sangat ingin, tapi apalah daya kantong belum mendukung. Masih banyak prioritas lain,” begitu kata teman saya saat itu. Alasan yang masuk akal.

Waktu pun berlalu. Sampai suatu hari entah bagaimana ia bisa menemukan tulisan itu. Setelah membacanya, ia menjadi sangat tidak nyaman. Dianggap telah mem-PHP-kan orang lain. Merasa bersalah telah mengecewakan karena tidak jadi menggunakan jasanya.

“Walaupun belum tentu tulisan itu untuk saya, tapi saya merasa karena pernah mengalami kejadian yang sama,” katanya lagi menghibur diri.

Dua cerita di atas hanya contoh kecil dari banyak kejadian serupa yang terjadi di sekitar kita. Saya. Anda. Siapa pun mungkin pernah mengalami hal serupa. Baik sebagai ‘pelaku’ atau sebagai ‘korban’. Baik secara sengaja atau di luar kesadaran karena keasyikan akibat tidak bisa mengendalikan jari-jemari.

Kehadiran perangkat teknologi yang didukung dengan berbagai aplikasi canggih telah memudahkan interaksi antarmanusia. Adanya informasi di hulu dalam sekejap akan sampai ke hilir. Pesan-pesan yang sejatinya perlu disampaikan secara lisan telah tergantikan dalam bentuk tulisan.

Saya masih ingat masa-masa sebelum ada perangkat teknologi bernama telepon seluler seperti sekarang. Almarhum ayah saya yang saat itu berdagang kelapa sawit, harus menempuh jarak hingga berpuluh-puluh kilometer untuk memberitahu para agen bila ada kenaikan harga tandan buah segar. Begitu juga para agen, bila barang sudah menumpuk, biasanya mereka akan menitipkan pesan dari mulut ke mulut atau turun langsung untuk memberi tahu. Sangat tidak efektif dan tidak efisien. Boros tenaga dan biaya.

Hadirnya perangkat teknologi telah menyelesaikan salah satu persoalan manusia dalam hal efisiensi berkomunikasi.

Selain dampak positif, tentunya juga ada dampak-dampak negatif yang ditimbulkan. Umumnya terjadi karena penggunanya masih labil. Belum bisa mengontrol diri secara bijak.

Kehadiran ponsel pintar, yang dilengkapi dengan aplikasi canggih tadi telah membuka celah sebagai ruang baru untuk manusia berkumpul. Dari tempat-tempat nongkrong secara kasat mata berpindah ke bilik-bilik chatting yang rahasia. Lapak-lapak bergunjing pun turut berpindah. Bila di kelompok-kelompok arisan hanya sempat membahas kulitnya saja, di grup-grup di dunia maya dikuliti habis-habisan. Tandas tak bersisa.

Gosip tersebar bukan lagi dari mulut ke mulut yang hinggap dari satu kuping ke kuping berikutnya, melainkan dari satu layar ke layar lain. Jangkauannya lebih luas. Awetnya juga tahan lama.

Bila punya masalah atau tak suka dengan seseorang, tulis dan sebar saja di media sosial. Seantero akan mengetahuinya. Begitu mudahnya aib seseorang tersebar.

Menggalang simpati dari orang lain juga lebih mudah. Tak perlu bertatap mata untuk menjelaskan. Cukup tulis kronologinya saja. Lalu sebarkan di berbagai forum diskusi. Yang teraniaya akan dibela habis-habisan. Yang menganiaya akan di-bully habis-habisan. Begitulah teknologi menjalankan perannya.

Kadang-kadang, kemudahan ini kerap membuat kita lalai dan lupa. Terutama dalam menjaga sikap dalam bentuk (tu)lisan. Saat marah dan kecewa pada orang lain misalnya, dengan mudahnya kita mengeluarkan ‘uneg-uneg’ di hati dengan langsung memencet tombol-tombol ajaib di gawai kita. Tanpa memberikan sedikit ruang pun untuk merenung.

Padahal marah pun ada adab-adabnya. Mulai dari menahan diri dengan berdiam, mengubah posisi ketika sedang marah, hingga berwudu atau mandi bila marah sudah tak sanggup dikendalikan.

Saat kesal itu kita lupa pada firman Allah yang menganjurkan menjaga lisan seperti yang diterakan di Alquran Surat Al Ahzab ayat 70-71. Lupa pada perintah untuk menutup aib orang lain. Lupa pada larangan menganiaya orang lain, sekalipun melalui tulisan.

Kita lupa, bahwa apa yang kita tulis itu bisa saja menyinggung perasaan orang lain. Membuat orang lain berprasangka buruk, terhadap kita atau terhadap orang lain. Kita lupa, bahwa yang kita tulis di bilik-bilik yang kita anggap rahasia itu bisa juga sampai ke telinga orang yang dimaksud. Selalu saja ada orang ‘baik’ yang akan menyampaikan, seperti yang dialami oleh salah satu teman saya di atas.

Semoga saja kita tidak lupa, bahwa tulisan-tulisan itu, nasibnya juga sama seperti lisan yang kita keluarkan. Kelak akan dimintai pertanggungjawaban.[]

KOMENTAR FACEBOOK