Puisi-puisi Ihan Sunrise: Cawan Hati

Ilustrasi@svgsilh.com

Cawan Hatiku

Untuk tahu sedalam apa hatiku menginginkanmu, kau cukup melihatku. Biarkan kerlip di mataku yang menjelaskan semuanya. Saat kita saling tersipu. Kita sudah tak butuh definisi apa pun tentang itu.

Kau pernah melihat kanvas yang dipenuhi warna-warna abstrak? Itulah aku. Tafsir kerumitan. Di baliknya ada makna yang dalam. Kau hadir untuk menyibak tabirnya. Menyingkap segala rahasia.

Hatiku adalah cawan. Kubiarkan kau menyeduh segalanya di sana. Kau menyebutnya nirwana. Tempat segala kebahagiaan berdiam. Kuizinkan kau meneguk setiap tetesnya. Merasakan manisnya.

Mengungkai belenggu. Membiarkan rasa beterbangan seperti kupu-kupu. Hinggap di pancaindra kita. Melumuri lubang pori dengan embun-embun. Membiarkan aroma melati menyusup ke celahnya.

Kau. Aku. Kita.

28 Januari 2018

Pahitmu Tak Sekadar Pahit

Terima kasih sudah berhasil membuatku gagal tidur selarut ini. Terima kasih sudah membuatku tak bisa lepas darimu. Mencandumu melebihi apa pun.

Bukan tak pernah aku mencoba, tetapi berusaha jauh darimu sepertinya usaha yang sia-sia. Nyatanya aku belum mampu.

Cuma kamu yang membuat adrenalinku jadi tidak teratur. Degup jantung yang berpacu hebat. Saat kutajamkan telingaku, detaknya mirip suara jam dinding.

Cuma kamu yang bisa membuat mataku terus terjaga. Dan, tentu saja, mata yang seharusnya terpejam itu pun melakukan konspirasi. Memaksa ingatan memunculkan berbagai kenangan.

Ah, kamu… Si hitam yang legit. Pahitmu tak sekadar pahit.[]

27 Januari 2018

Cintamu Menggerus Lelahku

Saat lelah membebat cuma satu yang membuat semuanya seketika menjadi lebih baik.

Kamu!

Membayangkan cintamu yang biru seperti parutan yang menggerus bongkahan-bongkahan padat
Luruh diterbangkan angin
Mendadak semuanya menjadi ringan
Membebaskan semua bebatan

Adakah yang lebih besar dari energi cinta?
Terima kasih sudah mengirimkannya untukku
Terima kasih sudah berbagi denganku
Terima kasih, Pagi-ku

Kutemukan sebuah kotak di beranda rumahku saat aku pulang tadi
Berbalut kertas putih mengkilap bercorak garis-garis hitam
Warna kesukaanmu, kan?
Kubuka dengan perlahan, sangat hati-hati, sebisa mungkin kuusahakan agar kertasnya tidak rusak

Dan… terbukalah kotak kecil itu
Menyembul sepotong senyum yang kau letakkan dengan rapi di dalamnya

Juga tanda bekas bibirmu yang merekah
Adakah kejutan seindah itu?
Bahkan angin rela menjadi kurirmu untuk mengantarkan hal semacam ini

Apakah angin juga akan mengabarkan padamu tentang sipu maluku?

19 Juli 2018

*Ihan Sunrise adalah jurnalis aceHTrend dan anggota Forum Aceh Menulis (FAMe). Mulai menulis puisi dan cerpen sejak 2006. Pecinta kopi dan selalu merindui Pagi.

KOMENTAR FACEBOOK