Menggenggam Asa Syiarkan Islam di Tanah Uighur

Mahasiswa Uighur di Istanbul @ACT

ISTANBUL – Abdulhafiz (21) tampak tenang meninggalkan ruang ujian siang itu. Usai menyelesaikan ujian semester, ia mengisi waktu luangnya di perpustakaan kampus sambil menunggu ibadah salat Jumat. “Saya senang belajar ilahiyat,” tutur Abdulhafiz, mahasiswa asal Uighur yang kini kuliah di tingkat dua di Turki.

Hampir dua tahun lamanya mahasiswa Uighur ini mendalami ilahiyat, atau ilmu agama Islam, di kampus swasta yang ada di Istanbul, Turki. Jurusan ini pun bukan ia pilih tanpa sebab. Ada sebuah cita-cita besar yang ia genggam sejak usia dini, yakni menyiarkan dakwah Islam di tanah kelahirannya.

Abdulhafiz datang dari keluarga muslim. Ayahnya adalah seorang imam masjid, sementara kakak perempuannya pengajar Alquran. Dari ayahnya lah, Abdulhafiz belajar banyak tentang Islam hingga bertekad kuat untuk mengikuti jejak sang ayah.

Mewujudkan tekad tersebut di Urumqi, Xinjiang, nyatanya tidak semudah yang ia bayangkan. Fakta getir bergantian hadir di hadapan Abdulhafiz sebagai konsekuensi dari mempertahankan akidah dan menyiarkan dakwah. “Ayah saya dipenjara lima tahun karena memberi khotbah dan mengajar Alquran. Kakak perempuan saya, paman, dan kerabat saya juga dipenjara dengan alasan yang sama,” ungkap Abdulhafiz.

Meski sulit untuk mendalami ilmu agama Islam di perguruan tinggi publik di negaranya, tekad Abdulhafiz tidak mengendur. Ia memutuskan mempelajari ilmu syariah Islam langsung dari seorang ustaz Uighur di Urumqi, Xinjiang. Abdulhafiz mengisahkan, ia dan kawan-kawannya harus belajar di bawah tanah dengan alasan keamanan.

“Kami tidak ikut perkuliahan formal karena di sana tidak ada jurusan ilmu syariah Islam. Selain itu, jika berkuliah di sana, kami dibatasi ibadahnya (tidak bisa puasa, tidak bisa salat) atau bahkan dipaksa meninggalkan keyakinan agama kami. Makanya, setelah belajar dengan ustaz, kami melanjutkan kuliah di Mesir pada 2016 untuk mendalami agama Islam,” ungkap Abdulhafiz.

Abdulhafiz @ACT

Untuk setahun lamanya, Abdulhafiz bersama pelajar Uighur lainnya bebas menempuh pendidikan agama Islam di Mesir. Berbekal uang kiriman dari keluarga di Xinjiang, mereka bertahan hidup di Mesir dengan harapan bisa merampungkan studi mereka.

Ikhtiar para mahasiswa Uighur tersebut kembali terhalang masalah. Pada 2017, terjadi deportasi besar-besaran warga Uighur di Mesir, termasuk para mahasiswa Uighur. Abdulhafiz mengingat, banyak kawannya yang ditahan di Mesir. Sebagian berhasil keluar, namun sebagian yang lain dikembalikan ke Cina.

“Ada sekitar 30 yang dikembalikan ke Cina. Saya tidak tahu keadaan mereka di sana saat ini, apakah masih hidup atau sudah meninggal,” kata Abdulhafiz.

Komunikasi dengan keluarga pun terputus seketika. Baik Abdulhafiz maupun warga Uighur lainnya tak lagi dapat menghubungi keluarga mereka di Xinjiang. Pemutusan komunikasi ini juga mencakup embargo pengiriman barang/uang dari dan untuk masyarakat Uighur yang berada di Cina dan Mesir.

“Selama puluhan hari, bertahan dengan uang yang ada. Namun kondisi makin sulit untuk tetap bertahan di Mesir. Akhirnya, dibantu oleh ulama dan senior kami, kami pindah ke Turki di tahun yang sama (2017),” imbuh Abdulhafiz.

Saling menguatkan

“Hampir dua tahun kami di sini (Turki). Tapi ada juga yang sudah lebih dari itu,” terang Abdullah (28), rekan Abdulhafiz yang kini sama-sama menempuh studi ilahiyat di Istanbul. Tidak hanya satu kampus, mereka juga hidup di wisma mahasiswa Uighur yang sama.

Di wisma itu, terdapat 64 mahasiswa Uighur dengan rentang usia 17-30 tahun. Seluruhnya mengambil jurusan ilmu syariah Islam, dan ilmu Alquran serta hadis. Mengingat para mahasiswa tak lagi mendapatkan dukungan finansial dari keluarga mereka, kebutuhan hidup dan biaya kuliah mereka di Istanbul ditopang oleh para dermawan Uighur di Turki maupun di Timur Tengah.

Abdullah mengaku hal ini cukup menjadi tekanan tersendiri bagi para mahasiswa Uighur di Istanbul. Menurutnya, biaya hidup di Turki lebih mahal dibandingkan di Mesir. Ia dan mahasiswa Uighur lainnya tidak ingin merepotkan siapa pun. Namun, kondisi mereka tidak memungkinkan untuk bekerja sambilan dan memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri.

“Belum lagi terkadang ada kekhawatiran kepada keluarga di Turkistan Timur (Xinjiang). Apakah mereka baik-baik saja, apa mereka disakiti. Kami benar-benar tidak tahu,” ucap Abdullah tampak termenung. “Tapi, alhamdulillah di sini kami saling menguatkan,” imbuhnya.

Abdulhafiz dan Abdullah merupakan dua dari 100 mahasiswa yang mendapatkan bantuan biaya pendidikan dari masyarakat Indonesia pada akhir Januari lalu. Sucita Ramadinda dari Tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Uighur mengatakan, bantuan tersebut diberikan setelah melihat urgensi kebutuhan mahasiswa Uighur di sana.

“Setelah kami tinjau, biaya pendidikan menjadi kebutuhan mendesak mereka. Alhamdulillah, amanah masyarakat Indonesia kepada ACT telah disalurkan dalam bentuk beasiswa bagi 100 mahasiswa Uighur yang paling membutuhkan,” kata Suci.

Menyiarkan Islam di Tanah Uighur

Masih ada dua hingga tiga tahun lagi bagi Abdulhafiz dan Abdullah untuk merampungkan studinya di Istanbul. Harapan dan tekad mereka untuk menyiarkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin masih tersimpan kuat.

“Kami bertawakal kepada Allah, kami tidak tahu hidup sampai kapan. Tujuan kami kuliah bukan berorientasi pada materi, tapi untuk menyiarkan Islam di seluruh penjuru dunia, terkhususnya di Turkistan Timur (Xinjiang),” tegas Abdullah.

“Kami berharap bisa kembali ke Turkistan Timur untuk menyiarkan dakwah Islam. Ini mimpi terbesar kami. Dan kalau kami tidak bisa balik ke sana, kami akan melanjutkan pendidikan di Turki sampai benar-benar khatam pelajaran syariah Islam ini,” imbuh Abdulhafiz.

Harapan tersebut terus mereka pupuk di negeri suaka. Satu hal yang semakin membuat mereka optimis, dukungan besar masyarakat Indonesia untuk Uighur akan menjadi bahan bakar bagi perjuangan mereka menyiarkan dakwah Islam seluas-luasnya.[]

Artikel ini kerja sama dengan Aksi Cepat Tanggap

KOMENTAR FACEBOOK