Ironi Guru Honorer yang Dikemas dengan Jenaka

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Tak sedikit orang yang tercemplung ke dunia perguruan bukan karena niat dan keinginan untuk menjadi guru, melainkan karena keadaan. Bisa juga seperti Riazul Iqbal Pauleta, alumnus Jurusan Tadris English (TEN) UIN Ar-Raniry yang semula tidak tahu bila jurusan itu akan mengantarnya pada profesi sebagai seorang guru.

Kenyataan itu membuatnya ‘kelabakan’ saat diterima sebagai guru honorer di salah satu SMA di Kota Sigli, Kabupaten Pidie. Rio –panggilan akrabnya– yang merasa tak punya bakat sebagai guru pun akhirnya terpaksa belajar kembali.

Meminjam istilah Rio di dalam bukunya Sudah Kubilang Jangan Jadi Guru, jika untuk menebang pohon dibutuhkan waktu enam jam, maka lima jam digunakan untuk mengasah kapak. Itulah yang ia lakukan. Sebelum mengajar di ruang kelas, Rio menghabiskan banyak waktu untuk belajar. Namun, sekarang sudah sudah ada gergaji mesin, untuk apalagi mengasah kapak? Itulah secuil kelucuan yang akan membuat kita senyum-senyum sendiri saat membaca buku ini.

Banyak ironi yang dialami Rio sebagai seorang guru honorer, tetapi mampu disajikan dalam narasi yang jenaka di dalam buku tersebut. Hal itu menjadi semacam konfirmasi mengenai ‘kabar angin’ yang selama ini kita dengar tentang nasib guru honorer dan dalam sistem pendidikan di Indonesia, khususnya di Aceh. Misalnya mengenai gaji guru honorer yang tidak dibayarkan berbulan-bulan dan pembocoran jawaban soal Ujian Nasional oleh oknum-oknum tertentu.

Hal itu terungkap dalam bedah buku Sudah Kubilang Jangan Jadi Guru karya Riazul Iqbal Pauleta yang dibuat oleh Forum Aceh Menulis (FAMe) di Aula Perpustakaan dan Kearsipan Aceh pada Jumat siang (1/2/2019).

Bedah buku ini menghadirkan dua pembedah, yaitu Ihan Nurdin selaku Wakil Pemimpin Redaksi aceHTrend dan Fardelyn Hacky Irawani selaku dosen dan bloger. Keduanya merupakan anggota FAMe dan telah lama bergiat di dunia literasi.

“Selama ini banyak guru honorer yang mungkin senasib dengan Rio, tetapi mereka takut untuk mengatakannya. Alasannya macam-macam, ada yang khawatir bergesekan dengan pihak sekolah. Ada juga yang khawatir akan sulit diangkat sebagai guru PNS. Namun Rio malah menyuguhkan hal itu sebagai karya,” ujar Ihan Nurdin dalam kesempatan itu.

Ihan mengapresiasi buku tersebut dari beberapa aspek, di antaranya dari segi sampul yang cukup nyaman dipandang mata. Selain itu, gaya penulisan yang jenaka membuat buku ini renyah dan tidak membuat kening berkerut saat membacanya.

Namun, Ihan juga memberikan beberapa catatan terkait isi buku seperti masih adanya kesalahan nalar, salah ketik, beberapa informasi yang tidak clear, dan data yang perlu dikoreksi.

Sedangkan Fardelyn Hacky lebih banyak mengulas secara teknis dengan mengoreksi langsung kesalahan-kesalahan yang ada.

Menurutnya, gaya jenaka yang dihadirkan dalam buku tersebut sangat mencerminkan karakter penulisnya. Namun ia mengingatkan, kejenakaan yang disajikan terlalu berlebihan bisa saja membuat pembaca menjadi tidak asyik lagi.

Begitu juga dengan pemilihan narasi-narasi yang bersifat candaan, seyogianya perlu diperhatikan agar tidak malah menyesatkan pembaca. Apalagi bila dibaca oleh anak-anak.

“Misalnya pada cerita rakaat ketiga salat Subuh. Sebenarnya untuk menunjukkan tidak ada lagi rakaat setelah rakaat kedua karena sudah ada salam. Namun, bila yang membacanya anak-anak seperti anak saya, dia akan menanyakan apakah ada rakaat ketiga dalam salat Subuh?”

Selain berisi tentang pengalaman penulis selama menjadi guru, buku ini juga dilengkapi dengan 15 tip menjadi guru dan 15 rekomendasi film bertema pendidikan. Buku ini disajikan dengan gaya populer dengan cara bertutur sehingga terasa renyah saat dibaca.[]

KOMENTAR FACEBOOK